
PENDIDIKAN BERBASIS TUJUH TANDA
(K. Ukat)
Pendidikan merupakan
proses yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan
sikap seseorang melalui pengajaran, pelatihan dan pengalaman. Pendidikan tidak
hanya terbatas pada pembelajaran akademis tetapi juga mencakup aspek sosial,
emosional dan moral, yang membentuk seseorang mampu berkontribusi secara
positif dalam masyarakat. Tempatnya bisa di sekolah, rumah, masyarakat, atau
bahkan melalui pengalaman hidup. Selain itu, pendidikan sebagai sarana untuk
mempersiapkan manusia agar siap menghadapi tantangan di dunia kerja, memperluas
wawasan serta membentuk karakter dan kepribadian yang baik. Salah
satu tempat pendidikan adalah kampus. Proses pendidikan seorang mahasiswa tidak
hanya mencakup pencapaian akademis, tetapi juga pembentukan karakter yang
matang untuk menghadapi tantangan dunia nyata sebagai ruang belajar untuk
kehidupan.
Saya
coba memberikan sebuah gagasan kecil (semoga bermanfaat) tentang pendidikan
dengan berpatokan pada kekhasan yang ada dalam Gereja Katolik, yakni tujuh
tanda atau sakramen. Bisa digunakan di berbagai jenjang pendidikan: SD-SMP-SMA-PT, sesuai konteks masing-masing. Saya coba mengulasnya dalam konteks Perguruan Tinggi. Mungkin gagasan ini lebih cocok bagi mahasiswa yang
beragama Katolik dan syukurlah bagi mereka yang bukan beragama Katolik tetapi
memiliki kehendak yang baik untuk dibentuk melalui proses ini. Sakramen dalam
Gereja Katolik merupakan tanda-tanda yang terlihat dan nyata yang diberikan oleh
Allah untuk memberikan rahmat-Nya kepada umat manusia. Sakramen dianggap
sebagai sarana untuk memperoleh anugerah ilahi dan mendekatkan umat kepada
Tuhan. Katekismus
Gereja Katolik, Pasal 1131 menjelaskan bahwa sakramen adalah
"tanda-tanda yang kelihatan dan nyata yang mendatangkan rahmat yang
dimaksudkan." Sakramen sebagai sarana yang digunakan oleh Tuhan untuk
memberikan rahmat-Nya kepada umat manusia dan untuk membangun Gereja sebagai Tubuh
Kristus. Gereja Katolik memiliki tujuh tanda keselamatan atau sakramen yakni
Permandian, Tobat, Ekaristi, Krisma, Imamat, Perkawinan dan Pengurapan Orang
Sakit atau Minyak Suci.
Dalam konteks Gereja Katolik, pola pembinaan berbasis tujuh sakramen memiliki relevansi yang sangat mendalam dalam menemani mahasiswa selama masa studi delapan semester. Pola pendidikan dan pembinaan ini mengintegrasikan aspek kerohanian, pengembangan kepribadian, dan nilai-nilai moral yang membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang jujur, kreatif, mandiri, dan dewasa. Seperti yang diungkapkan oleh Paulo Freire, tokoh pendidikan Brasil, pendidikan sejati adalah proses yang membebaskan dan membentuk individu menjadi lebih manusiawi, tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan karakter. Tujuh sakramen dalam Gereja Katolik dapat menjadi alat untuk mengarahkan pendidikan dan pembinaan ini dalam kehidupan mahasiswa.
