Pagi itu, Maria membawa sebatang lilin
yang belum dinyalakan.
Sejak keluar dari rumah, lilin itu terus
berada dalam genggamannya. Sesekali dipandang. Sesekali disembunyikan di balik
lipatan kain hitam yang dikenakannya.
Di depan, Mama berjalan bersama dua
adiknya. Tidak banyak percakapan sepanjang perjalanan. Hanya suara sandal
menyentuh tanah dan angin yang menggerakkan daun-daun kering.
Hari itu, mereka berempat hendak mengunjungi Bapak. Bukan di rumah. Bukan pula di kebun tempat Bapak biasa bekerja. Melainkan di sebuah pusara yang masih terasa asing bagi mereka.
Beberapa bulan lalu, Bapak masih duduk di
beranda. Meminum kopi pahit. Memanggil anak-anaknya satu per satu. Menanyakan
kuliah Maria, pekerjaan rumah, dan uang sekolah adik-adiknya.
Sekarang, yang tersisa hanya sebuah nama pada batu nisan. Maria berhenti beberapa langkah sebelum makam.
"Sudah sampai, Kak," bisik adik
bungsunya.
Maria mengangguk. Tetapi kakinya tidak segera bergerak. Sejak Bapak meninggal, rumah mereka berubah. Tidak ada yang memindahkan kursi di beranda. Gelas kesayangan Bapak masih tersimpan di rak. Sepasang sandal tua tetap berada di bawah bangku. Mama pernah hendak membereskannya.
"Biarkan dulu, Ma," kata Maria.
Mama tidak bertanya mengapa. Barangkali seorang ibu memahami bahwa ada benda-benda yang tidak lagi berguna, tetapi belum sanggup dilepaskan.
Maria sedang kuliah ketika kabar tentang
keadaan Bapak memburuk datang. Perjalanan pulang terasa terlalu panjang.
Sepanjang jalan, doa yang sama terus diulang.
"Tuhan, tunggu saya sampai."
Tetapi tidak semua permohonan memperoleh
jawaban seperti yang diharapkan.
Sejak hari pemakaman, Maria jarang menangis di depan adik-adiknya. Ketika Mama terdiam di dapur, Maria yang menyiapkan makan. Ketika adiknya bertanya tentang biaya sekolah, Maria berusaha menjawab dengan tenang.
"Kita pikirkan sama-sama."
Kalimat itu sering diucapkan. Padahal setiap malam, pertanyaan yang sama kembali memenuhi pikirannya. Bagaimana kami akan hidup tanpa Bapak?
Di pemakaman, Mama lebih dahulu berlutut. Rumput kecil mulai tumbuh di sekitar makam. Tanahnya telah mengeras, tetapi bagi Maria, segala sesuatu masih terasa baru.
Mama membersihkan daun-daun kering. Adik keduanya mengeluarkan bunga dari kantong plastik. Si bungsu menaruh sebotol air di samping batu nisan. Maria masih berdiri.
"Maria, mari bakar lilin," kata
Mama perlahan.
Lilin di tangannya terasa semakin berat. Maria mencoba mendekat. Namun, ketika melihat nama Bapak terukir pada batu itu, dadanya mendadak sesak.
"Bapak..."
Suaranya terputus. Mama menoleh.
"Aduh, Bapak..." Maria menunduk.
"Saya tidak sanggup bakar lilin ini, Bapak. Saya juga tidak sanggup tabur
bunga untuk Bapak."
Air matanya mulai jatuh.
"Hati ini terlalu sakit."
Tidak seorang pun segera menjawab. Adik bungsunya mendekat, lalu memegang ujung bajunya. Maria berlutut. Tangannya menyentuh tanah.
Dahulu, tangan itu selalu disambut Bapak.
Ketika masih kecil, Bapak menggenggamnya saat menyeberang jalan. Ketika Maria
pertama kali berangkat kuliah, tangan yang sama menepuk bahunya.
"Belajar baik-baik. Jangan pikir
terlalu banyak tentang rumah."
Sekarang, tanah yang dingin berada di
antara mereka.
"Ai, Bapak di mana?"
Maria memandang batu nisan itu.
"Ini kami berempat sedang ada di
samping Bapak. Bapak tidak ingat kami?"
Tangisnya pecah.
"Ini kami sendiri, Bapak."
Mama menutup wajah. Kedua adiknya ikut menangis.
