• Hari ini: January 14, 2026
Nasional

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS  UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

(RP. Frans Funan, SVD)


"Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin ia kuat berseru. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." (Luk 18:39).

    Sebagai manusia pantas dan layak kita mengakui bahwa kesusahan yang tidak pernah diprogram dalam hidup pasti saja sesekali hadir menimpa kita. Entah kesusahan karena bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, taufan, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, bukit tanah bergeser, bukit batu terbelah dan meluncur dari ketinggian menuju laut (kejadian bukit Wateba- Atadei Lembata - NTT), dll.

    Kesusahan karena bencana alam pasti saja makan korban. Kesusahan lain dalam kaitan dengan kesehatan fisik entah sakit permanen atau cacat tetap dll. Dalam kondisi perih karena keterbasan fisik, teriaklah  sekuat kamu bisa, minta tolong. Mungkin Tuhan sedang dekat, sedang lewat dan ada orang beritahu anda untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Atau teriakan, seruan sekuat tenaga dengan iman kepada Tuhan, akan menggugah hati kudus-Nya untuk menolongmu. Karena imanmulah yang menolong, membantu dan menyelamatkanmu sendiri.

    Mari sesuaikan dirimu dengan pengenalan privat Bartimeus si buta tua renta dengan Yesus. Saat dia dengar langkah kaki dan suara-orang banyak lewat ia bertanya, "Ada apa itu?" Orang beri tahu dia, "Yesus orang Nazaret, sedang lewat." Ketika dengar nama Yesus si buta itu pun berubah sikap. Dari seorang pengemis buta tua yang malu-malu, berkata saja suara hampir tak kedengaran, malu bertanya hanya pasrah pada apa yang terjadi dan berlalu tanpa ia hiraukan asalkan sepeser belas kasihan orang dia dapat untuk bisa mengisi perutnya hari itu, sudah cukup baginya, selebihnya sesuai situasi fisiknya yang buta dia tidak peduli.

    Tapi kini ketika ia dengar nama Yesus ia berubah total dari sikap malu-malu jadi pemberani meneriaki Nama Sang Mesias berbelas kasih yang sedang lewat dan akan berlalu tanpa akan kembali lagi. Seruan keras spontan keluar dari mulutnya, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Orang melarang dia diam. Ia seakan tak gubris momen keselamatan ini akan sirna tanpa makna bagi orang banyak itu dan terutama bagi dirinya sendiri. 

    Maka  imannya akan Yesus semakin gila dan memaksa seluruh energi dirinya berteriak  menembus massa hingga telinga Yesus. Ia sadar dan mau memaknai saat penuh rahmat ini dengan massa yang ada bahwa Yesus Mesias dapat melakukan hal ajaib apa saja yang dibutuhkan agar menolong manusia berdosa selamat.

    Kata kuncinya iman. "Imanmu telah menyelamatkan dikau." Apakah massa yang ikut Yesus itu punya iman kepada-Nya? Atau hanya ikut ramai-ramai saja, ragu-ragu, dan tak punya pilihan iman apa pun? Kita butuh orang lain untuk membantu bertumbuh dan berkembang dalam iman kepada Yesus. Selain itu berjuang datang pada Yesus pun tidak gampang, banyak halangan, tantangan dan cobaan. Tantangan dari luar mungkin orang melarang Anda. Dari dalam: tugas banyak, pekerjaan, hiburan, kepentingan keluarga besar, main hp, dll.

    Kita butuh bantuan orang lain untuk beri tahu kita tentang kehebatan belas kasih Tuhan memelekan mata iman kita yang buta terhadap dosa dan banyak membawa beban kesusahan tak terpikulkan dalam ziarah hidup ini. Ingat bahwa kerinduanmu karena iman punya kontak batin otomatis dengan Yesus yang juga sedang rindu bertemu dengan dirimu. Yesus mau menyelamatkan dirimu dari dosa buta iman akan Dia, dan Yesus juga mau supaya Anda sehat iman saat ini dan menjadi murid-Nya keren dan wow di masa depan. Tuhan Yesus memang hebat tapi Tuhan Yesus juga rindu dan mau Anda juga hebat di masa depan.

    Karena itu misimu kini, katakan kepada sesamamu yang sedang susah dan duduk tertunduk sendiri di sana sambil mengorek tanah,  bahwa Yesus ada rindu agar kamu baik, sehat dan bahagia kini dan kelak. Sebarkan misi belas kasih ini di antara kamu seiman, biarlah iman akan Anak Daud Sang Mesias menguasai kita dan semakin banyak orang mengalami kasih Tuhan dalam hidup secara prinadi dan bersama-sama.

    Maka percaya bahwa nama Tuhan semakin luas dimuliakan dan rahmat sukacita meliputi banyak insan beriman. Hidup pribadi, hidup bersama jadi terberkati. Ok.

    Selamat beraktifitas hari dengan seruan: Hei teman  Yesus mau tolong kamu, kenapa susah? Tuhan berkatimu semua. (Arso Kota, Senin, 181124).

