Wednesday, 21 October 2026 kolkita79@gmail.com
TERKINI
TIGA HATI, SATU CERITA

TIGA HATI, SATU CERITA

TIGA HATI, SATU CERITA

Oleh: Juita Wilhelmina Mali

 

Dulu kami bertiga hanyalah orang asing yang dipertemukan oleh sebuah sekolah. Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan sederhana di bangku SMA akan menjadi awal dari sebuah persahabatan yang begitu berarti.

Awalnya, kami hanya saling mengenal nama. Bertegur sapa seperlunya, tersenyum ketika berpapasan, lalu kembali sibuk dengan dunia masing-masing. Namun waktu perlahan mendekatkan kami. Dari percakapan kecil di ruang kelas, canda tawa saat istirahat, hingga cerita-cerita sederhana yang kami bagikan, tumbuhlah sebuah ikatan yang tidak pernah kami rencanakan.

Kami bertiga memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Ada kalanya salah satu dari kami lebih banyak berbicara, sementara yang lain memilih mendengarkan. Ada yang mudah tertawa, ada pula yang lebih suka menyimpan perasaannya. Namun justru dalam perbedaan itulah kami belajar memahami satu sama lain.

Tiga tahun kami menjalani hari-hari bersama. Bukan waktu yang singkat untuk mengenal kelebihan, kekurangan bahkan kebiasaan kecil masing-masing. Kami belajar bahwa persahabatan bukan tentang menemukan orang yang selalu sama dengan kita melainkan tentang menerima seseorang tanpa harus mengubahnya menjadi seperti diri kita.

Masih jelas dalam ingatanku, betapa sulitnya kami dipisahkan. Ke kantin bersama, mengerjakan tugas bersama, bahkan untuk hal-hal kecil pun kami selalu mencari satu sama lain.

"Kalau pergi, tunggu kami dulu!" Begitulah kalimat yang sering terdengar ketika salah satu dari kami berjalan lebih dahulu.

Kami tertawa tanpa memikirkan bahwa suatu hari kebersamaan itu akan menjadi kenangan yang sangat kami rindukan. Namun waktu tidak pernah berhenti hanya karena manusia ingin tetap bersama.

Tiga tahun berlalu. Masa SMA akhirnya selesai. Hari yang dahulu terasa begitu jauh tiba juga. Kami harus melangkah menuju masa depan masing-masing. Ada impian yang harus diperjuangkan, ada jalan yang harus ditempuh dan ada jarak yang terpaksa memisahkan.

Tidak mudah menerima kenyataan bahwa orang-orang yang dahulu hampir setiap hari berada di samping kita kini hanya dapat dijumpai melalui layar telepon.

Kadang aku merindukan suara tawa mereka. Merindukan percakapan tanpa tujuan. Merindukan saat-saat ketika kami bisa saling menatap dan bercerita tanpa harus bertanya, "Kapan kita bisa bertemu lagi?"

Sekarang, kami tidak lagi berjalan di jalan yang sama setiap hari. Kami berada di tempat yang berbeda, menjalani kesibukan yang berbeda dan mengejar cita-cita masing-masing. Namun ada satu hal yang tidak berubah. Kami tetap saling mengingat.

Sesekali sebuah pesan sederhana muncul di WhatsApp. "Apa kabar? Sehat, kan?"

Pertanyaan yang mungkin terdengar biasa bagi orang lain tetapi begitu berarti bagi kami. Sebab di balik kalimat singkat itu, ada perhatian yang tidak pernah hilang.

Kadang kami menelepon hanya untuk mendengar suara satu sama lain. Kami bercerita tentang kegiatan sehari-hari, kesulitan yang sedang dihadapi atau hal-hal lucu yang membuat kami tertawa seperti dahulu.

Tidak semua percakapan berakhir dengan jawaban. Ketika salah satu dari kami sedang menghadapi masalah, dua yang lain berusaha menghibur. Terkadang nasihat kami terdengar lucu. Bahkan tidak jarang solusi yang diberikan justru membuat kami tertawa karena sama-sama tidak tahu harus berbuat apa.

Namun dari situlah aku memahami sesuatu. Sahabat tidak selalu mampu menyelesaikan masalah kita. Terkadang kehadiran dan kesediaannya untuk mendengarkan sudah cukup membuat hati menjadi lebih kuat.

Selama tiga tahun bersama, kami tidak pernah mengalami pertengkaran besar. Bukan karena kami selalu sependapat melainkan karena kami belajar menghargai perbedaan. Kami memahami bahwa setiap orang memiliki cara sendiri dalam berpikir, berbicara dan menghadapi kehidupan.

Kini aku mulai mengerti bahwa persahabatan tidak selalu diukur dari seberapa sering kita bertemu. Ada orang yang setiap hari berada di dekat kita tetapi terasa begitu jauh. Sebaliknya ada orang yang terpisah ribuan langkah tetapi tetap memiliki tempat istimewa di hati.

Aku tidak tahu ke mana kehidupan akan membawa kami beberapa tahun mendatang. Mungkin kesibukan akan semakin bertambah. Mungkin kesempatan untuk bertemu akan semakin sedikit. Mungkin kami akan memiliki kehidupan dan tanggung jawab yang berbeda.

Aku berharap satu hal tidak pernah berubah. Ketulusan untuk tetap menjadi sahabat.

Untuk kalian berdua, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Terima kasih untuk tawa yang pernah kita bagi, cerita yang pernah kita simpan dan perhatian yang tetap hadir meskipun jarak memisahkan kita.

Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, mungkin banyak hal telah berubah. Wajah kita semakin dewasa, cerita kita semakin panjang dan jalan hidup kita mungkin semakin berbeda.

Tetapi aku berharap, ketika kita duduk bersama dan mulai bercerita, tawa yang dahulu memenuhi hari-hari SMA itu masih terdengar sama.

Sebab pada akhirnya, aku menyadari satu hal. Kami memang tidak lagi berjalan di jalan yang sama tetapi persahabatan telah mengajarkan kami untuk tetap saling menemani, meskipun dari kejauhan.

Dan selama kami masih saling mengingat, cerita tentang tiga sahabat ini belum benar-benar selesai.