Baptisan sebagai pintu gerbang iman menjadi dasar yang kuat bagi mahasiswa untuk memahami makna hidup bersama dalam komunitas. Pembinaan berbasis baptisan mengingatkan mahasiswa bahwa mereka adalah bagian dari Tubuh Kristus, yang melampaui batasan-batasan akademis dan sosial. Sebagaimana dikatakan oleh St. Paulus dalam 1Korintus 12:27, "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan anggota-anggota-Nya," mahasiswa diajak untuk hidup dalam persatuan, menghargai perbedaan dan membangun kerjasama yang sehat dalam kehidupan kampus. Hal ini sejalan dengan pandangan John Dewey, filsuf pendidikan yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam proses belajar. Dewey berpendapat bahwa pendidikan harus mendukung pengembangan kemampuan sosial dan karakter melalui pengalaman-pengalaman yang bermakna. Dalam konteks ini, mahasiswa yang dibina melalui sakramen baptisan belajar untuk berperan aktif dalam kehidupan komunitas akademis, bukan hanya untuk meraih tujuan pribadi, tetapi untuk membangun hubungan yang saling menguatkan dengan sesama.
Sakramen Krisma memainkan peran penting dalam perjalanan pendidikan mahasiswa, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan dan godaan. Sakramen ini mengajarkan pentingnya kedewasaan, keteguhan iman dan keberanian dalam mengambil keputusan, baik dalam kehidupan akademik maupun sosial. Hal ini sejalan dengan pemikiran Thomas Aquinas, teolog dan filsuf Katolik, yang mengajarkan bahwa kebajikan seperti keberanian dan ketekunan merupakan fondasi penting dalam kehidupan manusia. Dalam bukunya Summa Theologica, Aquinas menekankan bahwa manusia, selain beriman, tetapi harus memiliki kebajikan untuk menghadapi kesulitan hidup dengan teguh. Krisma, dengan berkat Roh Kudus, memberi mahasiswa kekuatan untuk tetap teguh dalam menghadapi ujian-ujian hidup, seperti tekanan akademis, keraguan diri, dan konflik moral.
Sakramen Ekaristi memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk nilai-nilai luhur bagi mahasiswa. Dalam penghayatan Ekaristi, mahasiswa diajak menghidupi kasih dan pengorbanan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. "Aku ini adalah roti hidup," kata Yesus dalam Injil Yohanes 6:35, mengingatkan kita bahwa Ekaristi tidak hanya tentang perjamuan, tetapi juga tentang menghayati setiap momen kehidupan dengan penuh kasih dan pengabdian. Hal ini sangat relevan bagi mahasiswa yang menghadapi kesulitan, baik dalam studi maupun hubungan interpersonal. Seperti yang ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium, sakramen Ekaristi mengajarkan kita untuk menjadi saksi kasih dan kedamaian di dunia yang seringkali penuh konflik. Melalui Ekaristi, mahasiswa tidak hanya diperkuat dalam iman, tetapi dipanggil untuk menjadi pembawa damai dan berani memperjuangkan kebenaran di tengah masyarakat.
Sakramen Tobat adalah sarana untuk mendalami proses pertobatan dan pembaruan diri. Mahasiswa seringkali menghadapi kegagalan dan kesalahan selama perjalanan studinya. Dalam menghadapi kegagalan akademik atau kekeliruan pribadi, sakramen tobat mengajarkan pentingnya kejujuran dan pertobatan. Filsuf Jerman, Martin Heidegger, mengatakan bahwa proses pembelajaran sejati adalah proses yang melibatkan refleksi diri, kesadaran akan kekurangan dan tekad untuk memperbaiki diri. Melalui sakramen tobat, mahasiswa belajar untuk tidak hanya mengakui kesalahan tetapi bangkit dan memperbaiki diri. Banyak kasus terjadi seperti putus kuliah, kuliah yang lama dan kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa akibat dari tenggelam dalam kesalahan dan kurangnya tekat berefleksi dan memperbaiki diri. Pola pendidikan perspektif Sakramen Tobat, sesungguhnya mengarah pada pengembangan sikap kedewasaan yang sangat penting dalam kehidupan profesionalnya nanti.