Opini

TANAH: ALTAR KERJA

TANAH: ALTAR KERJA


        Dalam beberapa tahun terakhir, tanah Indonesia menjadi saksi dari berbagai bencana: banjir bandang, longsor dan hujan ekstrem yang merenggut nyawa serta menghancurkan kehidupan. Di Sibolga, tanah yang dahulu menopang penghidupan berubah menjadi arus lumpur yang menelan apa pun di hadapannya. Peristiwa semacam ini bukan sekadar gejala alam melainkan cermin dari krisis kesadaran manusia modern terhadap bumi. Tanah yang dahulu dihormati sebagai “ibu kehidupan,” kini diperlakukan sebagai alat produksi yang dieksploitasi tanpa nurani. Ketika relasi spiritual dengan bumi terputus, kesakralan tanah pun memudar. Bencana menjadi cara alam berbicara, memanggil untuk kembali mengingat siapa yang sesungguhnya terluka.

    Sebagaimana ditegaskan dalam Laudato Si’ (Franciscus, 2015, art. 2), “ketika kita menyakiti bumi, kita juga menyakiti diri kita sendiri.” Dalam terang Kejadian 2:15, manusia ditugaskan untuk “mengusahakan dan memelihara taman itu,” bukan menguasainya. Krisis ekologis sesungguhnya adalah krisis spiritual yang berakar pada kelalaian terhadap panggilan ini.

    Dalam pandangan kosmologis Nusantara, tanah tidak pernah sekadar unsur fisik, melainkan ruang sakral tempat kehidupan ditenun. Teologi kontekstual bergaung di dalam pandangan ini, bahwa iman sejati harus berakar pada bumi tempat langkah berpijak. Tanah adalah altar, dan kerja adalah persembahan. Mengolah tanah dengan hormat berarti merayakan liturgi kehidupan, tempat yang lahiriah dan batiniah menyatu.

    Spiritualitas ekologis menegaskan bahwa bekerja di tanah adalah tindakan iman, panggilan untuk menjaga bukan menaklukkan, serta merawat bumi sebagai perpanjangan kasih Sang Pencipta (Deane-Drummond, 2016). Seperti diungkapkan dalam Mazmur 24:1, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.” Maka bekerja di tanah adalah partisipasi dalam liturgi ciptaan, di mana manusia menjadi imam bagi bumi (Gaudium et Spes, art. 34).

    Tanah adalah rahim kosmik yang melahirkan dan memelihara kehidupan. Busro (2025) menyebut kerja ekologis sebagai dzikir tubuh, pujian yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Kwok Pui-lan (2019) menggambarkan bumi sebagai tubuh feminin yang memberi dan melindungi kehidupan. Pandangan ini beresonansi dengan kosmologi Atoni Pah Meto yang memahami pah (tanah) sebagai bagian dari tubuh kehidupan yang dijaga oleh Uis Neno (Tuhan Langit) dan Uis Pah (Tuhan Tanah).

    Tanah ulayat bukan milik pribadi tetapi warisan sakral yang menghubungkan leluhur, manusia kini dan generasi mendatang (Wula et al., 2022). Dalam terang Kitab Suci, manusia diciptakan “dari debu tanah” (Kejadian 2:7), dan kepada tanah pula ia akan kembali. Kesadaran ini membentuk kerendahan hati ontologis bahwa kita bukan pemilik melainkan bagian dari ciptaan yang lebih besar.

    Dalam kehidupan masyarakat Atoni Pah Meto, bekerja di tanah bukan sekadar mencari hasil, tetapi menyentuh misteri semesta. Empat belas ritus pertanian di Maubesi, mulai dari memilih lahan, meminta izin, menebas, hingga menanam, menunjukkan bahwa setiap gerak tubuh memiliki makna doa (Taum, 2004). Mencangkul berarti memohon kehidupan, menanam berarti menaruh harapan dan memanen berarti mengucap syukur.

    Kerja menjadi pengakuan iman yang dihidupi melalui tindakan, di mana tubuh manusia menjadi jembatan antara bumi dan langit (Viktoria, Nono, & Olla, 2024). Gaudium et Spes (art. 67) menegaskan bahwa melalui kerja manusia “berpartisipasi dalam karya penciptaan.” Maka kerja, dalam terang iman dan adat, bukan beban ekonomis tetapi liturgi ekologis.

    Kerja yang sejati memberi kehidupan, bukan mengurasnya. Petani Atoni Pah Meto mengenali karakter tanah melalui warna dan sifatnya: tanah merah menghidupi, tanah putih menenangkan dan tanah hitam menghangatkan (Korbaffo & Sengkoen, 2023). Prinsip ini memuat kebijaksanaan ekologis yang tidak memisahkan manfaat dari moralitas.

    Sebaliknya, kerja yang digerakkan oleh kerakusan menjadikan tanah sekadar objek yang dihisap tanpa empati. Laudato Si’ (art. 82) mengingatkan bahwa “sikap konsumeristik membuat bumi tampak seperti barang yang bisa dibuang.” Ketika kerja kehilangan etika, bumi kehilangan martabatnya. Spiritualitas ekologis menumbuhkan kesadaran bahwa merawat tanah berarti merawat kemanusiaan (Amsal 12:11).

    Ritus-ritus dalam tradisi Atoni Pah Meto, seperti tof lele, doa bersama tobe sebagai penjaga tanah atau permohonan izin sebelum membuka lahan adalah bahasa relasional antara manusia, alam dan Yang Ilahi. Setiap upacara menjadi pengingat bahwa kerja memerlukan kerendahan hati dan penghormatan terhadap kehidupan.

    Dalam tradisi itu, tanah menjadi altar tempat kerja, syukur dan harapan dipersembahkan. Melalui adat, manusia belajar menempatkan diri bukan sebagai penguasa atas tanah, tetapi sebagai bagian dari jaringan kehidupan (Nordholt, 1971; Wula et al., 2022). Tradisi ini sejalan dengan visi Compendium of the Social Doctrine of the Church (art. 463), yang menegaskan bahwa kebudayaan lokal adalah “tempat di mana iman menjelma dalam solidaritas terhadap ciptaan.”

