JEJAK TANGAN AYAH
(Sumpah Atoen Munif Pah Meto)
Pagi itu, untuk pertama kalinya, Nando merasa malu memiliki seorang ayah yang bekerja di kebun.
Bukan
karena ayahnya miskin. Bukan pula karena pakaiannya lusuh. Ia malu karena tiga
hari sebelumnya, ketika teman-teman kuliahnya bertanya tentang pekerjaan orang
tuanya, ia menjawab dengan begitu mudah, “Bapak saya punya usaha di kampung.”
Ia
tidak sepenuhnya berbohong. Ayahnya memang punya usaha. Setiap pagi lelaki itu
mengusahakan tanah yang keras agar keluarganya tetap bisa makan.
Hanya
saja, Nando tidak pernah menganggap pekerjaan itu cukup pantas untuk
diceritakan.
Bus
terakhir dari Kefamenanu menurunkannya di pertigaan desa menjelang petang.
Angin Oktober membawa debu ke wajahnya. Di kejauhan, bukit-bukit berdiri
kecokelatan. Beberapa pohon asam tampak seperti orang tua yang kelelahan
menunggu hujan.
Nando
mengangkat tas ranselnya. Sepatunya yang putih segera berubah warna.
“Baru
turun sudah marah dengan tanah sendiri?”
Suara
itu datang dari belakang.
Mira
berdiri di dekat kios kecil, memegang kantong berisi minyak goreng dan garam.
Teman masa kecilnya itu masih seperti dulu. Rambut diikat seadanya, mata tajam,
senyum yang selalu membuat orang sulit menyembunyikan sesuatu.
“Bukan
marah. Debunya terlalu banyak.”
“Dari
dulu juga begitu.”
“Makanya
orang pergi.”
Mira
memandangnya sebentar.
“Tidak
semua yang pergi berhasil meninggalkan tanahnya, Nando.”
Nando
tertawa pendek. Ia mengira Mira sedang bercanda.
Mereka
berjalan bersama melewati rumah-rumah beratap seng, pagar batu, dan halaman
yang mulai dibersihkan menjelang musim tanam. Di sebuah lopo, beberapa lelaki
tua duduk mengunyah sirih pinang. Salah seorang mengangkat tangan.
“Nando!
Sudah jadi orang kota?”
Nando
tersenyum sambil mempercepat langkah.
Mira
memperhatikannya.
“Kau
sekarang malu disapa orang?”
“Bukan
begitu.”
“Lalu?”
“Sudahlah,
Mir.”
Mira
tidak bertanya lagi.
Ayah
sedang duduk di depan rumah ketika Nando tiba.
Namanya
Ama Leu. Usianya mendekati enam puluh, tetapi wajahnya tampak lebih tua. Kerut
di dahinya dalam, kulit tangannya kasar, kuku-kukunya menyimpan warna tanah
yang sulit hilang meskipun sudah dicuci.
Di
sampingnya terletak sebuah cangkul dengan gagang yang mulai licin karena
terlalu lama digenggam.
“Kau
sudah datang?”
“Iya,
Bapak.”
“Sudah
makan?”
“Belum.”
Ayahnya
berdiri, mengambil tas Nando, lalu memanggil istrinya.
“Biar
dia makan dulu. Perjalanan jauh.”
Tidak
ada pelukan. Tidak ada pertanyaan tentang nilai kuliah. Tidak ada sambutan
istimewa.
Nando
masuk ke rumah dengan perasaan yang sukar dijelaskan.
Di
meja makan tersedia jagung bose, sayur daun kelor, dan sambal lu'at. Ibunya,
Mama Sako, menambahkan sepotong ikan kering ke piringnya.
“Makan
yang banyak. Di kota mungkin kau jarang makan begini.”
Nando
menatap ikan itu.
“Bapak
belum makan?”
“Sudah,”
jawab ibunya.
Namun
ketika ia menoleh ke dapur, Nando melihat ayahnya mengambil jagung bose tanpa
ikan.
