
SAHABATKU AMANDA
(Christin Banusu)
Masih teringat jelas dalam benakku, pertemuanku dengan
perempuan berambut panjang bernama Amanda saat kami masih duduk di bangku kelas
1 SD. Kami sama-sama pemalu dan canggung untuk berkenalan namun berjalannya
waktu, kami mulai mengenal satu sama lain dan menjadi teman akrab.
Setiap hari kami selalu belajar dan
bermain Bersama. Setiap pulang sekolah kami selalu menyempatkan waktu untuk
bermain bersama di rumahku.
Pertemanan kami berlanjut hingga SMP. Walaupun berbeda kelas
namun setiap hari kami selalu bertukar kabar dan saling mendukung. Dari
banyaknya manusia di bumi ini, aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dengannya. Amanda
adalah sosok orang yang tidak pernah menganggapku sebagai saingannya. Justru ia
selalu ingin aku menjadi lebih baik dari pada sebelumnya. Dia setia
mendengarkan segala ceritaku, mulai dari masalah keluarga, masalah di sekolah, hingga
masalah percintaanku.
Namun pada saat masuk SMA, kami pisah sekolah. Manda mengikuti
kemauan orang tuanya untuk bersekolah di kota. Sebelum pergi ia menyempatkan
diri untuk menemuiku untuk memberi tahu bahwa ia ingin bersekolah ke kota.
"Juliet, aku ingin
melanjutkan sekolah ke kota, dan akan tinggal di asrama jadi mungkin
kesempatan untuk kita bertemu tidak ada harus menunggu liburan".
Mendengarnya, membuat hati sangat sedih bagaimana mungkin
aku menjalani hari-hariku tanpanya? Aku menjawabnya.
"Kenapa baru sekarang memberi tahuku. Apakah kamu ingin
meninggalku sendiri, aku tidak mau, kamu harus tetap di sini dan melanjutkan
sekolah bersama-sama denganku", ucapku.
"Tidak bisa, Julieta, rasanya
berat bagiku meninggalkanmu namun aku tidak mungkin membantah keinginan orang
tuaku", jawab Manda.
Mendengar pernyataannya, aku pun hanya terdiam dan
menyetujuinya melanjutkan sekolahnya di kota. Kami memang selalu sejalan
dalam berbagai hal namun perihal masa depan ditentukan oleh diri sendiri bukan
orang lain. Jadi aku merelakannya mengejar impiannya. Aku selalu mendoakan yang
terbaik untuknya dan berharap segalanya mimpinya dapat menjadi kenyataan.
Pagi itu rasanya beda sekali. Biasanya setiap pagi aku selalu
bertemu Manda di sekolah namun kali ini berbeda. Aku mengambil handphone dan
mengecek barangkali ada pesan darinya, ia mengirim pesan padauk.
"Selamat pagi bestieku, semangat ya, walaupun kita tidak
bersama lagi tapi aku yakin kita akan tetap menjadi sahabat
selamanya".
Membaca pesannya, membuatku menangis. Akupun lalu langsung
menelponnya.
"Hay Manda, bagaimana di sana? Apakah kamu sudah mendapat
teman baru?" ucapku.
"Julieta aku memang sudah mendapatkan teman baru namun
pertemanan kita tidak tidak akan aku lupakan, aku tidak akan melupakanmu",
jawab Manda.
Aku terharu mendengarnya. Aku memang sangat takut kehilangan
sahabat baik sepertinya. Itulah sebabnya aku sedikit khawatir jika ia menemukan
teman baru.
"Janji ya, kita akan selalu bersama."
"Janji Julieta", dengan
nada yang mengemaskan.
Memang terkadang pertemuan dan perpisahan terjadi begitu cepat. Namun
perasaan tinggal begitu lama. Kami berdua menjalani kehidupan yang
berbeda. Kami hanya bertukar kabar melalui telepon atau pesan singkat jika
tidak ada kesibukan. Namun tetap saja persahabatan kami sudah tidak seperti
dulu lagi. Kadang aku merindukan kenangan kami di waktu SD dan SMP. Tapi tak
apa, jarak bukan menjadi halangan untuk persahabatan aku dan Amanda, karena
kami adalah sahabat selamanya.
Dari amanda "aku belajar, tidak semua rumah berbentuk rumah, dan tidak semua saudara harus sedarah".
Tag
Berita Terkait

Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru





Jajak Pendapat Online
