
WAKTU DAN THOMAS AQUINAS
(K. Ukat)
Menjelang pukul 23.00, di sebuah kamar asrama yang dihuni oleh beberapa mahasiswi, terdengar alunan musik yang semakin memecah kesunyian malam. Musik itu tidak hanya terdengar, tetapi juga menggoda beberapa mahasiswi lainnya untuk bergabung dan bernyanyi bersama di tengah malam yang semakin larut. Suasana yang semula hening berubah menjadi hingar-bingar. Di kamar lain, sebagian besar penghuni asrama berusaha memanfaatkan waktu malam untuk mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk. Namun, kamar yang penuh dengan kegembiraan itu tak kunjung sepi. Sebuah fenomena nyata tentang ketidakpedulian terhadap waktu, terutama di saat-saat yang sebenarnya sangat berharga.
Sungguh ironis,
di tengah sempitnya waktu yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, banyak yang
justru memilih untuk menyia-nyiakannya dalam kegiatan yang tidak produktif.
Dalam kasus ini, kegembiraan yang dibangun di sekitar musik dan nyanyian malam
itu tampak menggoda, menawarkan kesenangan jangka pendek, sementara tugas
kuliah yang tak kunjung selesai mengancam penilaian dan masa depan akademik.
Ini bukan sekadar soal kebisingan, tetapi tentang pilihan seorang mahasiswa untuk
menggunakan waktu secara efektif.
Thomas Aquinas,
yang pestanya diperingati hari ini, seorang filsuf dan teolog abad pertengahan,
banyak mempengaruhi pemikiran Kristen dan Barat, memberikan pandangan mendalam
tentang waktu dalam karyanya Summa Theologica. Dalam pandangannya, waktu
adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada umat manusia untuk mencapai
kebaikan yang lebih besar, dan setiap momen yang berlalu adalah kesempatan yang
tidak dapat diulang. Dalam Summa Theologica (I, q. 1, a. 9), Aquinas
menjelaskan bahwa "waktu adalah ukuran gerak menurut yang lebih awal dan
lebih akhir, dan karena itu terkait dengan penciptaan dunia, yang juga
merupakan bagian dari urutan yang lebih besar menuju tujuan akhir manusia."
Bagi Aquinas,
waktu bukan hanya sekadar kronologi atau urutan, aliran detik demi detik. Waktu
adalah sarana untuk mengejar tujuan akhir yang lebih luhur, yaitu keselamatan
jiwa. Waktu merupakan saat kairos, saat keselamatan. Ini berarti, dalam
pandangan Aquinas, waktu dipergunakan untuk kegiatan yang mendekatkan diri
kepada Tuhan dan kebaikan moral. Sebagai mahasiswa, waktu yang dimiliki
seharusnya dimanfaatkan untuk belajar, berkembang dan mengejar pengetahuan yang
dapat membantu mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi.
Aquinas
menekankan bahwa “setiap orang harus menggunakan waktu dengan cara yang
mengarah pada keselamatan jiwa, yang merupakan tujuan utama kehidupan manusia”
(Summa Theologica, II-II, q. 10, a. 1). Menurutnya, salah satu bentuk
pelanggaran terhadap kebajikan adalah pemborosan waktu. Waktu tidak digunakan
untuk hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. Dalam hal ini, kegiatan yang
mengarah pada kesenangan sementara, seperti yang digambarkan dalam ilustrasi awal,
bukanlah cara yang bijak untuk mengelola waktu yang diberikan Tuhan.
Fenomena
seperti yang terjadi di kamar asrama tersebut bukan hanya soal kebisingan atau
gangguan terhadap orang lain, tetapi tentang pilihan gaya hidup yang meremehkan
nilai waktu. Mahasiswa yang terjebak dalam kesenangan sementara, sebenarnya
sedang menunda kemajuan dirinya sendiri. Mahasiswa mengabaikan tugas-tugas
akademik yang seharusnya menjadi prioritasnya. Dalam jangka panjang, hal ini
dapat berakibat pada penurunan kualitas pendidikannya, yang pada gilirannya
akan berdampak pada masa depannya.