    Teologi ekologis menempatkan tanah sebagai anugerah yang harus dijaga dengan rasa hormat. Deane-Drummond (2016) menegaskan bahwa bumi adalah milik Tuhan yang dipercayakan untuk dipelihara, bukan dikuasai secara mutlak. Siregar (2024) menambahkan bahwa kerusakan ekologis adalah bentuk dosa struktural yang melukai relasi antara ciptaan dan Pencipta.

    Dalam pandangan Atoni Pah Meto, penguasa tanah sejati adalah Uis Pah, sementara manusia hanyalah penatalayan yang menjaga keseimbangan antara langit dan bumi (Viktoria et al., 2024). Mazmur 8:6 mengingatkan, “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu,” tetapi kekuasaan itu harus dijalankan dalam kasih dan tanggung jawab.

    Seluruh refleksi ini berpuncak pada kesadaran bahwa tanah adalah altar tempat kerja manusia berubah menjadi doa. Mengolah bumi dengan kasih dan tanggung jawab berarti ikut serta dalam karya penciptaan. Kerja menjadi tindakan sakramental yang menyatukan ekologi, ekonomi, dan teologi dalam satu kesadaran kosmik. Laudato Si’ (art. 236) menegaskan bahwa Ekaristi “menghubungkan langit dan bumi, merangkul dan menembus seluruh ciptaan.” Maka setiap kerja di tanah, bila dilakukan dengan kasih, menjadi bentuk “ekaristi ekologis” doa yang diwujudkan dalam tindakan.

    Dari kesadaran ini lahir seruan spiritual, kembalikan tanah kepada martabat sucinya dan kembalikan kerja kepada maknanya sebagai ibadah. Tanah tidak boleh diperlakukan sebagai objek industri melainkan sebagai tubuh kehidupan yang memiliki ingatan dan martabat. Merawat tanah berarti meneguhkan iman dan moralitas sebab tanah adalah penghubung antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Dalam tindakan sederhana menjaga bumi, kehidupan bersama dipulihkan (Taum, 2004; Wula et al., 2022). Inilah wujud nyata dari “pertobatan ekologis” yang diundang oleh Paus Fransiskus, pertobatan yang mengubah hati, bukan hanya kebiasaan.

    Tanah mengajarkan bahwa bekerja adalah bentuk doa dan menyentuh bumi berarti menyentuh wajah Tuhan. Dalam dunia yang rapuh oleh bencana ekologis, pemulihan spiritual hanya mungkin lahir dari relasi baru dengan tanah. Tanah adalah altar, kerja adalah liturgi, dan kehidupan adalah ibadah. Di sanalah harmoni antara iman, adat dan bumi menemukan bentuknya, menuntun manusia untuk hidup selaras dengan irama ciptaan (Roma 8:19–21). Seperti dinyatakan dalam Laudato Si’ (art. 244), “Di akhir hidup, kita akan bertemu dengan setiap makhluk yang hidup dan bersama mereka memuji Tuhan.”

*Batas Kota, pagi di awal Desember 2025, KU

Cerpen

AGUSTUS MENGAWALI, NOVEMBER MENGAKHIRI


    Di sudut kamar gelap di sebuah bangunan tua bercat merah maron di pelosok hutan, aku terduduk lemas. Dengan tubuh yang letih, aku membungkukkan badan, menatap sebuah buku bersampul merah tua yang terletak di atas map biru, bersandar pada dinding berwarna kuning pucat itu.

    Perlahan, jari-jariku yang bergetar membuka halaman pertama. Air mataku menetes ketika melihat tulisan berukir indah: “There are beautiful stories with you.” Kusandarkan kepala pada tembok batako yang dingin. Ada cerita indah di balik semua ini, kisah yang pernah memiliki pemeran utama… yang kini entah di mana.

    Hari-hari yang telah berlalu selalu menyisakan cerita, menjadi kenangan yang menua bersama waktu. Ada banyak rasa ketika mencoba berdamai dengan masa lalu: marah, sedih, kecewa, menyesal. Semuanya hadir kembali setiap kali mengingatnya.

    Aku membuka halaman berikutnya. 19 Agustus 2024. Tanggal manis itu kembali mengingatkanku padanya. Saat pertama kali menjumpainya, dengan kemeja berkerah bergaris putih, jeans hitam, tubuh tinggi kurus, rambut keriting hitam tebal, dan mata yang sama-sama indah, pandangan itu membuatku ingin terus memilikinya.

    Tanpa sadar, kami menjadi dua sejoli yang dekat: sahabat, teman curhat, dua orang yang saling menyukai dan saling membutuhkan. Kami menjalani suka duka bersama, berbagai cobaan kami lewati dengan kasih hingga tumbuh cinta yang begitu dalam.

    Enam bulan kami menghidupi kebersamaan itu. Hingga suatu hari, jarak memisahkan kami. Penantian akan sebuah kepastian terasa terlalu panjang. Perasaannya perlahan redup, kesalahan terjadi, dan cobaan itu menghancurkan segalanya.

    Pengkhianatan, kekecewaan, kesedihan, dan air mata bercampur menjadi satu. Aku terisak mengingat hari ketika aku dikhianati. Bagaimana mungkin? Tujuan, harapan, kebahagiaan yang kami bangun runtuh seketika. Sosok yang selalu kubanggakan itu hilang ditelan bumi, tanpa kabar. Semua terjadi karena kami mempertahankan ego, siapa benar, siapa salah.

