KOLKITA-SPANYOL, Keberhasilan Vincenzo Singers meraih penghargaan emas kategori Folklore dalam kompetisi paduan suara internasional Sing for Gold 2026 di Calella, Spanyol, Minggu (25/10/2026), menyimpan kisah yang jauh melampaui panggung pertandingan. Bagi rombongan paduan suara asal Keuskupan Atambua, Nusa Tenggara Timur, perjalanan tersebut bukan sekadar perjuangan meraih prestasi, melainkan pengalaman iman yang ditempa oleh keterbatasan dana, pengorbanan, solidaritas dan peristiwa kehilangan.
Kisah di balik keberhasilan itu disampaikan Rm. Kristo Oki, Pr., salah seorang imam pendamping Vincenzo Singers, dalam wawancara melalui WhatsApp, Senin (26/10/2026).
Menurut Rm. Kristo, perjalanan menuju panggung internasional berlangsung melalui proses panjang yang penuh dinamika. Salah satu tantangan terbesar adalah menghimpun dana perjalanan yang mencapai lebih dari Rp1,4 miliar.
Namun melalui berbagai kegiatan penggalangan dana, konser dan dukungan banyak pihak, kebutuhan tersebut akhirnya dapat dipenuhi.
“Proses yang penuh dinamika, terlebih untuk pemenuhan dana sebesar Rp1,4 miliar lebih,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, salah satu momentum penting terjadi dalam konser penggalangan dana di Jakarta pada 18 Oktober 2026, yang berhasil menghimpun sekitar Rp290 juta. Perolehan tersebut membantu memenuhi kebutuhan dana menjelang keberangkatan rombongan.
Perjalanan yang Dibingkai Kesaksian Iman
Bagi Rm. Kristo, perjalanan Vincenzo Singers tidak dapat dipahami hanya sebagai keikutsertaan dalam kompetisi musik internasional.
Di balik seluruh proses persiapan, ia melihat pengalaman iman yang nyata melalui keterlibatan banyak orang yang bersedia memberikan waktu, tenaga, pikiran dan dukungan finansial.
“Perjalanan ini bukan hanya sekadar ajang lomba tapi sebuah perjalanan yang dibingkai dengan kesaksian iman. Ada ziarah yang tersemat di dalamnya,” tuturnya.
Keyakinan tersebut semakin kuat ketika rombongan menghadapi berbagai persoalan menjelang keberangkatan.
Beberapa anggota yang sebelumnya dipersiapkan untuk mengikuti perjalanan terpaksa membatalkan keikutsertaan. Salah satu penyebabnya adalah persoalan kesehatan yang muncul secara tiba-tiba. Namun menurut Rm. Kristo, kesulitan itu tidak menghentikan perjalanan kelompok.
Ia justru menyaksikan bagaimana berbagai pihak tergerak memberikan bantuan, termasuk sejumlah imam dan biarawan misionaris dari NTT, khususnya Keuskupan Atambua, yang membantu mengoordinasikan transportasi dan akomodasi.
“Kalau bukan karena gerakan iman, siapa yang mau memberi diri, mengorbankan waktu, bahkan perasaan untuk mendukung tim Vincenzo Singers?” ungkapnya secara reflektif.
Bagi rombongan, solidaritas tersebut menjadi pengalaman yang memperlihatkan bahwa keberhasilan mereka tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bernyanyi tetapi juga oleh dukungan banyak orang yang mempercayai karya pelayanan ini.
Dari Timor, Memikat Penonton Dunia
Di tengah persaingan paduan suara internasional, Vincenzo Singers hadir membawa identitas khas dari kawasan timur Indonesia. Menurut Rm. Kristo, kelompok tersebut menarik perhatian penonton bukan hanya karena keunikan busana bernuansa ketimuran melainkan juga karena kualitas vokal dan keterpaduan suara para anggotanya.
Ia mengisahkan bahwa sejumlah penonton memberikan apresiasi terhadap penampilan Vincenzo Singers dengan ungkapan “voice of angels” atau suara para malaikat.
