
BILIK REFLEKSI DAN SEBUAH EPISODE BARU
(Lena Salu)
"Masa
depanmu ada di tangan anda sendiri, sebab andalah yang sedang berjuang dan
menata hidupmu ke depan," kata Rm. Kanisius Oki, Pr, Deken Kefamenanu.
"Tak
ada orang bodoh di dunia ini, kalau semua orang mau belajar," Rm. Gabriel Bouk, Pr, Ketua Yayasan Pendidikan Snuna.
Dua pesan emas yang dinyatakan oleh kedua imam Tuhan di atas dalam kata sambutan sebelum menutup Perayaan Ekaristi Pembukaan Tahun Ajaran Baru 2024/2025 di STP ST. PETRUS KEUSKUPAN ATAMBUA hari Sabtu 24 Agustus 2024, menjadi sebuah suguhan dan refleksi yang mendalam.
St. Bartolomeus yang pestanya diperingati pada hari itu juga sungguh menggugah
hati dan isi kepala untuk memaknai segala lika-liku perjalanan dan perjuangan dalam mensyukuri rahmat Tuhan yang tak terhingga. Bartolomeus artinya anak
petani. Figur orang kudus yang rendah hati dan kaya akan kebajikannya ini sangat cocok dengan arti namanya. Pribadi yang satu ini dipilih Yesus untuk
sebuah misi pelayanan yang tak semua orang mungkin menyukainya.
Adakah sesuatu yang datang dari Nazareth? Pertanyaan yang sama pula seakan ditujukan kepada mahasiswa STP, adakah sesuatu yang datang dari STP ST. PETRUS KEUSKUPAN ATAMBUA? Butuh sejeda waktu untuk berhenti sejenak agar tak tergesa memberi jawaban atas sebuah konsekuensi yang konsistensial.
Yesus membutuhkan satu jawaban pasti dari setiap mereka yang dipanggil dan
diutusnya demi misi universal. Yesus tak memakai sistem kredit pada siapapun
kecuali sebuah penyerahan diri secara total kepada-Nya. Yang lebih tepat adalah
bukanlah sekedar guyonan hambar yang Ia butuhkan melainkan satu keputusan yang matang
dan pasti.
Sabtu, 24 Agustus 2023, menjadi sebuah episode baru bagi mahasiswa setelah dua bulan rehat dari aktivitas kampus. Ada sekian banyak momen dan cerita penuh variasi dari setiap sahabat dalam perjumpaan selama kurang lebih satu minggu terakhir ini. Adapula cerita yang sungguh baru yang didengar dan direnungkan bersama di rumah kami ini.
Ah, adakah sesuatu yang datang dari Nazareth? Rupanya dapat ditemukan jawabannya pada wajah-wajah setiap mahasiswa baru (MABA) yang masih polos. Barisan panjang di setiap deretan yang rapi dan polos merekalah yang mengingatkan dan membawa mahasiswa yang lama, pulang kembali pada hari pertama di mana kala itu mereka disebut MABA.
Aku, ya aku ini. Aku tak tahu persis siapa yang merekomendasikanku untuk ada di tempat ini, tetapi aku menyadarinya bahwa itu adalah satu-satunya suara Tuhan yang menuntunku dengan pasti memasuki gerbang lembaga pendidikan ini hingga saat ini.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau sungguh baik atas hidupku. Hari ini, aku dibopong untuk melangkah dengan pasti menyusuri setiap dinamika kehidupan sebagai seorang mahasiswa dan pribadi yang mau berjuang bersama mengikuti misi yang sudah dipersiapkan Tuhan. Memang tak gampang menggarap tanah yang tandus dan kering, sebab mungkin banyak kali ada peluh yang bercucuran dan ada air mata yang menetes.
