TUHAN MENDENGAR LUKA
Bayangkan seorang ibu yang harus
memilih antara membeli beras atau membayar uang sekolah anaknya. Seorang
pelajar atau mahasiswa yang tersenyum di ruang kelas, tetapi diam-diam menahan
lapar. Seorang ayah yang bekerja seharian, tetapi pulang tanpa menerima
upah. Atau orang tua yang hidup berkecukupan, tetapi kesepian karena
anak-anaknya jarang menyapa. Ada pula keluarga yang menanggung beban
utang, orang sakit yang menunggu perhatian dan anak muda yang kehilangan
semangat karena merasa tidak seorang pun memahami pergumulannya.
Ternyata tidak semua orang yang
tersenyum, sedang bahagia. Tidak semua yang diam, sedang baik-baik saja. Ada
luka yang tidak terlihat, tetapi terasa begitu berat bagi yang
menanggungnya.
Dalam bacaan pertama, Allah berfirman, “Jika
ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih”
(Kel. 22:27). Tuhan tidak hanya mendengar doa yang naik dari altar. Tuhan juga mendengar
tangis dan air mata yang jatuh tanpa suara.
Allah melarang penindasan terhadap
orang asing, janda, yatim dan orang miskin. Bahkan jubah yang menjadi jaminan
utang harus dikembalikan sebelum malam agar pemiliknya tidak kedinginan. Betapa
menyentuh!
Ketika manusia menghitung utang, Allah
memikirkan tubuh yang menggigil. Bagi Tuhan, martabat manusia lebih berharga
daripada uang dan kepentingan. Apakah hati kita masih peka terhadap penderitaan
sesama?
Dalam Injil, Yesus menegaskan dua
perintah utama: mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bergantung pada kedua perintah ini.
Kasih bukan sekadar bagian dari agama. Kasih adalah jiwa kehidupan beriman.
Tanpa kasih, doa kehilangan buahnya,
ilmu menjadi kesombongan, kekuasaan menjadi penindasan dan kekayaan kehilangan
kepekaan. Kita mungkin rajin berdoa, tetapi apakah kita lembut terhadap
keluarga? Kita berbicara tentang keadilan, tetapi apakah kita menghargai
pekerja?
Betapa ironisnya jika rumah kita megah
tetapi hati penghuni kehilangan kehangatan. Mengasihi Allah berarti juga
menghormati manusia yang dikasihi-Nya.
Kasih harus menyentuh seluruh
kehidupan. Di rumah, orang tua sediakan waktu untuk anak, jangan hanya siap uang
jajan, nanti anak cepat sakit. Di sekolah atau kampus, guru bangun karakter, jangan
hanya sekadar kejar nilai di rapor. Dalam pekerjaan, hargai manusia, bukan
hanya hasil. Dalam kepemimpinan, utamakan pelayanan, bukan kehormatan.
Kita mungkin tidak mampu menghapus
kemiskinan, tetapi jangan merendahkan orang yang kekurangan. Kita mungkin tidak
sanggup menyembuhkan semua luka, tetapi berhentilah melukai orang lain,
termasuk dengan perkataan. Kasih tidak selalu menuntut tindakan besar. Terkadang
kasih hanya meminta kita tidak menambah berat salib di atas pundak orang lain
yang sementara memikul salibnya sendiri.
Sebelum bertanya apakah Tuhan mendengar doa kita, tanyakanlah hal ini, apakah kehadiran kita menjadi berkat atau justru menambah luka di atas duka sesama? Jangan hanya mengangkat tangan kepada Tuhan di surga. Ulurkanlah tangan kepada saudara di bumi. Sebab doa mendekatkan hati kepada Tuhan tetapi kasih menghadirkan iman yang nyata dalam tindakan.
Iman mencapai keindahannya ketika, tangan yang terangkat dalam doa, juga mengangkat saudara yang jatuh. Sembahlah Tuhan dan rangkullah sesama yang terluka. Karena kita semua berharga di mata Tuhan, dan Dia menciptakan kita, baik adanya. AMIN
***Renungan HMB XXXA, Kel 22:21–27; Mat 22:34–40, hutan keramat, 25/10/2026