TIGA HATI, SATU CERITA
Oleh: Juita Wilhelmina Mali
Dulu kami bertiga hanyalah orang asing yang dipertemukan oleh sebuah
sekolah. Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan sederhana di bangku SMA akan
menjadi awal dari sebuah persahabatan yang begitu berarti.
Awalnya, kami hanya saling mengenal nama. Bertegur sapa seperlunya,
tersenyum ketika berpapasan, lalu kembali sibuk dengan dunia masing-masing.
Namun waktu perlahan mendekatkan kami. Dari percakapan kecil di ruang kelas,
canda tawa saat istirahat, hingga cerita-cerita sederhana yang kami bagikan,
tumbuhlah sebuah ikatan yang tidak pernah kami rencanakan.
Kami bertiga memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Ada kalanya
salah satu dari kami lebih banyak berbicara, sementara yang lain memilih
mendengarkan. Ada yang mudah tertawa, ada pula yang lebih suka menyimpan
perasaannya. Namun justru dalam perbedaan itulah kami belajar memahami satu
sama lain.
Tiga tahun kami menjalani hari-hari bersama. Bukan waktu yang singkat
untuk mengenal kelebihan, kekurangan bahkan kebiasaan kecil masing-masing. Kami
belajar bahwa persahabatan bukan tentang menemukan orang yang selalu sama
dengan kita melainkan tentang menerima seseorang tanpa harus mengubahnya
menjadi seperti diri kita.
Masih jelas dalam ingatanku, betapa sulitnya kami dipisahkan. Ke kantin
bersama, mengerjakan tugas bersama, bahkan untuk hal-hal kecil pun kami selalu
mencari satu sama lain.
"Kalau pergi, tunggu kami dulu!" Begitulah kalimat yang
sering terdengar ketika salah satu dari kami berjalan lebih dahulu.
Kami tertawa tanpa memikirkan bahwa suatu hari kebersamaan itu akan
menjadi kenangan yang sangat kami rindukan. Namun waktu tidak pernah berhenti
hanya karena manusia ingin tetap bersama.
Tiga tahun berlalu. Masa SMA akhirnya selesai. Hari yang dahulu terasa
begitu jauh tiba juga. Kami harus melangkah menuju masa depan masing-masing.
Ada impian yang harus diperjuangkan, ada jalan yang harus ditempuh dan ada
jarak yang terpaksa memisahkan.
Tidak mudah menerima kenyataan bahwa orang-orang yang dahulu hampir
setiap hari berada di samping kita kini hanya dapat dijumpai melalui layar
telepon.
Kadang aku merindukan suara tawa mereka. Merindukan percakapan tanpa
tujuan. Merindukan saat-saat ketika kami bisa saling menatap dan bercerita
tanpa harus bertanya, "Kapan kita bisa bertemu lagi?"
Sekarang, kami tidak lagi berjalan di jalan yang sama setiap hari. Kami
berada di tempat yang berbeda, menjalani kesibukan yang berbeda dan mengejar
cita-cita masing-masing. Namun ada satu hal yang tidak berubah. Kami tetap
saling mengingat.
Sesekali sebuah pesan sederhana muncul di WhatsApp. "Apa kabar?
Sehat, kan?"
Pertanyaan yang mungkin terdengar biasa bagi orang lain tetapi begitu
berarti bagi kami. Sebab di balik kalimat singkat itu, ada perhatian yang tidak
pernah hilang.
Kadang kami menelepon hanya untuk mendengar suara satu sama lain. Kami
bercerita tentang kegiatan sehari-hari, kesulitan yang sedang dihadapi atau
hal-hal lucu yang membuat kami tertawa seperti dahulu.
Tidak semua percakapan berakhir dengan jawaban. Ketika salah satu dari
kami sedang menghadapi masalah, dua yang lain berusaha menghibur. Terkadang
nasihat kami terdengar lucu. Bahkan tidak jarang solusi yang diberikan justru
membuat kami tertawa karena sama-sama tidak tahu harus berbuat apa.
Namun dari situlah aku memahami sesuatu. Sahabat tidak selalu mampu
menyelesaikan masalah kita. Terkadang kehadiran dan kesediaannya untuk
mendengarkan sudah cukup membuat hati menjadi lebih kuat.
Selama tiga tahun bersama, kami tidak pernah mengalami pertengkaran
besar. Bukan karena kami selalu sependapat melainkan karena kami belajar
menghargai perbedaan. Kami memahami bahwa setiap orang memiliki cara sendiri
dalam berpikir, berbicara dan menghadapi kehidupan.
Kini aku mulai mengerti bahwa persahabatan tidak selalu diukur dari
seberapa sering kita bertemu. Ada orang yang setiap hari berada di dekat kita
tetapi terasa begitu jauh. Sebaliknya ada orang yang terpisah ribuan langkah
tetapi tetap memiliki tempat istimewa di hati.
Aku tidak tahu ke mana kehidupan akan membawa kami beberapa tahun
mendatang. Mungkin kesibukan akan semakin bertambah. Mungkin kesempatan untuk
bertemu akan semakin sedikit. Mungkin kami akan memiliki kehidupan dan tanggung
jawab yang berbeda.
Aku berharap satu hal tidak pernah berubah. Ketulusan untuk tetap
menjadi sahabat.
Untuk kalian berdua, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan
hidupku. Terima kasih untuk tawa yang pernah kita bagi, cerita yang pernah kita
simpan dan perhatian yang tetap hadir meskipun jarak memisahkan kita.
Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, mungkin banyak hal telah
berubah. Wajah kita semakin dewasa, cerita kita semakin panjang dan jalan hidup
kita mungkin semakin berbeda.
Tetapi aku berharap, ketika kita duduk bersama dan mulai bercerita,
tawa yang dahulu memenuhi hari-hari SMA itu masih terdengar sama.
Sebab pada akhirnya, aku menyadari satu hal. Kami memang tidak lagi
berjalan di jalan yang sama tetapi persahabatan telah mengajarkan kami untuk
tetap saling menemani, meskipun dari kejauhan.
Dan selama kami masih saling mengingat, cerita tentang tiga sahabat ini
belum benar-benar selesai.