    Aku berusaha kuat. Mencoba melupakan kenangan pahit itu dan berdiri sendiri tanpa terburu-buru membuka lembaran baru. Akan kunikmati setiap perih hingga habis, akan kujaga hati yang retak ini agar tak terluka lagi.

    Aku tidak membencinya. Aku mencoba berdamai dengan kenangannya. Hari kemarin adalah pelajaran, bukan penghalang.

    Rumah kecil tua itu pernah menjadikan kami satu, seperti magnet, begitu katanya saat awal mengenalku. Aku bagai magnet yang menarik dari berbagai arah, dan aku pun ingin terus bersamanya. Tetapi apa dayaku? Rumah kecil itu pula yang membawa kami menjauh dari kenyataan. Ia pernah hilang, namun kembali. Itu nyata.

    Janji, niat, tekad, harapan, air mata, dan kenangan tersimpan rapi di dalamnya. Lalu bagaimana denganku bila kelak ia bersama orang lain? Rasanya mustahil. Namun bila takdir berkata lain, aku memasrahkan segalanya demi kebahagiaan masing-masing. Kami pernah berdamai dengan keadaan, berusaha berjalan bersama, saling merangkul untuk satu tujuan.

    Niatku sederhana: tetap bersamanya. Laki-laki baik, titipan Tuhan itu, pernah kembali padaku. Aku berjanji menjaga dan menemaninya dalam hari-hari penuh suka dan duka.

    Kini ia kembali dengan perasaan yang sama, membawa sejuta janji untuk sebuah status yang resmi. Ia datang tanpa paksaan, melepaskan ego demi kebahagiaan bersama, ingin melihat cinta yang sesungguhnya.

    16 Februari 2025, pukul 13.12. Hubungan itu resmi, dengan kesepakatan untuk saling menopang dalam masa tersulit sekalipun. Jika kelak apa pun terjadi, inilah kisah kami. Semoga semuanya baik.

    19 Agustus kembali mengingatkan pada sebuah hubungan rumit yang perlahan membaik. Aku tak mengharapkan banyak, yang penting saling memahami dan mau berjuang bersama.

Namun kisah itu kembali melukaiku. Aku tak sanggup menahan perlakuannya. Keegoisan dan kesombongannya membuatku berhenti di sini. Rindu akan pecah, air mata tumpah, rasaku hilang entah ke mana.

    Jujur, aku mencintainya. Tapi aku sadar, aku bukan tujuan hidupnya. Bila Tuhan berkenan, biarlah ia berbahagia sekali lagi.

    Pesan terakhirku untuknya, semoga bumi dan alam selalu melihat bahwa di satu sudut sunyi, ada aku yang diam-diam ingin melihatmu menang atas hidupmu sendiri.

    Entah itu impian yang belum tercapai, cita-cita yang kau kejar meski dunia tak ramah, atau harapan kecil yang kau bisikkan sebelum tidur, semoga semuanya berpihak padamu dengan lembut.

    Aku tak lagi ikut dalam langkahmu, prosesmu, keputusanmu. Namun aku tetap menitipkan doa di setiap malam yang sunyi, di setiap keluh yang terhembus angin. Semoga kau diberi cukup tenaga untuk bertahan, cukup sabar untuk menunggu, dan cukup bahagia untuk merasa layak dicintai kehidupan.

    Dan bila suatu hari kau benar-benar menang, semoga ada suara hangat yang berbisik pelan di hatimu bahwa pernah ada seseorang, jauh di sini, yang sepenuhnya percaya padamu, pada prosesmu, pada keputusanmu.

    Aku… sosok perempuan kecil yang kau temui di sudut gedung tua berwarna merah maron itu, tepat pada 19 Agustus 2024. Kutitipkan rintihanku sebagai dukungan terakhir untuk perjalananmu. (Marcella Ceunfin,16)

Daerah

Kebersamaan Oelnitep Menjadi Penutup Indah 2025

Kefamenanu-Oelnitep, Umat Lingkungan Santo Alexander Oelnitep menutup tahun 2025 dengan cara yang unik dan penuh makna, bekerja bersama membangun lapangan futsal selama dua hari, Selasa–Rabu (30–31/12/2025). Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan, syukur dan harapan baru menjelang pergantian tahun.

Kegiatan kerja bersama tersebut disponsori oleh Orang Muda Katolik (OMK) Lingkungan Oelnitep dan melibatkan partisipasi umat lintas generasi. Orang tua, kaum muda hingga anak-anak tampak aktif ambil bagian, mulai dari pengangkutan material, perataan tanah hingga pekerjaan pendukung lainnya.

Suasana kebersamaan semakin terasa ketika kelompok ibu-ibu selain bekerja, mereka juga dengan sukarela berkumpul dan menyediakan makanan untuk bersama di pelataran Kapela Oelnitep. Momen sederhana ini menjadi ruang perjumpaan, canda dan ungkapan syukur atas kerja keras yang dilakukan bersama.

Ketua Lingkungan, Yohanes Fallo, menyampaikan apresiasi atas semangat umat. "Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh umat yang telah berpartisipasi aktif. Kerja bersama ini menunjukkan bahwa kebersamaan masih menjadi kekuatan utama kita sebagai umat," ujarnya. 