Ia
hendak mengatakan sesuatu, tetapi urung.
Malam
itu, di dalam kamar, ia membuka telepon genggam. Sebuah pesan masuk dari teman
kuliahnya.
Bro,
liburan di kampung? Kirim foto tempat wisata, dong.
Nando
memandang dinding rumahnya yang mulai retak.
Ia
tidak membalas.
Keesokan
paginya, suara cangkul membangunkannya.
Dari
jendela, Nando melihat ayahnya berjalan menuju kebun. Matahari bahkan belum
muncul sepenuhnya.
Mama
Sako sedang menyiapkan air minum dalam jeriken kecil.
“Bapak
ke kebun lagi?”
“Iya.”
“Setiap
hari?”
Ibunya
menoleh.
“Kalau
tanah menunggu orang yang tidak sibuk, kita tidak pernah menanam.”
Nando
diam.
“Kau
bantu Bapak hari ini,” lanjut ibunya.
“Ma,
saya baru sampai kemarin.”
“Bapakmu
juga baru pulang dari kebun kemarin.”
Jawaban
itu membuatnya kehilangan alasan.
Setengah
jam kemudian, Nando berjalan menyusul ayahnya.
Kebun
mereka terletak di lereng kecil. Tanahnya keras, sebagian tertutup rumput
kering. Batu-batu tersebar seperti tulang yang muncul dari tubuh bumi.
Ayah
sedang membalik tanah.
Cangkul
terangkat. Menghantam permukaan. Tanah terbelah. Bongkahan terangkat. Gerakan
itu berulang, perlahan, hampir tanpa suara.
“Bapak
masih pakai cara begini?”
Ayah
berhenti.
“Cara
apa?”
“Cangkul.
Orang sekarang sudah pakai mesin.”
“Kalau
kau punya mesin, bawa ke sini.”
Nando
terdiam.
Ayah
kembali bekerja.
Beberapa
menit kemudian, ia menyerahkan cangkul kepada anaknya.
“Coba.”
Nando
menggenggam gagangnya. Ia mengangkat cangkul tinggi-tinggi, lalu menghantam
tanah.
Bunyinya
keras.
Tanah
hanya tergores sedikit.
Ia
mencoba lagi. Kali ini cangkul terpental mengenai batu.
Ayah
segera mendekat.
“Jangan
paksa tenaga melawan batu. Lihat tanahnya.”
“Tanah
begini mau dilihat apa?”
Ayah
mengambil cangkul.
“Di
sini keras. Di sebelahnya ada celah. Masukkan mata cangkul dari sini. Angkat
perlahan.”
Sekali
gerakan, sebongkah tanah terbalik.
Nando
memperhatikan.
“Itu
namanya Ta’foe,” kata ayahnya. “Membalik tanah.”
Ayah
menunjuk bongkahan yang baru terangkat.
“Gumpalan
hasil pembalikan ini kami sebut tanbua'.”
Nando
mengangguk sekadarnya.
“Kau
pikir tanah ini mati karena kering?”
Nando
mengangkat bahu.
“Lihat
baik-baik.”
Ayah
memecahkan sedikit bagian gumpalan itu. Di dalamnya terdapat akar-akar halus
dan seekor serangga kecil yang segera bersembunyi.
“Tidak
semua yang kelihatan kering sudah kehilangan kehidupan.”
Nando
ingin menjawab, tetapi ayahnya sudah menyerahkan cangkul kembali.
“Sekarang
coba.”
Menjelang
pukul sembilan, telapak tangan Nando mulai melepuh.
Punggungnya
basah. Napasnya pendek. Setiap kali mengangkat cangkul, ia merasa tanah sengaja
menolak dirinya.
“Sudah,
Bapak. Tanah ini terlalu keras.”
Ayah
tidak menjawab.
“Buat
apa dipaksa? Belum tentu hujan juga turun.”
Ayah
menancapkan cangkulnya.
“Betul.
Belum tentu.”
“Kalau
begitu, kenapa kita kerja?”