“Meski dari pinggiran, namun menjadi ikon perhatian dan favorit bagi para penonton. Bukan hanya karena uniknya pakaian ketimuran kita, tetapi memang kualitas suara yang dikagumi,” jelasnya.
Apresiasi tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para penyanyi muda yang untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi internasional ini.
Dalam keterangannya, Rm. Kristo menjelaskan bahwa Vincenzo Singers memperoleh penghargaan emas pada tingkat atau level tiga dalam kategori Folklore.
Ia menegaskan bahwa penyebutan level tiga tidak berarti juara ketiga, melainkan merupakan tingkatan penilaian dalam sistem penghargaan kompetisi.
“Level tiga ini bukan berarti juara tiga, melainkan level pengakuan tingkat gold,” jelasnya.
Menurutnya, dari 11 peserta yang tampil dalam kategori Folklore, Vincenzo Singers berhasil memperoleh penghargaan emas. Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena diraih pada keikutsertaan perdana mereka dalam kompetisi tersebut.
Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Oke Narasi pada 26 Oktober 2026, Vincenzo Singers dilaporkan meraih penghargaan emas dalam kompetisi yang diikuti paduan suara dari berbagai negara.
Kelompok ini beranggotakan 26 penyanyi dengan Yuventius F. Boykletes sebagai konduktor. Mereka berada dalam pembinaan Ady SEM Pontus, dengan Yuni Siregar sebagai pendamping.
Perjalanan rombongan juga didampingi tiga imam dari tim Sekeping Hati untuk Maria Keuskupan Atambua yakni Rm. Kristo Oki, Pr., P. Jose Nitsae, OFMConv., dan Rm. Robby Kiik, Pr.
Sukacita Kemenangan di Tengah Kabar Duka
Di balik sukacita memperoleh penghargaan emas, rombongan Vincenzo Singers juga menghadapi pengalaman kehilangan yang mendalam.
Rm. Kristo mengisahkan bahwa ibu dari salah seorang anggota kelompok, Pedro Nahak, meninggal dunia ketika rombongan masih berada dalam perjalanan internasional tersebut.
Kabar duka itu diterima setelah kompetisi dan malam penutupan berlangsung.
Akibatnya, Pedro harus kembali lebih dahulu daripada anggota rombongan lainnya untuk menghadapi peristiwa kehilangan dalam keluarganya.
Peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang sangat mengharukan bagi seluruh rombongan.
Di satu sisi, mereka baru saja merayakan keberhasilan memperoleh penghargaan emas. Di sisi lain, salah seorang anggota harus menghadapi kenyataan kehilangan ibu tercinta. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa perjalanan Vincenzo Singers tidak hanya berisi kegembiraan dan keberhasilan.
Ada pula kesedihan, keterbatasan dan pengalaman manusiawi yang menuntut solidaritas serta kepedulian di antara sesama anggota.
Dalam situasi tersebut, makna kebersamaan menjadi lebih mendalam. Mereka bukan hanya sebuah kelompok penyanyi yang tampil bersama di atas panggung, tetapi juga komunitas yang berbagi pengalaman hidup.
Menghadapi Perbedaan Bahasa, Makanan dan Iklim
Selain tantangan pembiayaan dan persoalan pribadi anggota, perjalanan Vincenzo Singers juga diwarnai kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Rm. Kristo menyebut perbedaan bahasa, makanan, minuman dan kondisi iklim di Eropa sebagai bagian dari pengalaman yang harus dihadapi rombongan. Bagi kelompok yang datang dari Timor, perjalanan internasional ini menuntut kesiapan untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan situasi yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.
Namun berbagai tantangan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memperkaya pengalaman anggota. Keberhasilan mereka tampil dan memperoleh penghargaan emas di tengah situasi tersebut memperlihatkan pentingnya kesiapan mental, kerja sama, dan ketekunan dalam menghadapi perubahan.
Dari Panggung Kompetisi Menuju Fatima
Perjalanan Vincenzo Singers belum berakhir setelah menerima penghargaan emas di Spanyol. Rm. Kristo menjelaskan bahwa rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Fatima, Portugal, untuk mengikuti perayaan Ekaristi pada 28 Oktober 2026.