Hal senada diungkapkan Andre, salah satu anggota OMK yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. "Kami bekerja bersama untuk kebaikan kami bersama. Kami ingin mengakhiri tahun 2025 ini dengan membuat cerita di ujung tahun, cerita tentang kebersamaan dan harapan," katanya sambil tersenyum bangga. 

Seorang tokoh orang tua berinisial PK yang tidak ingin disebut nama panjangnya juga menegaskan semangat yang sama. "Kami bekerja bukan untuk kepentingan pribadi kami tetapi untuk kebaikan kami bersama. Inilah cara kami bersyukur atas tahun 2025 yang akan lewat," tuturnya.

Berdasarkan pantauan selama dua hari pelaksanaan, hampir seluruh umat terlibat aktif sesuai kemampuan masing-masing. Kerja bersama ini bukan hanya menghasilkan fasilitas olahraga bagi lingkungan, tetapi juga menjadi sarana menutup tahun 2025 dengan rasa terima kasih, syukur dan solidaritas yang kuat.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, umat Lingkungan Santo Alexander Oelnitep berharap memasuki tahun 2026 dengan hati yang baru, relasi yang semakin erat dan komitmen untuk terus membangun hidup menggereja yang inklusif dan penuh kasih. (LEKO)

Internasional

Internasional

PAUS FRANSISKUS MEMPROMULGASIKAN ENSIKLIK BARU: "DILEXIT NOS", TENTANG HATI KUDUS YESUS

Dikutip dari Pena Katolik: Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik keempat kepausannya yang berjudul Dilexit Nos, pada hari Kamis 24 Oktober 2024, tentang cinta manusiawi dan ilahi dari hati Yesus Kristus.

Dilexit Nos, yang berarti ‘dia telah mengasihi kita’ dipromulgasikan pada tanggal 24 Oktober 2024.

Sebelumnya, Paus telah mengumumkan pada bulan Juni 2024, bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah dokumen tentang Hati Kudus Yesus. Ensiklik ini akan merenungkan cinta Tuhan yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya.

Paus Fransiskus kemudian menggambarkan Dilexit Nos tersebut sebagai sesuatu yang menyatukan refleksi berharga dari teks-teks magisterial sebelumnya dan sejarah panjang yang kembali ke Kitab Suci. Paus mengusulkan kembali kepada seluruh Gereja, devosi yang dipenuhi dengan keindahan spiritual ini.

“Saya yakin akan sangat bermanfaat bagi kita untuk merenungkan berbagai aspek kasih Tuhan, yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya,” kata Fransiskus di akhir audiensi umumnya pada tanggal 5 Juni 2024.

Dilexit Nos tersebut diterbitkan di tengah perayaan ulang tahun ke-350 penampakan Hati Kudus Yesus kepada St. Margareta Maria Alacoque. Perayaan ini dimulai pada tanggal 27 Desember 2023 dan akan berakhir pada tanggal 27 Juni 2025.

Vatikan mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung pada hari Kamis, 24 Oktober, tentang ensiklik: Dilexit Nos. Konferensi pers ini akan dihadiri Mgr. Bruno Forte, seorang teolog Italia dan anggota Dikasteri Ajaran Iman. Ada juga Suster Antonella Fraaccaro, kepala ordo religius Italia Discepole del Vangelo.

Dilexit Nos menjadi ensiklik keempat Paus Fransiskus setelah Fratelli Tutti, yang diterbitkan pada tahun 2020, Laudato Si’ yang diterbitkan pada tahun 2015, dan Lumen Fidei, yang diterbitkan pada tahun 2013. (AES)


Sumber Berita: Paus Fransiskus akan Mempromulgasikan Ensiklik Baru: Dilexit Nos, tentang Hati Kudus Yesus - Pen@ Katolik

Puisi

HARI INI, BARU

Hari ini
Waktu pura-pura berhenti
Tahun lama pamit sopan
Tanpa drama
Tanpa tuntutan cicilan janji

Detik tetap rajin bekerja
Sementara makna datang santai
Menepuk bahu kita
Di ruang sunyi
Yang jarang dibuka

Luka tak lagi protes
Ia naik pangkat jadi guru
Mengajari hati
Cara bernapas
Tanpa berbohong
Syukur ikut duduk
Diam
Cukup tahu diri

Semua yang tercecer
Keringat tanpa tepuk tangan
Doa yang loading-nya lama
Kata yang tersangkut di tenggorokan
Kasih yang datang setelah sadar
Kini dirapikan
Dalam ingatan
Yang belajar memaafkan

Kita berdiri jujur
Pernah bingung
Pernah salah belok
Pernah mundur pelan-pelan
Dan hari ini kita sepakat
Rapuh itu manusiawi
Gagal cuma cara hidup mengajar

Satu halaman ditutup
Bukan dibuang
Makna baru dibuka
Kita belum jadi versi final
Masih proses pematangan

Malam menjaga sisa terang
Jiwa pulang sebentar
Cek ulang harap
Yang hampir lupa alamat

Pagi pun datang
Tahun baru mengetuk
Tanpa pidato panjang
Hanya senyum kecil dan pesan singkat
“Jalan saja lagi
Lebih tenang
Lebih jujur”

Kita pun melangkah
Membawa api kecil itu
Sempat redup
Sempat goyah
Tapi bandel
Tetap menyala
Buat menerangi
Awal yang baru


Coretan kecil awal tahun, dari pinggir Kota Kefa 01012026KU


Renungan

T U M B U H

T  U  M  B  U  H

(Yes 11:1-10; Rom 15:4-9; Mat)

    Adven selalu berbicara tentang penantian yang hidup, tentang sesuatu yang sedang tumbuh, bahkan di tanah yang tampak mati. Dalam terang nubuat Yesaya, kita diajak menatap sebatang tunggul Isai: sisa pohon besar yang telah ditebang, kering dan tak lagi menjanjikan kehidupan. Namun dari tunggul itu, Allah menjanjikan sesuatu yang baru, “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.”