Ayah
memandang bukit di seberang.
“Karena
hujan tidak menunggu kita selesai menyiapkan kebun.”
Jawaban
itu membuat Nando kesal.
“Bapak
selalu bicara begitu. Seolah-olah semua masalah bisa selesai dengan kerja
keras.”
Ayah
menoleh.
“Memang
tidak semua selesai dengan kerja keras.”
“Lalu?”
“Tetapi
banyak masalah menjadi lebih berat karena orang berhenti berusaha.”
Nando
meletakkan cangkul.
“Saya
tidak mau hidup begini terus.”
Ayah
memandangnya lama.
“Bapak
juga tidak mau kau hidup susah.”
“Makanya
saya kuliah. Supaya tidak seperti Bapak.”
Kalimat
itu keluar begitu cepat.
Sesudahnya,
angin terasa berhenti.
Ayah
menunduk, membersihkan tanah dari mata cangkul dengan ibu jarinya.
“Bagus,”
katanya pelan.
Nando
tidak menyangka jawaban itu.
“Kalau
pendidikanmu membuat hidupmu lebih baik, Bapak senang.”
Ayah
mengangkat wajah.
“Tetapi
jangan sampai sekolah membuatmu merasa lebih tinggi daripada orang yang
membiayainya.”
Nando
berdiri kaku.
Ayah
mengambil cangkul, lalu kembali bekerja.
Untuk
pertama kalinya, Nando menyadari bahwa diam dapat terdengar lebih keras
daripada kemarahan.
Siang
itu, Mira datang membawa air dan ubi rebus.
Bersamanya
ada Yohan, pemuda kampung yang pernah satu sekolah dengan Nando. Yohan tidak
melanjutkan kuliah. Ia membantu orang tuanya berkebun dan sesekali bekerja
sebagai tukang bangunan.
“Mahasiswa
sudah kalah?” goda Yohan melihat tangan Nando.
“Tanahnya
keras sekali.”
“Memang.
Kalau lembek semua, kami tidak perlu banyak belajar.”
Mereka
tertawa, kecuali Nando.
Mira
duduk di atas batu.
“Bapakmu
sudah mulai membalik tanah sejak minggu lalu,” katanya.
Nando
menatap ayahnya yang sedang minum.
“Sendiri?”
“Sebagian
besar.”
“Kenapa
tidak minta bantuan?”
Yohan
menyahut, “Bapakmu sudah terlalu sering membantu kebun orang lain. Sekarang
giliran kami datang.”
Nando
mengerutkan dahi.
“Kapan?”
“Besok.
Kami sudah bicara dengan beberapa teman.”
“Memangnya
Bapak minta?”
“Tidak.”
“Lalu
kenapa?”
Yohan
memandangnya heran.
“Harus
menunggu orang minta baru kita boleh membantu?”
Nando
tidak menjawab.
Mira
mengambil sepotong ubi.
“Dulu
waktu bapakku sakit, siapa yang membantu menyiapkan kebun kami?”
Nando
teringat samar-samar. Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya sering pulang larut
karena membantu keluarga Mira.
“Ayahmu,”
jawab Mira sendiri. “Bapakmu datang tanpa kami panggil.”
Angin
melewati daun-daun kering.
“Di
kampung ini,” kata Yohan, “orang bisa mengerjakan kebunnya sendiri. Tetapi
tidak berarti semua kesulitannya harus ditanggung sendiri.”
Nando
menatap cangkul di dekat kaki ayahnya.
Ia
mulai memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliahnya.
Malam
harinya, Nando menemukan ayahnya duduk di bawah lampu kecil, menggosok minyak
pada telapak tangan.
Ada
bagian kulit yang pecah. Beberapa luka tampak masih baru.
“Bapak
sakit?”
“Biasa.”
“Kenapa
tidak istirahat?”
“Besok
ada pekerjaan.”
Nando
duduk di sampingnya.
Untuk
beberapa saat, keduanya hanya mendengar suara jangkrik.
“Bapak
marah dengan saya?”