Lalu apakah aku akan tetap tinggal diam? Tentu aku harus butuh banyak waktu dan energi untuk bisa sampai menemukan tanah yang subur dan membiarkan tanah itu ditanami dengan benih yang baik dan pada akhirnya benih yang telah bertumbuh itu dapat menghasilkan buah yang matang dan berkualitas. Bak menggarap di atas kerikil yang tajam, butuh asupan nutrisi yang cukup bagi diriku untuk bisa mengembangkan segala talenta yang telah dititipkan Tuhan kepadaku tuk dikembangkan, dan memperbaiki segala yang masih perlu tuk dikikis dan dirapikan demi sebuah pembaharuan yang lebih baik lagi. Satu langkah baru lagu bagiku untuk berjuang di semester yang baru pada tahun ajaran baru ini.
Masa depanmu ada ditangan anda sendiri, seakan terus membuat kupingku berdiri dan menjadi satu mantra bagiku tuk terus didaraskan bagaikan Kidung Zakharia agar tetap mengafirmasiku untuk terus berjuang menata masa depanku. Memang untuk bertumbuh, aku akan senantiasa mengalami perubahan, dan perubahan seringkali menakutkan.
Hikmah pengalaman kejatuhan dan kegagalan dalam setiap proses selama studi dapat menyadarkan, bahwa kesempurnaan hidup ini bukanlah semata diperoleh dari
ziarah yang baik-baik saja dan tak ada kendala, yang diperjuangkan dengan kekuatan
dan keyakinan diri sendiri, tetapi merupakan buah proses yang membentukku
menjadi pribadi yang lebih rendah hati untuk belajar dan terus belajar dari
setiap kekurangan dan kelemahan diri sebagai sarana berserah diri kepada Tuhan
yang selalu menopang dan menolongku untuk terus maju mendekati garis finis yang
masih jauh di depan sana. Pengendalian diriku selalu kupasrahkan pada Dia yang memegang
kendaliku
Figur St. Petrus yang
dipilih Yesus menjadi pemegang kunci kerajaan-Nya bermula dari sebuah penyangkalan.
Kerendahan hatinya di hadapan Sang Guru, membasuh dosa-dosanya. Bau asin laut
yang pernah menempel pada badan dan pakaiannya menjadi kekhasan dirinya. Apa
adanya dirinya yang tidak dibuat-buat melainkan polos menjadikannya sebagai
pribadi yang patut kuteladani. Dia tak hanya seorang penjala ikan melainkan
Yesus melayakkannya menjadi penjaga manusia yang dihormati sejak Gereja Perdana
hingga saat ini.
Sebagai bagian dari belajar
dan kelak menjadi sebuah sistem pelayanan di lingkungan umat Allah, tujuan pendidikan
di STP ST PETRUS KEUSKUPAN ATAMBUA bagiku bukanlah semata untuk mendapatkan gelar
sarjana, tetapi semata membentuk diriku lebih matang, untuk masa depanku yang
lebih bermartabat dan demi pelayanan terhadap umat Allah secara radikal. Tak
perlu rumus yang panjang untuk mendapatkan gelar kalau hati dan niat
dipersembahkan sebagai sebuah doa dan harapan kepada-Nya yang senantiasa berada
dalam setiap proses dan perjuangan.
Pesan emas dari dua imam diosesan Keuskupan Atambua di atas, sebenarnya tak perlu aku jelaskan lagi, sebab tentu kalimat itu sudah sangat dimengerti oleh setiap mahasiswa maupun siapa saja yang mendengarnya. Tetapi bagiku ini juga adalah hal baik yang perlu kutitipkan dalam tulisan singkatku ini.
*Titip sebuah guyonan di dekat lorong Oratorium Kampus*
Nona: Pace, boleh tidak sa pinjam ko pung Alkitab?
Pace: Ko kaka nona mo pake bikin apa?
Nona: Sa mo cek sah masi ada foto-foto kow
di Pace pung dalam Alkitab tu?
Pace: Tuhan ewww, memangnya kenapa? kwkwkwwkwk
Nona: Cukup nona ko simpan di Papua ew,
soalnya di sini setiap hari kita hanya bertemu St. Petrus na kwkwwkwkwk
Pace: Semoga bahagia.... Kwkwwkkwkw
Tag
Berita Terkait

Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru





Jajak Pendapat Online