    Tunggul adalah lambang keterhentian, titik di mana kemuliaan berhenti, harapan padam dan masa depan tampak tertutup. Namun dalam logika kasih Allah, apa yang mati bukan akhir melainkan awal bagi sesuatu yang ilahi. Dari sisa yang tak berdaya, Allah menumbuhkan tanda kehidupan. Di situlah Adven dimulai, bukan dari kemegahan melainkan dari sisa yang dibaharui oleh rahmat.

    Dari garis keturunan Isai, yang nyaris terlupakan dalam sejarah, tumbuhlah tunas Mesias, Sang Raja Damai. Dalam Yesus Kristus, Allah menunjukkan bahwa kemuliaan sejati tidak lahir dari kekuasaan melainkan dari kelembutan dan kesetiaan. Dunia mungkin menilai tunggul itu tak berguna tetapi di mata Allah, di sanalah kehidupan baru disiapkan. Di tempat manusia melihat kebuntuan, Allah menanam benih harapan.

    Namun Adven bukan hanya tentang Allah yang menumbuhkan. Injil Matius memperkenalkan Yohanes Pembaptis, suara yang mengguncang akar kehidupan. Di padang gurun, suara itu bergaung, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Jika Yesaya berbicara tentang janji, maka Yohanes berbicara tentang kesiapan. Jika Yesaya menyingkapkan tunas baru yang tumbuh oleh rahmat, Yohanes menghadirkan kapak yang siap menebang akar yang menghalangi pertumbuhan.

    Kapak di tangan Yohanes bukan ancaman melainkan simbol keputusan rohani. Hanya dengan memangkas yang kering, ego, keserakahan, kemunafikan dan kebiasaan lama, hidup dapat berbuah kembali. Tidak ada tunas baru bila akar lama dibiarkan membusuk. Pertumbuhan sejati menuntut keberanian untuk dibersihkan agar rahmat memiliki ruang untuk bekerja.

    Dengan demikian, Adven adalah pertemuan antara dua karya yakni karya Allah yang menumbuhkan dan karya manusia yang menyiapkan tanah hatinya. Dari tunggul yang diam, Tuhan bekerja melalui kapak pertobatan, manusia ikut serta dalam karya itu.

    Setiap orang memiliki “tunggul” dalam hidupnya, bagian yang terasa mati, kehilangan daya atau dilupakan. Tetapi justru di sanalah Allah ingin menumbuhkan sesuatu yang baru. Dan setiap orang juga memegang “kapak,” kehendak bebas untuk memutuskan apa yang perlu dibersihkan agar kehidupan rohani bertumbuh.

    Adven mengundang untuk berani percaya bahwa rahmat dapat tumbuh dari sisa, dan pertobatan dapat melahirkan kehidupan baru. Tunggul bukan tanda akhir tetapi tanah bagi permulaan baru.

    Maka biarlah minggu ini menjadi waktu untuk menatap dengan iman bahwa Allah masih menumbuhkan, bahkan di dalam diam. Bahwa hidup yang terasa kering pun dapat menjadi taman, bila hati berani dibersihkan oleh kasih yang datang dari-Nya. Allah menumbuhkan dari tunggul yang diam, namun hanya hati yang rela ditebang oleh pertobatan dapat berbuah dalam damai yang sejati.

    “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:3) 

**Batas Kota, Air Menyamping, Renungan Adven II, 07 Des 2025 KU

Serba Serbi

Serba Serbi

KEJUJURAN MENGANTAR PERTUMBUHAN

Setiap tahun akademik menawarkan sebuah cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka, melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil. Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.

Jika kita membaca data-data evaluasi diri secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.

Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu, ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.

1. Pelajaran Besar dari Data

Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa, tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil, konsisten dan berulang.

Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa “tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.

Ketiga, distraksi digital adalah musuh terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri waktu belajar.

2. Apa Maknanya?

Melihat kejujuran mahasiswa, kita diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik, ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).

Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka pintu perubahan.

Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…, Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.

3. Titik Balik

Melalui data ini kita belajar satu hal penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan diam di tengah hiruk-pikuk.

Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi menumbuhkan manusia.

4. Puncak Refleksi

Di tengah kelemahan dan pergulatan yang tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah perjalanan spiritual.

Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu ditolong”.

Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah” (Roma 12:2).

Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.

Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan pemulihan yang tak pernah dibayangkan.

Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.