“Untuk
apa?”
“Soal
yang saya bilang tadi.”
Ayah
tersenyum tipis.
“Orang
muda harus punya mimpi.”
“Tetapi
saya sudah bicara kasar.”
Ayah
menatap tangannya sendiri.
“Bapak
juga pernah muda. Pernah merasa hidup orang tua terlalu kecil untuk mimpi
saya.”
Nando
menoleh.
“Bapak
dulu mau jadi apa?”
“Guru.”
Nando
terkejut.
“Bapak
ingin jadi guru?”
“Iya.”
“Kenapa
tidak jadi?”
Ayah
memandang halaman yang gelap.
“Kakekmu
meninggal waktu Bapak masih sekolah. Adik-adik masih kecil. Nenekmu tidak
sanggup mengurus semuanya.”
“Bapak
berhenti sekolah?”
Ayah
mengangguk.
“Tidak
menyesal?”
“Kadang-kadang.”
Itulah
pertama kalinya Nando mendengar ayahnya mengakui penyesalan.
“Tetapi
Bapak masih bisa mengajar,” lanjut lelaki itu.
“Mengajar
siapa?”
“Kau.”
Nando
menunduk.
Ayah
mengusap gagang cangkul yang terletak di dekat kursinya.
“Bapak
tidak punya banyak buku. Hanya tanah ini yang paling lama Bapak pelajari.”
Nando
menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokannya.
“Besok
saya ikut lagi.”
Ayah
menoleh.
“Tanganmu
masih sakit.”
“Biar.”
“Tidak
perlu membuktikan apa-apa kepada Bapak.”
“Saya
bukan mau membuktikan, Pak.”
Nando
berhenti sejenak.
“Saya
mau belajar.”
Pagi
berikutnya, tujuh orang datang ke kebun.
Yohan
membawa cangkul. Mira datang bersama dua perempuan muda. Ada pula Berto, yang
baru pulang dari merantau, dan dua lelaki dari rumah tetangga.
Tidak
ada upacara. Tidak ada sambutan.
Mereka
meletakkan bekal di bawah pohon asam, membagi bagian pekerjaan, lalu mulai
membalik tanah.
Nando
memperhatikan cara mereka bekerja.
Yohan
memilih bagian berbatu. Berto membuka tanah di dekat pagar. Mira dan
teman-temannya membersihkan akar serta merapikan bagian yang telah diolah.
Ayah
tidak banyak memberi perintah.
Sesekali
ia menunjukkan cara menggunakan cangkul. Sesekali ia membiarkan orang muda
mencoba sendiri.
Menjelang
siang, Berto mengeluh.
“Bagian
ini susah sekali.”
Nando
mendekat.
“Coba
dari samping. Ada celah dekat batu.”
Berto
mengikuti petunjuknya.
Sebongkah
tanah terangkat.
“Eh,
mahasiswa sudah jadi guru kebun!”
Semua
tertawa.
Nando
ikut tertawa.
Ia
memandang tangannya yang kotor. Ada kepuasan kecil yang tidak pernah ia rasakan
ketika berhasil mendapat nilai tinggi.
Saat
istirahat, mereka duduk melingkar di bawah pohon.
Ubi
rebus dibagi. Air diedarkan. Seseorang mengeluarkan sirih pinang. Cerita
berpindah dari harga jagung ke pertandingan sepak bola, dari pekerjaan di kota
ke rencana memperbaiki jalan kebun.
Nando
memandang wajah-wajah di sekelilingnya.
Mereka
tidak memiliki pendidikan yang sama. Tidak memperoleh penghasilan yang sama.
Tidak pula mempunyai mimpi yang serupa.
Namun
di kebun itu, tak seorang pun bertanya siapa yang paling berhasil.
Mereka
hanya memastikan pekerjaan selesai dan semua mendapat bagian makanan.
“Ini
yang orang tua sebut tabua, ya?” tanya Nando kepada Mira.
Mira
tersenyum.
“Kau
baru tahu?”