Di sekeliling mereka, keluarga lain sedang
menyalakan lilin dan menaburkan bunga. Ada yang berdoa. Ada yang berbicara
pelan. Sesekali terdengar suara anak kecil memanggil ibunya.
Tetapi bagi Maria, dunia seperti berhenti
pada empat orang yang sedang berlutut di depan satu pusara.
Dahulu mereka berlima. Sekarang tinggal berempat. Satu orang pergi, tetapi kekosongannya terasa di seluruh rumah.
Setelah tangis mereda, Maria duduk di tanah. Lilin itu masih belum menyala. Mama mengusap pipinya dengan ujung selendang.
"Kamu ingat Bapak pernah bilang apa
waktu atap rumah bocor?" tanya Mama.
Maria menggeleng.
"Waktu itu hujan besar. Air masuk
sampai ke kamar. Bapak bilang, suatu hari kita buat rumah yang lebih
bagus."
Maria tersenyum tipis.
"Ingat, Ma. Bapak juga bilang mau
buat kamar sendiri untuk kami."
"Iya."
Mama memandang pusara.
"Belum sempat."
Kalimat itu menggantung. Si bungsu yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, "Mama, rumah Bapak sekarang bagus?"
Mama menarik napas.
"Kita berharap Bapak sudah bersama
Tuhan."
"Tapi Bapak tidak kedinginan kalau
hujan?"
Maria menoleh kepada adiknya. Pertanyaan itu begitu sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, hati Maria kembali bergetar.
Dahulu setiap hujan deras, Bapak selalu
bangun lebih dahulu. Memeriksa jendela. Menaruh ember di bawah atap yang bocor.
Memastikan anak-anak tidak kehujanan.
Bahkan ketika sedang sakit, Bapak masih memikirkan apakah rumah cukup aman bagi mereka. Maria merangkul adiknya.
"Di tempat Tuhan, kita percaya Bapak
tidak perlu takut hujan lagi."
Adiknya mengangguk meski mungkin belum sepenuhnya mengerti. Maria memandang makam.
"Semoga Bapak tenang dan aman di
rumah baru," bisiknya. "Rumah yang lebih mewah dari kita punya rumah
di sini."
Kata mewah tiba-tiba terasa berbeda. Selama ini Maria membayangkan rumah yang baik sebagai rumah berdinding kuat, beratap bagus dan memiliki cukup kamar.
Namun di depan pusara Bapak, muncul pengertian lain. Mungkin rumah paling indah bukan rumah yang memiliki segala sesuatu, melainkan tempat seseorang tidak lagi harus menanggung sakit, takut, dan kelelahan.
Maria tidak mengetahui seperti apa
kehidupan setelah kematian. Tetapi imannya mengajarkan bahwa kasih Allah jauh
lebih besar daripada segala yang dapat dibangun manusia.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Maria mampu memandang makam tanpa hanya melihat perpisahan. Ada pengharapan yang perlahan tumbuh di antara kesedihannya.
"Bapak dulu sering bilang, kalau kita makan harus ingat orang lain," kata adik keduanya. Maria menoleh.
"Kapan?"
"Waktu Bapak pulang dari kebun bawa
jagung. Saya mau ambil banyak. Bapak bilang, sisakan untuk Mama dan
Kakak."
Mama tertawa kecil.
"Padahal Bapak sendiri kadang belum
makan."
Percakapan mulai mengalir. Mereka mengingat kebiasaan Bapak menyimpan uang receh di kaleng bekas biskuit. Cara Bapak memperbaiki sandal yang putus. Suara batuknya setiap pagi. Juga kebiasaannya menanyakan apakah Maria sudah makan setiap kali menelepon dari kampus.
Pertanyaan itu dahulu terasa biasa. Sekarang, Maria sangat ingin mendengarnya sekali lagi.
"Sudah makan, Nak?"
Betapa aneh kehidupan. Ketika seseorang masih ada, kita sering menunggu hal-hal besar untuk merasa dicintai. Setelah kepergiannya, justru hal-hal kecil yang paling sulit dilupakan.
Maria membuka telepon genggamnya. Masih ada percakapan terakhir dengan Bapak.
Pesan pendek. Tidak istimewa.
Jaga kesehatan. Belajar baik-baik.
Maria membacanya berulang kali. Tidak ada pesan baru setelah itu. Kalimat tersebut seolah memperoleh arti yang lebih dalam.