Dampak negatif
tidak berhenti di situ saja. Ketika kegembiraan itu mengganggu ketenangan orang
lain yang berusaha belajar atau beristirahat, sebenarnya menunjukkan bentuk
ketidakpedulian terhadap hak dan kenyamanan orang lain. Kegiatan yang berisik
dan mengganggu seperti itu, menciptakan atmosfer tidak kondusif untuk
produktivitas dan kesehatan mental. Mahasiswa yang fokus pada kesenangan
pribadi seringkali tidak menyadari bahwa kebebasannya untuk bersenang-senang
dapat mengganggu orang lain yang juga memiliki tanggung jawab, terutama dalam
ruang bersama seperti asrama yang dihuni oleh banyak orang dengan kebutuhan
yang berbeda.
Aquinas
memperingatkan bahwa “orang yang membuang-buang waktunya dalam kesenangan
duniawi tanpa tujuan yang lebih tinggi akan mendapati dirinya jauh dari tujuan
hidup yang sebenarnya, yaitu kebahagiaan yang hakiki” (Summa Theologica,
II-II, q. 3, a. 4). Ketika mahasiswa lebih tertarik pada hiburan sesaat
daripada menjalankan kewajiban akademik, ia bukan hanya menyia-nyiakan
kesempatan untuk belajar, tetapi merusak peluang mereka untuk tumbuh sebagai pribadi
yang lebih baik dan berkontribusi pada masyarakat.
Gangguan yang
ditimbulkan oleh perilaku semacam itu dapat merusak keharmonisan komunitas
asrama. Penghuni asrama harusnya bisa hidup berdampingan, saling menghargai dan
memahami kebutuhan satu sama lain, terutama dalam hal ketenangan dan waktu
pribadi. Dalam hal ini, penting untuk mengingat bahwa waktu adalah sumber daya
bersama yang harus dipertimbangkan dengan bijak, tidak hanya untuk kepentingan
diri sendiri tetapi untuk kenyamanan dan ketenangan orang lain.
Jika fenomena
ini terus berkembang tanpa ada kesadaran yang lebih mendalam, maka akan tercipta
generasi yang tidak tahu menghargai waktu, generasi yang lebih mengutamakan
kesenangan daripada tanggung jawab. Kita harus bertanya pada diri sendiri:
Apakah kita ingin menjadi bagian dari generasi yang kehilangan masa depan karena
menunda-nunda? Ataukah kita ingin menjadi generasi yang menghargai waktu, yang
menyadari bahwa setiap detik adalah peluang untuk belajar, berkembang, dan
memberikan kontribusi positif pada dunia?
Mahasiswa, sepantasnya
memiliki tanggung jawab besar untuk mengelola waktu dengan bijak. Waktu adalah
sesuatu yang tidak bisa dibeli atau diperoleh kembali setelah ia berlalu. Orang
harus belajar untuk menggunakan waktu dengan bijak, untuk belajar, untuk
tumbuh, dan untuk berkontribusi pada kebaikan yang lebih besar.
Dalam ajaran
Thomas Aquinas, waktu adalah karunia Tuhan yang harus digunakan untuk mengejar
kebaikan dan tujuan yang lebih mulia. Mahasiswa, sebagai generasi penerus
bangsa, harus bisa membedakan antara hiburan jangka pendek dan kemajuan jangka
panjang. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Hanya dengan menghargainya,
seseorang dapat mencapai potensi penuh dan dapat memberi dampak positif bagi
masyarakat dan dunia. Orang harus menghargai waktu orang lain, karena
ketenangan dan ruang pribadi adalah hak setiap individu. Penggunaan waktu yang
bijak bukan hanya mencerminkan kedewasaan pribadi, tetapi juga sikap hormat
terhadap orang lain yang hidup dalam komunitas yang sama.
Tag
Berita Terkait

Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru





Jajak Pendapat Online
