KOLKITA-KEFAMENANU, Tiga medali emas berhasil diraih Graciana Tati Oematan (22), atlet Shorinji Kempo asal Kefamenanu-TTU-Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memperkuat Kota Semarang, pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 di GOR Kridanggo, Salatiga. Di balik keberhasilan perempuan yang akrab disapa Tati itu, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu di Kefamenanu-Timor yang bertahun-tahun membesarkan empat anak seorang diri.
Ibu
itu bernama Ancila Nino Bahan, guru agama Katolik di SDK Kiupukan II, Kecamatan
Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Beliau tinggal
di Kefamenanu, setiap hari menggunakan sepeda motornya ke sekolah yang jarak
tempuhnya sekitar 20-an km.
Sejak
suaminya meninggal beberapa tahun lalu, Ancila menjalani dua tanggung jawab
besar sekaligus. mendidik anak-anak di sekolah dan memperjuangkan masa depan keempat
anaknya di rumah.
Penghasilannya
sebagai guru honorer komite terbatas. Namun dari keterbatasan itulah tumbuh
seorang putri yang kini mampu berdiri di podium kemenangan dengan tiga medali
emas.
Bagi Ancila, alumnus STP St. Petrus Keuskupan Atambua, kabar kemenangan Tati bukan sekadar berita olahraga. Itu adalah jawaban atas perjuangan panjang, pengorbanan yang tidak selalu terlihat dan doa yang terus dipanjatkan seorang ibu.
Tiga Emas dari Tiga Nomor Pertandingan
Prestasi
Graciana menjadi salah satu sorotan dalam cabang olahraga Shorinji Kempo pada
Porprov XVII Jawa Tengah 2026.
Berdasarkan
laporan SemarangNetwork.com dari Salatiga, Graciana berhasil menyapu
bersih tiga medali emas dari tiga nomor pertandingan yang diikutinya yakni
randori putri kelas 50–55 kilogram, embu berpasangan putri Kyukenshi dan embu
berpasangan campuran Kyukenshi.
Perjuangan
itu tidak ringan. Jadwal pertandingan yang berdekatan memaksanya berpindah dari
satu tatami ke tatami lainnya, dengan tuntutan teknik, konsentrasi dan
ketahanan fisik yang berbeda.
“Saya
bermain di tiga nomor, jadi fisik saya betul-betul diuji. Saya harus pindah
dari tatami A, B, dan C, tetapi puji Tuhan akhirnya bisa menyelesaikan semuanya
dengan baik dan meraih tiga medali emas,” ungkap Graciana, sebagaimana dikutip SemarangNetwork.com.
Prestasi
tersebut bukan keberhasilan yang datang secara tiba-tiba.
Tati
telah mengenal olahraga Shorinji Kempo sejak berusia 10 tahun. Untuk menghadapi
Porprov Jawa Tengah 2026, ia menjalani persiapan selama lebih dari dua tahun.
Rekam
jejak prestasinya juga telah mencapai tingkat nasional. Pada Pekan Olahraga
Nasional (PON) XXI Aceh–Sumatera Utara 2024, ia berhasil meraih medali emas.
Sementara dalam PON Beladiri di Kudus, Tati memperoleh satu medali perak dan
dua medali perunggu.
Dalam
Porprov kali ini, Tati bersama dua atlet Kota Semarang lainnya, Sabilu
Habiburrahman Zarkasi (21) dan Gilang Ramadan Al-Fayed (21), mengumpulkan total
delapan medali emas. Sabilu meraih tiga emas, sedangkan Gilang menyumbangkan
dua emas.
Di tengah persaingan olahraga yang ketat, keberhasilan Tati memperlihatkan bahwa ketekunan dan disiplin mampu membawa seorang anak dari Kefamenanu-TTU-Timor menorehkan prestasi di tingkat nasional maupun daerah tempatnya kini menetap.
Seorang Ibu Katekis, Empat Anak dan Satu Perjuangan
Jauh dari arena pertandingan di Salatiga, Ancila menjalani kehidupan yang berbeda. Di SDK Kiupukan II sebagai katekis, ia mengajarkan pendidikan agama Katolik kepada murid-muridnya. Namun sepulang mengajar, tanggung jawab lain menantinya, memastikan keempat anaknya tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Sejak
kepergian suaminya, Ancila menjadi penopang utama keluarga. Ia harus
menjalankan peran sebagai ibu sekaligus pencari nafkah, dengan penghasilan yang
tidak selalu mampu menjawab seluruh kebutuhan rumah tangga.