**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.


Cerita Bersambung

Cerita Bersambung

MALAM JUMAT YANG PANJANG (Part. 5)

MALAM JUMAT YANG PANJANG

MUSIM SEMI DI TEPI SUNGAI GAVE DE PAU (Part 5)

Oleh: Lena Salu


    Terhitung sudah hampir tujuh bulan aku menjalani rutinitas perkuliahan dengan efektif sampai aku tak menyangka waktu terasa begitu singkat dan pendek. Kebiasaan nongkrong ngopi di pojok cafe dan pesta bareng teman-teman kampusku di klub-klub hampir tak pernah kudatangi. Mungkin aku takkan pernah merindukan momen-momen itu lagi, atau belum waktunya tuk kupikirkan sebagai salah satu SKS tambahan dalam roster harianku yang terus mengejarku untuk menyelesaikan tugasku yang hampir serumit rumus kalkulus. Yang ada sekarang di depanku hanyalah laptop ditemani tumpukan buku cetak beserta catatan-catatan yang tak pernah berkurang dari galeri kamarku.
    Kesibukanku semakin tampak gila membuatku bahkan tak sempat membaca balasan surat dari sahabatku...  yang sudah seminggu dihantar pak pos. Surat itu masih utuh tersegel rapi dalam keranjang surat di bilikku. Aku tak pernah melirik ke sana dan menyempatkan sedikit waktu tuk membacanya. Entah aku yang salah atau aku yang hampir lupa? Aku tak dapat menyalahkan pak pos. Entahlah, aku hanya bisa sedikit menyalahkan diriku yang sama sekali lupa akan hal ini.
    Kuraih amplop kecil itu dengan cepat dan lantas tak memperhatikan lagi perangko di depannya yang sebenarnya adalah hal pertama yang biasanya kulakukan sebelum membukanya setiap kali aku mendapatkan surat. Aku selalu mengoleksinya sebagai sesuatu yang paling berharga dan berarti bagiku. Kali ini aku melanggarnya dan cepat-cepat menggunting sudutnya. Kutarik surat kecil di dalamnya dan kaki ini ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Aku mendapati sebuah Rosario merah dan juga sebuah flashdisk Michy Mouse berbentuk lucu dengan gantungan hati.
    Waoooww kutarik napas dalam dan sedikit menahan diriku yang berguncang hebat. Apakah ini? Aku bertanya dalam hati dan menebak isi dari flashdisk tersebut. Mengapa baru hari ini aku termotivasi untuk membuka amplop ini? Sedangkan waktunya sudah hampir seminggu yang lalu. Ohhh aku membayangkan berapa lama ia menunggu balasanku dari jauh. Mungkinkah ia menyesalinya dan menganggapku manusia dan sahabat yang paling tidak beradab dalam pandangannya? Akankah ia menyeretku keluar dari daftar sahabatnya yang pernah ia jumpai di atas planet bumi ini dan membiarkanku mengembara tanpa tujuan yang pasti?
    Ohhh semoga tak seperti yang sedang berputar-putar  dalam fantasiku saat ini. Aku berharap ia masih menanti sebuah amplop kecil yang akan ku kirimkan beberapa hari kedepannya setelah aku menyelesaikannya. *****

 Teruntukmu Celine, di bilik penantian

Celine, semoga suratku menemuimu dalam keadaan yang sehat bugar dan menggemaskan. Aku memastikan kau tentunya selalu tersenyum lebar dan ringan langkah merayakan hari-hari perkuliahanmu setiap hari. Aku juga tak menolak bahwa ada terik matahari yang kadang menyengat di atas kepalamu kala banyak tugas dan agenda yang terus mengejarmu untuk lebih konsentrasi dan konsisten.

Celine, Ijinkan aku sedikit bercerita denganmu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, namun tak terasa sudah hampir setengah dari semester ini aku tak pernah dibangunkan oleh suaramu dari ponselku. Aku berpikir mungkin kau sangat penting mengabariku agar tak kugelisahkan segalanya. Sesungguhnya sebulan yang lalu aku sedang berziarah ke Lourdes. Ada kesan yang sangat indah bagiku selama berada di sana. Ada doa yang penting dan sangat khusus kupersembahkan kepada Bunda Maria untukmu.

Aku tahu bahwa kau sangat mencintainya dengan selalu mendaraskan manik-manik Rosario yang indah dengan mengucapkan salam Maria. Aku selalu menghadirkanmu  disetiap langkahku dalam rombongan ziarah ke tempat-tempat suci yang kami kunjungi. Celine, Sebelum keberangkatanku ke Lourdes aku pernah menghubungi nomor ponselmu namun kau tak dapat dihubungi. Aku ingin mengambil cuti bersamamu ke Lourdes tetapi akhirnya aku hanya mengelus dada dengan sedikit berat hati tak dapat mengabulkan permintaanmu yang pernah kau minta pada hari ulang tahun pernikahan orangtuaku kali lalu. Aku tahu bahwa kau dan aku punya tabungan yang dapat kita pakai namun tak aku sangka bahwa kali ini aku gagal membawamu ke depan arcanya di Lourdes.

Celine, maafkan aku yang tak sempat mengabulkan permohonanmu, namun aku rasa bahwa kau akan terobati dan terhibur dengan sedikit cerita ziarahku yang kugoreskan dalam tulisan dan beberapa video klip sejak hari pertama hingga aku kembali. Aku berharap kau dapat sampai juga ke Lourdes setelah menikmati apa yang kau tonton dari apa yang kubagikan denganmu. Maafkan aku Celine, aku berharap kau tak membenciku tetapi membiarkan semuanya yang sempat tertunda ini menjadi doa yang indah dihadapan arcanya. Celine, kusudahi dulu suratku, aku berharap kau tak sungkan membalasnya agar dapat kupastikan dirimu baik-baik saja dan tak merasa kecil hati. Sekali lagi maafkan diriku. Yang terakhir ijinkan aku menyampaikan salam hormatku untukmu sekeluarga, semoga ayah, ibu dan adik-adikmu dalam keadaan yang tak menggelisahkanku. Aku selalu menantimu di setiap deretan hari dan tanggal yang menjanjikan balasan surat darimu.