“Saya
kira bersama itu berarti semua orang harus mengerjakan hal yang sama.”
“Tidak,”
jawab Mira. “Kadang orang membantu dengan tenaga. Kadang dengan pikiran. Kadang
hanya datang membawa air.”
Ia
menunjuk Mama Sako yang baru tiba membawa tambahan makanan.
“Coba
bayangkan kalau semua orang hanya mau memegang cangkul. Siapa yang menyiapkan
makan?”
Nando
tertawa.
Dari
kejauhan, ayahnya memperhatikan mereka.
Di
wajah lelaki tua itu tampak sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Nando. Kegembiraan yang tenang.
Sore
hari, ketika pekerjaan hampir selesai, hujan turun.
Mula-mula
hanya beberapa tetes.
Lalu
angin berubah dingin. Langit yang sejak pagi tampak pucat perlahan menggelap.
“Angkat
barang!” teriak Yohan.
Mereka
berlari menuju pohon asam. Sebagian tertawa. Sebagian berusaha menyelamatkan
bekal.
Nando
berdiri di tengah kebun.
Hujan
mengenai wajahnya, membasahi rambut, masuk ke kerah bajunya.
Ia
melihat gumpalan-gumpalan tanah yang sejak pagi mereka balik. Sebagian mulai
menggelap oleh air. Di antara bongkahan itu, air meresap perlahan.
Ayah
datang mendekat.
“Ayo
berteduh.”
Nando
tidak bergerak.
“Pak,
lihat.”
Ayah
mengikuti arah pandangnya.
“Hujan.”
“Iya.”
“Berarti
pekerjaan kita tidak sia-sia?”
Ayah
tersenyum.
“Belum
tentu panen berhasil. Masih banyak yang harus dikerjakan.”
Nando
menatapnya.
“Bapak
tidak pernah bosan berharap?”
Ayah
menarik napas panjang.
“Pernah.”
“Lalu
bagaimana?”
“Besok
pagi Bapak pergi ke kebun lagi.”
Nando
tertawa kecil, tetapi matanya mulai basah.
Ia
mendekati ayahnya.
“Maaf,
Pak.”
Ayah
mengerutkan dahi.
“Untuk
apa lagi?”
“Karena
saya pernah malu punya Bapak seorang petani.”
Ayah
terdiam.
Hujan
semakin deras.
“Saya
pikir Bapak tidak berhasil menjadi siapa-siapa.”
Nando
mengusap wajahnya.
“Padahal
Bapak sedang mengusahakan hidup kami.”
Lelaki
tua itu tidak segera menjawab.
Ia
hanya meletakkan tangannya yang kasar di bahu anaknya.
“Kalau
suatu hari kau berhasil,” katanya, “jangan malu pulang.”
Nando
mengangguk.
“Dan
jangan menunggu orang meminta bantuan sebelum kau melihat kesulitannya.”
Kali
ini Nando tidak sanggup menjawab.
Ia
memeluk ayahnya.
Di
tengah kebun yang basah, dua lelaki itu berdiri lama. Seorang ayah yang pernah
menguburkan mimpinya sendiri. Seorang anak yang baru mulai memahami harga
sebuah pengorbanan.
Liburan
Nando hampir selesai.
Pada
malam terakhir, ia duduk di lopo bersama Mira dan Yohan. Di hadapan mereka,
sebuah lampu menerangi buku catatan yang dibawanya dari kota.
“Apa
itu?” tanya Yohan.
“Rencana.”
“Rencana
apa?”
Nando
menunjukkan beberapa halaman.
Ia
menggambar pembagian lahan, mencatat kebutuhan benih, memperkirakan biaya, dan
menyusun jadwal kerja. Ada pula catatan mengenai penampungan air hujan serta
kemungkinan menjual hasil kebun secara bersama.
“Ini
belum tentu berhasil,” katanya. “Saya harus cari informasi lagi.”
Mira
membaca catatan itu.
“Kau
mau bantu orang kampung?”
“Saya
mau mulai dari kebun Bapak.”