Bapak memang tidak lagi dapat membiayai
kuliahnya, mengantar adik-adiknya, atau membantu Mama memperbaiki rumah.
Tetapi masih ada sesuatu yang dapat dilakukan Maria. Menjaga kesehatan. Menyelesaikan kuliah. Mendampingi adik-adiknya. Dan memastikan Mama tidak harus menanggung seluruh kesedihan seorang diri.
Tiba-tiba Maria teringat sesuatu. Sejak Bapak meninggal, Mama hampir tidak pernah ditanya bagaimana perasaannya. Semua orang mengingatkan Mama agar kuat. Agar tabah. Agar memikirkan anak-anak.
Maria sendiri sering meminta Mama tidak menangis. Padahal perempuan yang duduk di sampingnya itu juga sedang kehilangan seseorang yang dicintai.
"Ma..."
"Iya, Nak?"
"Mama capek?"
Mama tersenyum.
"Tidak."
"Bukan capek jalan."
Mama memandang Maria. Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban.
Lalu Mama berkata pelan, "Ada
hari-hari yang berat, Nak."
Maria memeluknya. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, Maria tidak berusaha menjadi anak sulung yang selalu kuat.
Mama pun tidak berusaha menyembunyikan kesedihannya. Mereka menangis bersama.
Kadang sebuah keluarga tidak membutuhkan
seseorang yang paling kuat. Mereka hanya membutuhkan keberanian untuk saling
mengakui bahwa semuanya sedang terluka.
Matahari mulai meninggi. Beberapa keluarga telah meninggalkan pemakaman. Angin bergerak di antara bunga-bunga yang baru ditaburkan. Mama mengeluarkan korek api.
"Maria, kita berdoa?"
Maria memandang lilin dalam genggamannya. Beberapa saat sebelumnya, menyalakan lilin terasa seperti mengakui bahwa Bapak benar-benar telah pergi.
Sekarang perlahan muncul pemahaman lain. Lilin itu bukan tanda menyerah kepada kematian. Nyala kecil itu adalah doa.
Doa bagi Bapak yang telah menyelesaikan
perjalanan duniawinya. Doa bagi Mama yang harus melanjutkan hidup. Doa bagi
ketiga anak yang masih membutuhkan keberanian untuk bertumbuh.
Maria menerima korek api dari tangan Mama. Nyala pertama padam tertiup angin. Maria mencoba lagi.
Kali ini adik bungsunya menangkupkan kedua tangan untuk melindungi api. Adik keduanya membantu menegakkan lilin di tanah. Mama merapikan bunga di sekitarnya. Akhirnya, lilin itu menyala.
Maria memandang ketiga orang di sampingnya. Tidak ada Bapak yang biasa menyelesaikan segala sesuatu.
Tanpa diminta, setiap orang telah melakukan bagian kecilnya. Seseorang membawa api. Seseorang melindunginya. Seseorang menegakkan lilin. Seseorang menyiapkan tempat.
Maria merasakan sesuatu yang belum pernah dipikirkannya. Mungkin begitulah mereka harus melanjutkan hidup. Tidak seorang pun sanggup menggantikan Bapak. Tetapi masing-masing dapat menjaga agar keluarga tidak kehilangan cahaya. Maria menundukkan kepala.
"Tuhan, terimalah Bapak dalam
damai-Mu. Ampunilah segala kekurangannya. Berilah Bapak tempat dalam
rumah-Mu."
Suaranya bergetar.
"Dan tolong kami yang masih di
sini."
Tidak ada doa panjang. Hanya beberapa kalimat dari hati seorang anak yang sedang belajar menerima kenyataan.
Sebelum pulang, Maria mengeluarkan empat tangkai bunga. Satu diberikan kepada Mama. Dua kepada adik-adiknya. Satu disimpan sendiri. Mereka meletakkannya bersama-sama di atas makam.
"Bapak," kata Maria, "kami
pulang dulu."
Kali ini suaranya lebih tenang.
"Saya masih sakit hati karena Bapak
pergi terlalu cepat. Masih banyak yang mau saya ceritakan. Saya juga belum tahu
bagaimana menyelesaikan semuanya."
Maria berhenti sejenak.
"Tapi saya akan berusaha selesaikan
kuliah. Saya akan bantu Mama. Saya akan jaga adik-adik."
Mama menggenggam tangannya.
"Jangan tanggung semuanya sendiri,
Nak," bisiknya.
Maria mengangguk. Lalu menatap pusara sekali lagi.
