Sunday, 25 October 2026 kolkita79@gmail.com
TERKINI
TUHAN MENDENGAR LUKA

TUHAN MENDENGAR LUKA

TUHAN MENDENGAR LUKA

 

    Bayangkan seorang ibu yang harus memilih antara membeli beras atau membayar uang sekolah anaknya. Seorang pelajar atau mahasiswa yang tersenyum di ruang kelas, tetapi diam-diam menahan lapar. Seorang ayah yang bekerja seharian, tetapi pulang tanpa menerima upah. Atau orang tua yang hidup berkecukupan, tetapi kesepian karena anak-anaknya jarang menyapa. Ada pula keluarga yang menanggung beban utang, orang sakit yang menunggu perhatian dan anak muda yang kehilangan semangat karena merasa tidak seorang pun memahami pergumulannya.

    Ternyata tidak semua orang yang tersenyum, sedang bahagia. Tidak semua yang diam, sedang baik-baik saja. Ada luka yang tidak terlihat, tetapi terasa begitu berat bagi yang menanggungnya.  

    Dalam bacaan pertama, Allah berfirman, “Jika ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih” (Kel. 22:27). Tuhan tidak hanya mendengar doa yang naik dari altar. Tuhan juga mendengar tangis dan air mata yang jatuh tanpa suara. 

    Allah melarang penindasan terhadap orang asing, janda, yatim dan orang miskin. Bahkan jubah yang menjadi jaminan utang harus dikembalikan sebelum malam agar pemiliknya tidak kedinginan. Betapa menyentuh! 

    Ketika manusia menghitung utang, Allah memikirkan tubuh yang menggigil. Bagi Tuhan, martabat manusia lebih berharga daripada uang dan kepentingan. Apakah hati kita masih peka terhadap penderitaan sesama?

    Dalam Injil, Yesus menegaskan dua perintah utama: mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bergantung pada kedua perintah ini. Kasih bukan sekadar bagian dari agama. Kasih adalah jiwa kehidupan beriman. 

    Tanpa kasih, doa kehilangan buahnya, ilmu menjadi kesombongan, kekuasaan menjadi penindasan dan kekayaan kehilangan kepekaan. Kita mungkin rajin berdoa, tetapi apakah kita lembut terhadap keluarga? Kita berbicara tentang keadilan, tetapi apakah kita menghargai pekerja?

    Betapa ironisnya jika rumah kita megah tetapi hati penghuni kehilangan kehangatan. Mengasihi Allah berarti juga menghormati manusia yang dikasihi-Nya.

    Kasih harus menyentuh seluruh kehidupan. Di rumah, orang tua sediakan waktu untuk anak, jangan hanya siap uang jajan, nanti anak cepat sakit. Di sekolah atau kampus, guru bangun karakter, jangan hanya sekadar kejar nilai di rapor. Dalam pekerjaan, hargai manusia, bukan hanya hasil. Dalam kepemimpinan, utamakan pelayanan, bukan kehormatan. 

    Kita mungkin tidak mampu menghapus kemiskinan, tetapi jangan merendahkan orang yang kekurangan. Kita mungkin tidak sanggup menyembuhkan semua luka, tetapi berhentilah melukai orang lain, termasuk dengan perkataan. Kasih tidak selalu menuntut tindakan besar. Terkadang kasih hanya meminta kita tidak menambah berat salib di atas pundak orang lain yang sementara memikul salibnya sendiri.

    Sebelum bertanya apakah Tuhan mendengar doa kita, tanyakanlah hal ini, apakah kehadiran kita menjadi berkat atau justru menambah luka di atas duka sesama? Jangan hanya mengangkat tangan kepada Tuhan di surga. Ulurkanlah tangan kepada saudara di bumi.  Sebab doa mendekatkan hati kepada Tuhan tetapi kasih menghadirkan iman yang nyata dalam tindakan.

    Iman mencapai keindahannya ketika, tangan yang terangkat dalam doa, juga mengangkat saudara yang jatuh. Sembahlah Tuhan dan rangkullah sesama yang terluka. Karena kita semua berharga di mata Tuhan, dan Dia menciptakan kita, baik adanya. AMIN

***Renungan HMB XXXA, Kel 22:21–27; Mat 22:34–40, hutan keramat, 25/10/2026