• Hari ini: April 05, 2025

SAHABATKU AMANDA

05 April, 2025
169

SAHABATKU AMANDA

(Christin Banusu)

 

Masih teringat jelas dalam benakku, pertemuanku dengan perempuan berambut panjang bernama Amanda saat kami masih duduk di bangku kelas 1 SD. Kami sama-sama pemalu dan canggung untuk berkenalan namun berjalannya waktu, kami mulai mengenal satu sama lain dan menjadi teman akrab.

            Setiap hari kami selalu belajar dan bermain Bersama. Setiap pulang sekolah kami selalu menyempatkan waktu untuk bermain bersama di rumahku. 

Pertemanan kami berlanjut hingga SMP. Walaupun berbeda kelas namun setiap hari kami selalu bertukar kabar dan saling mendukung. Dari banyaknya manusia di bumi ini, aku bersyukur Tuhan mempertemukanku dengannya. Amanda adalah sosok orang yang tidak pernah menganggapku sebagai saingannya. Justru ia selalu ingin aku menjadi lebih baik dari pada sebelumnya. Dia setia mendengarkan segala ceritaku, mulai dari masalah keluarga, masalah di sekolah, hingga masalah percintaanku.

Namun pada saat masuk SMA, kami pisah sekolah. Manda mengikuti kemauan orang tuanya untuk bersekolah di kota. Sebelum pergi ia menyempatkan diri untuk menemuiku untuk memberi tahu bahwa ia ingin bersekolah ke kota. 

            "Juliet, aku ingin melanjutkan sekolah ke kota, dan akan tinggal di asrama jadi mungkin kesempatan untuk kita bertemu tidak ada harus menunggu liburan".

Mendengarnya, membuat hati sangat sedih bagaimana mungkin aku menjalani hari-hariku tanpanya? Aku menjawabnya.

"Kenapa baru sekarang memberi tahuku. Apakah kamu ingin meninggalku sendiri, aku tidak mau, kamu harus tetap di sini dan melanjutkan sekolah bersama-sama denganku",  ucapku.  

            "Tidak bisa, Julieta, rasanya berat bagiku meninggalkanmu namun aku tidak mungkin membantah keinginan orang tuaku", jawab Manda.

Mendengar pernyataannya, aku pun hanya terdiam dan menyetujuinya melanjutkan sekolahnya di kota. Kami memang selalu sejalan dalam berbagai hal namun perihal masa depan ditentukan oleh diri sendiri bukan orang lain. Jadi aku merelakannya mengejar impiannya. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya dan berharap segalanya mimpinya dapat menjadi kenyataan.

Pagi itu rasanya beda sekali. Biasanya setiap pagi aku selalu bertemu Manda di sekolah namun kali ini berbeda. Aku mengambil handphone dan mengecek barangkali ada pesan darinya, ia mengirim pesan padauk. 

"Selamat pagi bestieku, semangat ya, walaupun kita tidak bersama lagi tapi aku yakin kita akan tetap menjadi sahabat selamanya".  

Membaca pesannya, membuatku menangis. Akupun lalu langsung menelponnya.

"Hay Manda, bagaimana di sana? Apakah kamu sudah mendapat teman baru?" ucapku.

"Julieta aku memang sudah mendapatkan teman baru namun pertemanan kita tidak tidak akan aku lupakan, aku tidak akan melupakanmu", jawab Manda.

Aku terharu mendengarnya. Aku memang sangat takut kehilangan sahabat baik sepertinya. Itulah sebabnya aku sedikit khawatir jika ia menemukan teman baru.

"Janji ya, kita akan selalu bersama."

            "Janji Julieta", dengan nada yang mengemaskan.

Memang terkadang pertemuan dan perpisahan terjadi begitu cepat. Namun perasaan tinggal begitu lama. Kami berdua menjalani kehidupan yang berbeda. Kami hanya bertukar kabar melalui telepon atau pesan singkat jika tidak ada kesibukan. Namun tetap saja persahabatan kami sudah tidak seperti dulu lagi. Kadang aku merindukan kenangan kami di waktu SD dan SMP. Tapi tak apa, jarak bukan menjadi halangan untuk persahabatan aku dan Amanda, karena kami adalah sahabat selamanya.

    Dari amanda "aku belajar, tidak semua rumah berbentuk rumah, dan tidak semua saudara harus sedarah".

Tag