Sakramen Pengurapan Orang Sakit, meskipun secara langsung berfokus pada penderitaan fisik, juga mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya ketabahan dan pengharapan dalam menghadapi kesulitan. Dalam Lumen Gentium, dikatakan bahwa pengurapan orang sakit memberikan penghiburan spiritual bagi mereka yang sedang menderita. Bagi mahasiswa, sakramen ini mengingatkan mereka bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya, bahkan dalam keadaan paling sulit sekalipun. Mahasiswa yang memahami nilai sakramen ini akan lebih mampu untuk menghadapi tekanan hidup dengan ketenangan batin dan rasa syukur, serta mampu mendukung dan memotivasi teman-teman yang sedang mengalami berbagai kesulitan, di antaranya, keuangan, tugas kuliah, pergaulan, komunikasi dalam berinteraksi dengan yang lain.
Sedangkan berkaitan dengan Sakramen Tabisan memang berkaitan dengan imam. Namun nilai dari sakramen ini mengajarkan tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Meskipun tidak semua mahasiswa dipanggil untuk menjadi imam, diakon atau uskup, tetapi nilai-nilai kepemimpinan yang terkandung dalam tabisan sangat relevan bagi mahasiswa. Sebagaimana dikatakan dalam Kitab Kebijaksanaan 6:1-11, seorang pemimpin harus memiliki kebijaksanaan, keteguhan dan tanggung jawab yang besar. Mahasiswa yang dibina dengan nilai-nilai ini akan lebih siap untuk memimpin, baik dalam kelompok studi, organisasi kampus, maupun kelak dalam dunia profesional. Selain itu Sakramen Perkawinan. Sakramen Perkawinan untuk menyatukan satu orang laki-laki dan satu orang perempuan dalam ikatan suci sebagai suami istri. Kampus bukanlah tempat untuk mempercepat ikatan tersebut, tetapi nilai sakramen ini mengajarkan mahasiswa tentang komitmen dan kesetiaan. Dalam dunia yang semakin mengutamakan individualisme, sakramen ini mengingatkan mahasiswa tentang pentingnya menjaga hubungan yang saling mendukung dan penuh kasih. Paus Yohanes Paulus II dalam Familiaris Consortio, mengatakan perkawinan adalah panggilan untuk menghidupi kasih yang setia dan saling menguatkan. Mahasiswa yang memahami nilai-nilai ini akan membangun relasi yang sehat, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional, dengan dasar kesetiaan dan pengorbanan.
Pendidikan dan pembinaan berbasis tujuh sakramen ini membentuk mahasiswa tidak hanya menjadi manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Immanuel Kant, filsuf Jerman, pendidikan sejati adalah pendidikan yang menumbuhkan kebebasan, tanggung jawab, dan martabat manusia. Dalam hal ini, sakramen-sakramen Gereja Katolik memberikan kerangka moral yang mendalam untuk mengembangkan kebebasan dalam memilih yang baik, bertanggung jawab atas tindakan dan menghargai martabat diri serta sesama. Dengan pembinaan yang kokoh ini, mahasiswa siap menghadapi dunia dengan kedewasaan, kreativitas, dan keberanian yang dilandasi oleh kasih Tuhan yang tak terbatas. Pendidikan dan pembinaan berbasis tujuh sakramen dalam kehidupan seorang mahasiswa menjadi pondasi yang sangat berharga untuk mencapai keseimbangan antara intelektualitas dan moralitas. Dalam menjalani proses pendidikan yang berlangsung selama delapan semester, mahasiswa dibentuk untuk menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak, jujur, kreatif, mandiri, dan penuh kasih. Melalui sakramen-sakramen ini, mahasiswa diajak untuk menghidupi imannya dalam setiap aspek kehidupan baik dalam studi, hubungan sosial maupun ketika terjun ke dunia kerja. Dengan landasan yang kuat ini, mereka akan menjadi generasi yang sanggup menyalurkan rahmat dan berkat kepada orang lain serta siap memberi kesaksian dan kontribusi positif bagi Gereja dan masyarakat. Semoga bermanfaat dan terima kasih.
Tag
Berita Terkait

Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru





Jajak Pendapat Online