Ada
saat-saat ketika persoalan ekonomi menghadapkan dirinya pada pilihan yang
menyakitkan.
“Mau
beli beras atau mau bayar uang sekolah,” tuturnya, menggambarkan keadaan yang
pernah dihadapinya.
Kalimat
sederhana itu menyimpan kenyataan yang dialami banyak keluarga berpenghasilan
terbatas, kebutuhan makan tidak dapat ditunda, sementara pendidikan anak-anak
juga tidak boleh terhenti.
Namun Ancila tidak membiarkan keadaan menentukan batas cita-cita anak-anaknya. Tati, sebagai putri sulung, terus didorong untuk belajar dan mengembangkan kemampuan olahraga. Sementara adik-adiknya sedang menempuh pendidikan di bidang kesehatan dan teknologi informasi dan sekolah dasar.
Ancila berharap anak-anaknya dapat menyelesaikan pendidikan dan kelak membangun kehidupan yang lebih baik daripada kesulitan yang mereka alami hari ini. Karena itulah, setiap prestasi Tati membawa harapan yang lebih besar daripada sebuah medali.
Dari Tanah Timor, Berprestasi untuk Semarang
Perjalanan
pendidikan dan pekerjaan membawa Tati meninggalkan kampung halamannya Kefamenanu-TTU-NTT
dan menetap di Jawa Tengah.
Menurut
Ancila, keputusan untuk memindahkan administrasi kependudukan putrinya
dilakukan atas kesepakatan keluarga demi kelangsungan pendidikan, pekerjaan dan
kesempatan mengembangkan karier olahraga.
Kini,
Graciana tercatat sebagai atlet asal Bongsari, Kota Semarang. Walaupun tampil
membawa nama Kota Semarang, asal-usul Tati tetap menjadi kebanggaan ibunya.
“Kita
bangga anak NTT bisa tampil membanggakan Jawa Tengah,” ungkap Ancila.
Baginya,
keberhasilan seorang anak tidak kehilangan makna hanya karena nama daerah yang
dibawanya dalam pertandingan telah berubah.
Justru di situlah kebanggaan itu bertambah, seorang anak yang dibesarkan dengan segala keterbatasan di Timor mampu memperoleh kesempatan, berkembang dan memberikan prestasi bagi daerah tempatnya menjalani kehidupan.
Pelatih dari Jauh yang Tidak Mengerti Kempo
Di
balik keseriusan latihan dan pertandingan, ada kisah kecil yang memperlihatkan
kedekatan Tati dengan ibunya.
Ketika
berada di Jawa, Tati sesekali memperlihatkan gerakan latihan kempo melalui
panggilan video. Ancila memperhatikan putrinya dari layar telepon. Ia bahkan
terkadang memberikan komentar dan penilaian terhadap gerakan yang diperagakan
Tati.
Padahal, dengan nada bercanda, ia mengaku tidak memahami teknik kempo sama sekali. Kisah itu mengundang tawa, tetapi sekaligus memperlihatkan sesuatu yang mendalam.
Seorang
ibu tidak harus menguasai olahraga yang ditekuni anaknya untuk dapat memberikan
dukungan. Kehadirannya, meskipun hanya melalui layar telepon, menjadi bentuk
kasih yang terus menyertai perjalanan putrinya.
Ancila mungkin tidak mengetahui cara melakukan randori atau embu. Namun ia memahami arti perjuangan, ketekunan dan keberanian menghadapi kesulitan. Nilai-nilai itulah yang terus ditanamkannya kepada anak-anaknya.
Sebuah Alkitab yang Menemani Perjalanan
Ada
satu kisah yang secara khusus membuat Ancila terharu ketika mengenang
perjalanan Tati.
Saat
putrinya berangkat ke Jawa, keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan dirinya
memberikan banyak bekal materi. Ia menyerahkan sesuatu yang dianggapnya sangat
berharga yakni sebuah Alkitab.
“Saat
dia ke Jawa, saya hanya kasih pegang Alkitab. Karena saya jauh, saya pesan,
kuatkan dirimu, Nak, dengan Alkitab,” kenangnya.
Bagi
Ancila, Alkitab bukan sekadar benda yang dibawa dalam perjalanan. Ia berharap
firman Tuhan menjadi pegangan bagi putrinya ketika harus menghadapi kehidupan
jauh dari keluarga. Pesan tersebut ternyata dijalankan Tati dengan
sungguh-sungguh.