NB; Kutulis suratku ini di tepi sungai Gave de Pau, tepat di bawah kaki gunung Pyrenees Perancis.

Aku yang mengasihimu dari jauh,

(.................)

********** 

Aku seakan tak punya gairah lagi tuk berdiri, sekalipun sapaan awal surat di atas tadi sedikit menghiburku.menghibur dan membuatku terkesima. Aku dikuatkan oleh percakapan yang secara tak langsung menjawabi teka-tekiku yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang keberadaannya. Lebih buas lagi aku terperosok jauh dengan ungkapan aku tak dapat dihubungi. Entahlah aku tak mengerti kapan aku dihubunginya sebab akupun menantinya berkabar hampir sepanjang abad namun tak berdering sama sekali ponselku kalau aku dipanggilnya. Bingung tapi faktanya menyatakan kalau ada dis-komunikasi yang sempat terjadi.

Hampir tiga puluh menit aku hampir tiga puluh menit aku terjaga dalam diam dan membiarkan instrumen lagu Ave Maria Gratia Plena gubahan Schubert menemaniku menikmati foto dan video singkat yang dibuat dalam slideshow yang menarik dan mengagumkan. Aku seakan terhipnotis dan dibawa ke Lourdes menikmati keindahannya dengan beckroud langkah jutaan peziarah yang membludak. Ohhh, betapa aku sangat merindukan tempat suci itu.... Aku sangat merindukan akan kesejukan air suci yang mengalir di tempat Kudus itu. Aku ingin menaburkan mawar berwarna-warni yang kupetik dengan tanganku sendiri walaupun aku harus meminta ijin pada pemilik tamannya. Aku ingin menari dengan gaun panjang berlengan lebar di sepanjang pendakian dan bernyanyi merdu di alun-alun kota layaknya wanita Perancis berperawakan cantik dengan topi lebar dan kain penutup kepala yang halus.

Akkhh, aku benar-benar membungkus kerinduanku ini dalam diksi yang hanya dapat kunikmati dalam mimpiku yang panjang dan belum sempat jadi kenyataan, namun aku membiarkan cerita ini hidup dalam doa yang tiada henti. Aku telah berjanji di depannya untuk selalu mengirimkan mawar Rosario di setiap sembahyangku yang membawaku sampai ke Lourdes keseharianku.

Aku tentunya akan dibawa tuk membayangkan kembali peristiwa penampakan yang pernah terjadi di sana. Aku ingin membopong orang-orang sakit dan timpang tuk ditahirkan dari sakitnya dan membiarkan diriku yang sakit dijamahnya pula dengan sentuhan dan aliran air segar yang melewati darah dan nadiku dan menghembuskan nafas panjang dengan ucapan syukur yang tak terhingga.

*********

Aku tertidur di bawah lampu belajar yang belum sempat kumatikan dan mendapati diriku tersungkur di atas meja dengan tumpukan tugas yang masih harus kuselesaikan untuk di asistensi besok pagi. Terburu-buru diriku ke kamar kecil tuk menyeka wajahku dengan air kran dan berniat menyalakan lagi laptop. Kubiarkan volume musik dari tape recorder kesayanganku terus aktif walaupun kedengaran semakin berisik pertanda baterainya hampir habis, aku hanya memastikan penyiarnya belum kantuk dan menemaniku dengan suguhan lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu lawas kesukaan ayah dan ibu pada jamannya kala itu.

Kesukaan mereka berdua pada lagu-lagu lawas dan keroncong pada akhirnya menular kepadaku juga, sampai-sampai aku mengoleksi lirik-lirik lagunya dari kertas yang terselip di setiap kaset pita di almari ruang tengah rumahku. Aku kembali menguras isi kepalaku menyelesaikan beberapa tugasku yang hampir rampung. Ku pikir aku tak sehebat Para filsuf tapi kali ini aku harus bisa berpikir sedemikian untuk menemukan jawaban dari setiap soal dosen matakuliahku.

Kubiarkan suratku tadi terbuka di bawah lilin yang bernyawa dengan sorotan lampu yang datar menerangi sudut doaku. Kubiarkan tatapan Sang Perawan mengawasi dan menemaniku hingga sini hari nanti. Tanganku tak hentinya mengutak-atik tuts-tuts keyboard laptopku yang sudah aus dan hampir copot, tapi aku tak menghiraukannya, aku menikmati semuanya apa adanya demi menjaga keseimbangannya agar tidak sampai stres.

************

Tuhan, ijinkan aku tidur sejenak saja dan bangunkan aku esok lagi dalam keadaan yang masih bernapas. Aku membiarkan diriku terlentang dengan posisi yang paling nyaman dan menikmati malam yang teduh tanpa mengotori pikiranku dengan segala kesibukan yang masih saja harus kukejar. Suara batuk ayah masih kudengar dari bilik sebelah. Aku tau ayahku seharian tak cukup istirahat karena harus bertahan dan berjuang keras untuk aku dan isi rumahku.

Aku menarik napas panjang menikmati suara ibu yang sesekali menenangkan suaminya dan adikku yang terjaga. Ohh, aku butuh sejam saja untuk bisa pulas dan dapat bangun lagi tuk menjalani apa yang menjadi kewajibanku. Aku tidur dengan menggenggam seutas Rosario pemberianmu dan membiarkan mataku terpejam dan lelap.

Video