“Lalu?”
“Kalau
ada yang berguna, kita coba bersama.”
Yohan
mengangguk.
“Bagus.
Tetapi jangan cuma bagus di buku.”
Nando
tersenyum.
“Makanya
saya perlu kalian.”
Mereka
berbicara hingga malam semakin larut. Beberapa rencana dianggap terlalu mahal.
Ada gagasan yang ditolak. Ada yang diperbaiki. Nando mencoret beberapa halaman
dan menulis ulang.
Tidak
semua persoalan menemukan jawaban malam itu.
Namun
mereka sepakat memulai dari sesuatu yang kecil.
Enam
bulan kemudian, Nando kembali ke kampung.
Ia
datang bukan karena liburan, melainkan karena ayahnya sakit.
Ama
Leu terbaring di kamar. Tubuhnya lebih kurus. Tangan yang dahulu kuat
menggenggam cangkul kini sering gemetar ketika mengangkat gelas.
Di
dekat tempat tidur, Nando duduk sambil menceritakan kebun.
“Benih
yang kita coba sebagian tumbuh baik. Sebagian gagal.”
Ayah
tersenyum.
“Bagus.”
“Yang
gagal juga bagus?”
“Kalau
kau tahu sebabnya, itu juga pelajaran.”
Nando
mengangguk.
“Yohan
sekarang membantu mencatat hasil panen. Mira mengajak anak-anak muda menanam
pohon di dekat sumber air. Kami masih belajar, Pak.”
Ayah
memandangnya lama.
“Kau
sudah menemukan pekerjaan?”
“Belum
tetap.”
“Jangan
habiskan masa mudamu hanya untuk kebun Bapak.”
Nando
menggenggam tangan ayahnya.
“Saya
tetap mau bekerja sesuai ilmu saya. Tetapi saya juga tidak mau ilmu itu
berhenti di kepala saya.”
Ayah
memejamkan mata.
Di
luar, terdengar suara anak-anak bermain.
“Pak,”
kata Nando pelan, “dulu Bapak bilang ingin menjadi guru.”
“Iya.”
“Bapak
berhasil.”
Ayah
membuka mata.
Nando
tersenyum dengan bibir bergetar.
“Murid
Bapak memang agak terlambat mengerti.”
Ama
Leu tertawa kecil.
Lalu
ia menangis.
Nando
belum pernah melihat ayahnya menangis.
Beberapa
minggu kemudian, Ama Benu meninggal.
Orang-orang
datang sejak pagi. Mereka memenuhi halaman, membawa kayu bakar, beras, jagung,
air, dan apa saja yang dapat membantu keluarga berduka.
Yohan
mengurus tenda. Mira mendampingi Mama Lidia. Berto menjemput kerabat yang
datang dari jauh.
Nando
hampir tidak sempat memikirkan kebutuhannya sendiri.
Setiap
kali ia merasa sesuatu belum dikerjakan, selalu ada orang yang telah
mengerjakannya.
Menjelang
malam, setelah para pelayat berkurang, Nando duduk sendirian di rumah.
Di
samping dinding, cangkul ayahnya masih bersandar.
Ia
mengambilnya.
Gagang
kayunya terasa akrab. Bekas genggaman ayah masih tampak pada bagian yang
mengilap.
Mira
datang dan duduk tidak jauh darinya.
“Kau
belum makan.”
“Nanti.”
Mira
membiarkannya diam.
Beberapa
saat kemudian, Nando berkata, “Dulu saya pikir Bapak hanya meninggalkan kebun.”
Mira
menoleh.
“Ternyata?”
Nando
memandang halaman.
“Lihat
semua orang yang datang.”
Mira
mengikuti pandangannya.
“Bapakmu
pernah membantu banyak orang, Nando.”
“Saya
baru tahu sebanyak ini.”
“Tidak
semua kebaikan diceritakan kepada anak sendiri.”
Nando
menunduk.
“Ada
yang lebih berat daripada kehilangan Bapak.”