Menurut
kesaksian ibunya, Tati membaca Alkitab secara tekun dari Kitab Kejadian hingga
Kitab Wahyu. Bahkan ia menyelesaikan pembacaan tersebut sehari sebelum
berangkat ke Salatiga untuk mengikuti pertandingan.
Ancila
menyebut pengalaman itu sebagai sebuah rahasia yang selama ini tersimpan di
balik perjuangan putrinya.
“Saya
bangga. Puji Tuhan, anak itu tanding dengan kekuatan Roh Kudus,” ungkapnya
penuh syukur.
Bagi
Ancila, iman tidak menggantikan latihan, disiplin atau kerja keras. Namun iman
menjadi sumber keteguhan batin yang menolong putrinya menjalani proses panjang
menuju keberhasilan.
Ketekunan
berlatih membentuk kemampuan Tati sebagai atlet. Sementara doa dan kehidupan
rohani dalam keyakinan keluarganya, membantu menjaga keberanian serta harapan
ketika menghadapi tantangan.
Sebuah Alkitab yang dahulu diberikan sebagai bekal sederhana kini menjadi bagian dari cerita perjalanan seorang anak yang berhasil meraih tiga medali emas.
Tiga Emas, Empat Anak, Satu Harapan
Bagi
Ancila, keberhasilan Tati tidak berhenti pada perolehan medali. Ia berharap
putrinya terus mengembangkan prestasi, menyelesaikan pendidikan dan memperoleh
kesempatan yang lebih baik pada masa depan.
Lebih
dari itu, ia menyimpan harapan agar keberhasilan Tati kelak dapat membantu
meringankan beban keluarga termasuk membiayai pendidikan adik-adiknya.
“Semoga
Tati terus tekun dengan pendidikan dan kegiatan kempo untuk mewujudkan masa
depan adik-adiknya,” harap Ancila.
Harapan
tersebut memperlihatkan betapa luasnya makna sebuah kemenangan bagi keluarga
sederhana.
Tiga
medali emas mungkin menjadi catatan prestasi olahraga bagi Kota Semarang. Namun,
bagi Ancila, ketiganya juga menjadi lambang harapan bagi empat anak yang terus
diperjuangkannya sejak kehilangan suami.
Kisah ini sekaligus memperlihatkan bahwa prestasi olahraga tidak hanya lahir dari arena latihan dan pertandingan. Di belakangnya, sering kali ada keluarga yang bertahan dalam kesulitan, orang tua yang bekerja melampaui kemampuan serta pengorbanan yang tidak pernah tercatat dalam laporan pertandingan.
Emas di Podium, Kasih di Kefamenanu
Ketika
Graciana Tati Oematan berdiri sebagai peraih tiga medali emas, publik melihat
keberhasilan seorang atlet berusia 22 tahun yang mampu menaklukkan tiga nomor
pertandingan.
Namun,
di SDK Kiupukan II, ada seorang guru agama Katolik bernama Ancila Nino Bahan
yang memiliki alasan tersendiri untuk bersyukur.
Ia
telah kehilangan suami, tetapi tidak kehilangan keberanian membesarkan
anak-anaknya. Ia hidup dengan penghasilan terbatas tetapi tidak membatasi masa
depan mereka. Ia tidak mampu selalu hadir di sisi putrinya, tetapi tetap
menyertainya melalui perhatian, nasihat dan doa.
Tati
memang harus berpindah dari tatami A ke B dan C untuk meraih tiga medali emas.
Sementara ibunya telah bertahun-tahun berpindah dari ruang kelas ke pekerjaan
rumah tangga, dari tanggung jawab mencari nafkah ke perjuangan membayar
pendidikan anak-anaknya.
Keduanya
menjalani pertandingan yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh ketekunan yang
sama.
Tiga
medali emas kini menjadi milik Tati. Namun di balik kilauannya, ada kemenangan
lain yang tidak diberikan di atas podium, kemenangan seorang ibu yang tetap
setia membesarkan anak-anak, bahkan ketika kehidupan memaksanya berjuang
seorang diri.
Sebab
sebelum Tati memenangkan emas di Salatiga, Ancila telah lebih dahulu
mengajarkan arti kemenangan melalui kasih yang tidak menyerah. (KU)