KOLKITA-Kefamenanu, Di balik berdirinya Gua Santa
Maria Fatima, tersimpan kisah keraguan yang berubah menjadi panggilan iman. Dua
donatur asal Atambua, Vincent Sudjatno dan Imelda Lasakar, mengungkapkan
pengalaman tersebut saat peresmian gua di Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Santo
Petrus Keuskupan Atambua, Kefamenanu, Jumat (16/10/2026).
Imelda
mengaku sempat ragu menerima tanggung jawab membantu pembangunan gua. Meski
memiliki kemampuan secara ekonomi, ia menyadari bahwa pekerjaan tersebut
membutuhkan kesiapan hati dan keteguhan iman.
“Awalnya
saya ragu karena biasanya kalau dapat tanggung jawab itu yang berhubungan
dengan proyek bangunan. Tapi ini seperti sebuah anugerah Tuhan yang sangat
hebat untuk kami,” ungkapnya.
Keraguan
itu akhirnya berubah menjadi sukacita. Bersama Vincent, Imelda bersyukur dapat
mengambil bagian dalam menghadirkan tempat doa bagi warga kampus.
Keduanya
juga mengapresiasi perkembangan STP Santo Petrus, terutama dedikasi para dosen,
keteraturan kegiatan kampus, serta kepercayaan menjadi tuan rumah PERPETAKI
VII.
“Kami
sangat bangga dengan seluruh pendidik yang ada di sini,” tutur keduanya.
Bagi
kedua donatur, selesainya pembangunan gua bukanlah akhir dari tanggung jawab.
Mereka berharap seluruh warga kampus menjadikannya sebagai ruang doa yang hidup
sekaligus merawatnya dengan penuh kepedulian.
“Jagalah,
rawatlah gua ini seperti engkau merawat dirimu,” pesan keduanya.
Vincent
secara khusus mengajak mahasiswa dan seluruh warga kampus untuk semakin
mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa dan devosi kepada Bunda Maria.
“Jangan
ragu-ragu untuk datang kepada Bunda karena dialah sang perantara doa kita
kepada Anak-Nya di surga,” ujarnya.
Ia
menutup pesannya dengan sebuah refleksi tentang pentingnya memelihara hubungan
pribadi dengan Tuhan.
“Tuhan
jauh karena kita juga jauh dari-Nya,” katanya.
Bagi Vincent dan Imelda, Gua Santa Maria Fatima bukan sekadar bangunan yang telah selesai dikerjakan. Gua tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus warisan rohani yang perlu dijaga bersama. Di balik batu-batu yang tersusun, tersimpan kisah tentang keraguan yang berubah menjadi keberanian, bantuan yang menjadi pelayanan dan iman yang menemukan wujudnya dalam tindakan. (CB)