“Apa?”
“Mengetahui
betapa banyak hal tentang dirinya yang belum sempat saya pahami.”
Mira
tidak menjawab.
Ia
hanya menggeser piring makanan lebih dekat kepada Nando.
Musim
tanam berikutnya tiba.
Pada
suatu pagi, Nando berdiri di kebun bersama beberapa anak muda. Di tangannya
tergenggam cangkul tua peninggalan ayah.
Seorang
anak bernama Deni, yang baru lulus SMA, memperhatikan tanah di hadapannya.
“Kak,
kenapa tanah harus dibalik?”
Nando
tersenyum.
Ia
teringat pertanyaannya sendiri beberapa waktu lalu.
“Coba
kau lihat tanah itu.”
“Keras.”
“Lalu?”
“Banyak
batu.”
“Apa
lagi?”
Deni
mengangkat bahu.
Nando
menancapkan cangkul pada celah tanah. Perlahan ia mengangkatnya. Sebongkah
tanah terbalik.
“Ini namanya Ta’foe. Gumpalan hasil pembalikannya disebut tanbua’.”
Deni
berjongkok, memegang bongkahan itu.
“Kalau
begitu, tanah yang di bawah sekarang ada di atas?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Nando
memandang lereng yang mulai menghijau.
“Karena
kadang kita perlu mengubah cara memperlakukan sesuatu supaya bisa melihat apa
yang selama ini tersembunyi.”
Deni
tampak berpikir.
“Seperti
apa?”
Nando
memandang teman-temannya yang sedang bekerja. Ada yang mencangkul, mengangkat
batu, menyiapkan benih, membawa air.
“Seperti
orang-orang di sana. Kalau kau hanya melihat siapa yang memegang cangkul, kau
mungkin mengira dialah yang paling banyak bekerja. Padahal kebun ini
membutuhkan mereka semua.”
Deni
mengangguk.
“Kalau
begitu, saya bantu angkat batu.”
“Boleh.”
“Besok
saya datang lagi.”
“Datanglah
kalau kau bisa. Sekolah dan pekerjaan rumahmu juga penting.”
Anak
itu berlari menyusul teman-temannya.
Nando
berdiri sendirian sejenak.
Angin
pagi bergerak melewati kebun. Di kejauhan, atap-atap rumah tampak di antara
pepohonan. Dari sebuah lopo, terdengar suara orang bercakap-cakap.
Ia
memandang tanah yang baru dibalik.
Dulu,
ia ingin meninggalkan kampung karena mengira tidak ada masa depan di sana. Kini
ia memahami bahwa masa depan tidak selalu menunggu di tempat yang jauh. Kadang
ia dimulai ketika seseorang bersedia melihat kembali sesuatu yang selama ini
dianggap tidak berharga.
Nando
mengangkat cangkul.
Tanah
terbelah.
Sebongkah
tanbua’ terangkat ke permukaan.
Dari
belakang, terdengar suara Yohan.
“Nando!
Bagian sini berat. Bantu sebentar!”
Nando
menoleh.
“Ayo!”
Ia
berjalan mendekat.
Di
bawah teriknya panas matahari Timor, beberapa tangan kembali bekerja.
Tidak
semua tanah menjadi subur. Tidak semua benih akan tumbuh. Tidak semua rencana
akan berhasil.
Namun
pagi itu, tak seorang pun bekerja sendirian.
Dan
di antara gumpalan tanah yang mereka balik, Nando akhirnya memahami warisan
paling berharga dari ayahnya.
Tanah
dapat diwariskan kepada anak-anak. Cangkul dapat berpindah tangan. Namun
kehidupan hanya akan terus bertumbuh selama manusia bersedia memberi tempat
bagi sesamanya.
Di
kebun itu, suara cangkul kembali terdengar.
Nando
tidak lagi malu mendengarnya.
Ia mengenali suara ayahnya di sana.
***SUMPAH PEMUDA atoen meto. Lasi-Tone, nheo ba le i. Palate.....aueee=KU=