• Hari ini: April 03, 2025

WAKTU DAN THOMAS AQUINAS

03 April, 2025
207

WAKTU DAN THOMAS AQUINAS

(K. Ukat)


Menjelang pukul 23.00, di sebuah kamar asrama yang dihuni oleh beberapa mahasiswi, terdengar alunan musik yang semakin memecah kesunyian malam. Musik itu tidak hanya terdengar, tetapi juga menggoda beberapa mahasiswi lainnya untuk bergabung dan bernyanyi bersama di tengah malam yang semakin larut. Suasana yang semula hening berubah menjadi hingar-bingar. Di kamar lain, sebagian besar penghuni asrama berusaha memanfaatkan waktu malam untuk mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk. Namun, kamar yang penuh dengan kegembiraan itu tak kunjung sepi. Sebuah fenomena nyata tentang ketidakpedulian terhadap waktu, terutama di saat-saat yang sebenarnya sangat berharga.

Sungguh ironis, di tengah sempitnya waktu yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, banyak yang justru memilih untuk menyia-nyiakannya dalam kegiatan yang tidak produktif. Dalam kasus ini, kegembiraan yang dibangun di sekitar musik dan nyanyian malam itu tampak menggoda, menawarkan kesenangan jangka pendek, sementara tugas kuliah yang tak kunjung selesai mengancam penilaian dan masa depan akademik. Ini bukan sekadar soal kebisingan, tetapi tentang pilihan seorang mahasiswa untuk menggunakan waktu secara efektif.

Thomas Aquinas, yang pestanya diperingati hari ini, seorang filsuf dan teolog abad pertengahan, banyak mempengaruhi pemikiran Kristen dan Barat, memberikan pandangan mendalam tentang waktu dalam karyanya Summa Theologica. Dalam pandangannya, waktu adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada umat manusia untuk mencapai kebaikan yang lebih besar, dan setiap momen yang berlalu adalah kesempatan yang tidak dapat diulang. Dalam Summa Theologica (I, q. 1, a. 9), Aquinas menjelaskan bahwa "waktu adalah ukuran gerak menurut yang lebih awal dan lebih akhir, dan karena itu terkait dengan penciptaan dunia, yang juga merupakan bagian dari urutan yang lebih besar menuju tujuan akhir manusia."

Bagi Aquinas, waktu bukan hanya sekadar kronologi atau urutan, aliran detik demi detik. Waktu adalah sarana untuk mengejar tujuan akhir yang lebih luhur, yaitu keselamatan jiwa. Waktu merupakan saat kairos, saat keselamatan. Ini berarti, dalam pandangan Aquinas, waktu dipergunakan untuk kegiatan yang mendekatkan diri kepada Tuhan dan kebaikan moral. Sebagai mahasiswa, waktu yang dimiliki seharusnya dimanfaatkan untuk belajar, berkembang dan mengejar pengetahuan yang dapat membantu mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi.

Aquinas menekankan bahwa “setiap orang harus menggunakan waktu dengan cara yang mengarah pada keselamatan jiwa, yang merupakan tujuan utama kehidupan manusia” (Summa Theologica, II-II, q. 10, a. 1). Menurutnya, salah satu bentuk pelanggaran terhadap kebajikan adalah pemborosan waktu. Waktu tidak digunakan untuk hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. Dalam hal ini, kegiatan yang mengarah pada kesenangan sementara, seperti yang digambarkan dalam ilustrasi awal, bukanlah cara yang bijak untuk mengelola waktu yang diberikan Tuhan.

Fenomena seperti yang terjadi di kamar asrama tersebut bukan hanya soal kebisingan atau gangguan terhadap orang lain, tetapi tentang pilihan gaya hidup yang meremehkan nilai waktu. Mahasiswa yang terjebak dalam kesenangan sementara, sebenarnya sedang menunda kemajuan dirinya sendiri. Mahasiswa mengabaikan tugas-tugas akademik yang seharusnya menjadi prioritasnya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berakibat pada penurunan kualitas pendidikannya, yang pada gilirannya akan berdampak pada masa depannya.

Dampak negatif tidak berhenti di situ saja. Ketika kegembiraan itu mengganggu ketenangan orang lain yang berusaha belajar atau beristirahat, sebenarnya menunjukkan bentuk ketidakpedulian terhadap hak dan kenyamanan orang lain. Kegiatan yang berisik dan mengganggu seperti itu, menciptakan atmosfer tidak kondusif untuk produktivitas dan kesehatan mental. Mahasiswa yang fokus pada kesenangan pribadi seringkali tidak menyadari bahwa kebebasannya untuk bersenang-senang dapat mengganggu orang lain yang juga memiliki tanggung jawab, terutama dalam ruang bersama seperti asrama yang dihuni oleh banyak orang dengan kebutuhan yang berbeda.

Aquinas memperingatkan bahwa “orang yang membuang-buang waktunya dalam kesenangan duniawi tanpa tujuan yang lebih tinggi akan mendapati dirinya jauh dari tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu kebahagiaan yang hakiki” (Summa Theologica, II-II, q. 3, a. 4). Ketika mahasiswa lebih tertarik pada hiburan sesaat daripada menjalankan kewajiban akademik, ia bukan hanya menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar, tetapi merusak peluang mereka untuk tumbuh sebagai pribadi yang lebih baik dan berkontribusi pada masyarakat.

Gangguan yang ditimbulkan oleh perilaku semacam itu dapat merusak keharmonisan komunitas asrama. Penghuni asrama harusnya bisa hidup berdampingan, saling menghargai dan memahami kebutuhan satu sama lain, terutama dalam hal ketenangan dan waktu pribadi. Dalam hal ini, penting untuk mengingat bahwa waktu adalah sumber daya bersama yang harus dipertimbangkan dengan bijak, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk kenyamanan dan ketenangan orang lain.

Jika fenomena ini terus berkembang tanpa ada kesadaran yang lebih mendalam, maka akan tercipta generasi yang tidak tahu menghargai waktu, generasi yang lebih mengutamakan kesenangan daripada tanggung jawab. Kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita ingin menjadi bagian dari generasi yang kehilangan masa depan karena menunda-nunda? Ataukah kita ingin menjadi generasi yang menghargai waktu, yang menyadari bahwa setiap detik adalah peluang untuk belajar, berkembang, dan memberikan kontribusi positif pada dunia?

Mahasiswa, sepantasnya memiliki tanggung jawab besar untuk mengelola waktu dengan bijak. Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli atau diperoleh kembali setelah ia berlalu. Orang harus belajar untuk menggunakan waktu dengan bijak, untuk belajar, untuk tumbuh, dan untuk berkontribusi pada kebaikan yang lebih besar.

Dalam ajaran Thomas Aquinas, waktu adalah karunia Tuhan yang harus digunakan untuk mengejar kebaikan dan tujuan yang lebih mulia. Mahasiswa, sebagai generasi penerus bangsa, harus bisa membedakan antara hiburan jangka pendek dan kemajuan jangka panjang. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Hanya dengan menghargainya, seseorang dapat mencapai potensi penuh dan dapat memberi dampak positif bagi masyarakat dan dunia. Orang harus menghargai waktu orang lain, karena ketenangan dan ruang pribadi adalah hak setiap individu. Penggunaan waktu yang bijak bukan hanya mencerminkan kedewasaan pribadi, tetapi juga sikap hormat terhadap orang lain yang hidup dalam komunitas yang sama.

Tag