Ziarah tersebut direncanakan sebagai ungkapan syukur atas seluruh perjalanan, dukungan, dan hasil yang diperoleh dalam kompetisi.
Menurut Rm. Kristo, perayaan Ekaristi itu tidak hanya dimaksudkan untuk mensyukuri keberhasilan kelompok. Rombongan juga akan membawa intensi-intensi doa yang dipercayakan para donatur dan pendukung kepada mereka.
Dengan demikian, perjalanan menuju Fatima menjadi kesempatan untuk mengenang kembali seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam perjuangan Vincenzo Singers.
Dukungan para donatur, keluarga, umat, imam, biarawan-biarawati dan berbagai komunitas akan dibawa dalam doa sebagai bagian dari ungkapan syukur bersama. Ziarah tersebut sekaligus memperlihatkan dimensi rohani yang sejak awal menyertai perjalanan kelompok.
Mereka berangkat untuk mengikuti kompetisi, tetapi juga membawa harapan dan doa banyak orang yang telah mempercayakan dukungan kepada mereka.
Menyiapkan Video Klip Bunda Pembantu Abadi
Selain berziarah ke Fatima, rombongan Vincenzo Singers juga memiliki agenda khusus untuk membuat video klip lagu rohani berjudul Bunda Pembantu Abadi, karya almarhum Fr. Albert Thius.
Menurut Rm. Kristo, pembuatan video klip tersebut merupakan permintaan khusus dari Uskup Atambua. Rencana itu menjadi bagian dari kelanjutan pelayanan musik rohani Vincenzo Singers melalui media digital.
Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Oke Narasi, Vincenzo Singers telah mengembangkan pelayanan musik melalui kanal YouTube yang menurut keterangan pendampingnya mengumpulkan sekitar 21 juta tayangan.
Pencapaian digital tersebut menjadi salah satu latar perjalanan kelompok menuju panggung internasional. Melalui rencana produksi video klip di tengah perjalanan ziarah, Vincenzo Singers diharapkan terus mengembangkan karya musik yang menghubungkan kreativitas, pelayanan dan spiritualitas.
Emas yang Lahir dari Banyak Pengorbanan
Keberhasilan Vincenzo Singers di Spanyol memperlihatkan bahwa prestasi internasional tidak selalu lahir dari keadaan yang serba berkecukupan.
Di balik penampilan yang memperoleh apresiasi penonton, ada perjuangan menghimpun dana lebih dari Rp1,4 miliar, konser penggalangan dana, dukungan lintas komunitas serta kesediaan banyak orang membantu tanpa harus tampil di atas panggung.
Ada pula pengalaman anggota yang batal berangkat karena kesehatan, tantangan penyesuaian selama perjalanan dan kesedihan seorang penyanyi yang harus pulang lebih dahulu karena kehilangan ibunya.
Semua pengalaman itu menjadi bagian dari kisah yang tidak tercatat dalam penilaian kompetisi.
Bagi Rm. Kristo, perjalanan Vincenzo Singers memperlihatkan bahwa pelayanan yang dijalankan dengan keyakinan dan kesetiaan dapat mempertemukan banyak orang dalam satu tujuan.
Penghargaan emas menjadi pengakuan atas kemampuan musikal mereka. Namun perjalanan menuju penghargaan itu juga meninggalkan pelajaran tentang pengorbanan, solidaritas dan iman.
Vincenzo Singers berangkat dari Timor untuk memperdengarkan suara mereka kepada dunia. Mereka pulang membawa penghargaan emas tetapi juga pengalaman yang lebih dalam bahwa di balik sebuah prestasi besar, selalu ada banyak hati yang bersedia memberi diri.
Di Spanyol mereka menerima emas. Di Fatima mereka akan mempersembahkan syukur. Dan di antara keduanya, tersimpan kisah tentang iman yang terus bernyanyi, bahkan ketika perjalanan tidak selalu mudah. (KU)