"Bapak, doakan kami dari rumah baru
itu."
Angin berembus pelan. Tidak ada jawaban dari makam. Maria tidak lagi menunggunya. Sebab doa bukan percakapan yang menuntut orang yang telah meninggal untuk menjawab. Doa adalah cara menyerahkan mereka kepada Tuhan, sambil memohon kekuatan bagi kehidupan yang masih harus dijalani.
Dalam perjalanan pulang, adik bungsunya berjalan paling depan. Tiba-tiba anak itu berhenti.
"Kak Maria."
"Iya?"
"Nanti kalau Kakak sudah selesai
kuliah, kita perbaiki atap rumah?"
Maria memandang Mama. Lalu tersenyum.
"Kita usahakan."
"Supaya kalau hujan, Mama tidak basah
lagi."
Maria mengangguk.
"Iya. Supaya Mama tidak basah
lagi."
Mereka melanjutkan perjalanan. Di belakang, sebuah lilin kecil masih menyala di samping makam Bapak. Di depan, rumah sederhana menunggu. Atapnya masih perlu diperbaiki. Uang kuliah belum seluruhnya tersedia. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada hari-hari berat yang mungkin kembali datang.
Tidak ada keajaiban yang seketika mengubah keadaan mereka. Namun sesuatu telah berubah dalam hati Maria.
Pagi tadi, Maria datang ke makam dengan
pertanyaan yang menyakitkan, Mengapa Bapak meninggalkan kami?
Kini dalam perjalanan pulang, muncul
pertanyaan lain, Apa yang dapat kami lakukan dengan kasih yang telah Bapak
tinggalkan?
Maria menggenggam tangan adik bungsunya. Langkah mereka perlahan menjadi seirama. Di persimpangan jalan, Mama menoleh.
"Anak-anak, kita pulang."
Maria memandang ketiga orang yang berjalan bersamanya. Dahulu, setiap kali mendengar kata pulang, selalu ada Bapak yang menunggu di rumah. Sekarang, rumah itu memang tidak akan sama.
Tetapi masih ada Mama. Masih ada adik-adiknya. Masih ada cinta yang harus dijaga. Dan Maria akhirnya memahami sesuatu.
Bapak tidak meninggalkan sebuah rumah yang selesai dibangun. Bapak meninggalkan keluarga yang harus terus belajar membangunnya bersama. Maria mempercepat langkah, lalu merangkul Mama.
"Ma, nanti sore kita makan bersama,
ya. Jangan masing-masing di kamar."
Mama tersenyum.
"Boleh, Nak."
Mereka terus berjalan. Di belakang, makam Bapak perlahan hilang dari pandangan. Hari itu Maria tidak lagi merasa harus memilih antara mengenang Bapak dan melanjutkan hidup.
Keduanya dapat dilakukan bersama. Sebab kasih kepada orang yang telah meninggal tidak meminta kita berhenti hidup. Kasih justru memanggil kita untuk menjaga mereka yang masih dipercayakan Tuhan kepada kita.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika
hujan turun tanpa membasahi lantai rumah, Maria akan duduk bersama Mama dan
adik-adiknya. Mereka akan mengenang seorang lelaki yang dahulu selalu bangun
lebih dahulu setiap kali atap bocor.
Mereka akan tertawa. Barangkali ada air mata yang ikut jatuh. Tetapi kali ini, bukan hanya karena rindu. Melainkan karena akhirnya mereka memahami warisan paling berharga dari Bapak.
Bukan rumah yang besar. Bukan uang yang banyak. Melainkan hati yang tidak berhenti memikirkan kebahagiaan orang-orang tercinta.
Bapak telah pergi menuju rumah yang mereka
harapkan penuh damai. Sementara di dunia ini, keempat orang yang ditinggalkan
masih mempunyai sebuah rumah untuk dirawat, sebuah keluarga untuk
dipertahankan, dan kasih yang harus diteruskan.
Di situlah Maria mulai belajar, menerima
kepergian bukan berarti berhenti merindukan. Menerima berarti tetap berani
mencintai kehidupan meskipun seseorang yang sangat dicintai tidak lagi
berjalan di samping kita.
Dan pada hari ketika Maria akhirnya sanggup menyalakan lilin di pusara Bapak, sesungguhnya ada keberanian kecil yang mulai menyala kembali di dalam hatinya.
***3 November 2026, di bawah pohon depan RBK, saat panas menyengat.