PELITA SAMA,
NASIB BEDA
Keb 6:12–17; Mat
25:1–13
Ada
satu kata penting dalam Injil hari ini yakni “minyak.” Sepuluh gadis membawa
pelita untuk menyambut mempelai. Semuanya menunggu. Semuanya mengantuk.
Semuanya tertidur. Tetapi ketika mempelai datang, hanya lima yang siap.
Apa
yang membedakan mereka? Bukan pelitanya. Bukan pula kesediaan mereka menunggu.
Perbedaannya terletak pada persiapan. Lima gadis bijaksana membawa minyak
cadangan. Lima lainnya hanya membawa pelita.
Mereka
yang bijaksana memperhitungkan kemungkinan mempelai terlambat. Mereka yang
bodoh hanya memikirkan keadaan saat itu. Yang satu mempersiapkan diri untuk
bertahan. Yang lain merasa cukup dengan apa yang ada.
Di
sinilah bacaan pertama menemukan hubungannya dengan Injil. Kitab Kebijaksanaan
mengajarkan bahwa kebijaksanaan ditemukan oleh orang yang sungguh mencarinya.
Orang bijaksana bukanlah orang yang mengetahui segala sesuatu. Orang bijaksana
adalah orang yang tahu apa yang penting dan mempersiapkannya sebelum terlambat.
Minyak
dalam perumpamaan dapat membantu kita memahami kebijaksanaan itu. Minyak
menjaga pelita tetap menyala. Kebijaksanaan menolong iman tetap hidup ketika
keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Ketika
lima gadis meminta minyak, yang lain tidak dapat membaginya. Bukan karena tidak
peduli. Yesus sedang menunjukkan bahwa ada persiapan hidup yang tidak dapat
dipinjam dari orang lain.
Orang
tua dapat mengajarkan iman tetapi tidak dapat menggantikan iman anaknya. Guru
dapat memberikan pengetahuan tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab
muridnya. Orang lain dapat menasihati kita tetapi keputusan untuk berubah tetap
berada pada diri kita.
Kita
sering pandai mempersiapkan banyak hal tetapi kurang bijaksana mempersiapkan
hati. Kita menabung untuk masa depan tetapi menunda perdamaian dengan keluarga.
Kita sibuk mengejar keberhasilan tetapi lupa menjaga kejujuran. Kita rajin
mengikuti doa tetapi masih sulit mengampuni.
Minyak
itu kita persiapkan melalui kesetiaan dalam hal-hal kecil. Berdoa meskipun
sibuk. Jujur meskipun merugikan diri. Mengampuni meskipun terluka. Mengasihi
meskipun tidak mendapat balasan.
Yesus
menutup Injil dengan pesan, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari
maupun akan saatnya.” Berjaga bukan berarti takut menghadapi hari esok. Berjaga
berarti bijaksana menjalani hari ini. Jangan menunggu kehilangan untuk
menghargai. Jangan menunggu kesulitan untuk berdoa. Jangan menunggu terlambat
untuk berubah.
Sebab
lima gadis itu gagal bukan karena tidak memiliki pelita melainkan karena tidak
mempersiapkan minyak. Kita juga begitu, jangan sampai terlihat siap di hadapan
manusia tetapi ternyata belum siap menyambut Tuhan.
Pelita
padam bukan karena malam terlalu gelap tetapi karena minyaknya habis. Demikian
pula iman kita. Iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan ada tetapi tetap setia
ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Minyak iman tidak disiapkan saat
malam tiba tetapi melalui doa, kejujuran, pengampunan dan kasih setiap hari.
Kita tidak tahu kapan Tuhan datang. Namun kita dapat mempersiapkan hati. Sebab
iman yang sejati bukan hanya terang ketika hidup mudah melainkan tetap menyala
ketika hidup menjadi gelap. Amin.
***Renungan
HMB XXXIIA, kamarKU Hutan Keramat, 08/11/2026