• Hari ini: April 03, 2025

Kisah Umat Kristiani di Gaza Berlindung dari Serangan Israel di Dua Gereja

03 April, 2025
72

Tiba-tiba, dalam hitungan detik, saya menjadi seperti bulu yang terbang di udara, kata Suheil Saba, warga Gaza yang selamat dari serangan udara setelah bersembunyi di Gereja Santo Porphyrius, 26 Oktober lalu.   Saya terlempar dari satu tempat ke tempat lain. Beton jatuh ke tanah, orang-orang tersandung di atas saya. Saya bisa mendengar jeritan anak-anak dan perempuan, tuturnya.

"Pengeboman itu begitu dashyat, seperti gempa bumi," kata Saba.   Bagian lain dari Gereja Santo Porphyrius masih utuh dan berfungsi. Namun Saba mencari tempat perlindungan lain, yaitu di Gereja Katolik Keluarga Kudus yang berada tidak jauh dari Gereja Santo Porphyrius.   Saba adalah satu dari ratusan anggota komunitas Kristiani yang masih bertahan di sekitar dua gereja di Jalur Gaza. Penduduk lainnya telah meninggalkan rumah mereka usai militer Israel memberikan peringatan agar warga Gaza mengevakuasi diri.

Serangan rudal

Pada 19 Oktober lalu, sebuah rudal menghantam sebuah bangunan di dalam kompleks Gereja Santo Porphyrius.

Menurut umat dan sejumlah saksi mata, kejadian itu menewaskan 17 orang dan melukai puluhan orang. Anak-anak termasuk korban dalam pengeboman tersebut.

Israel membantah menjadikan gereja itu sebagai target serangan militer mereka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Lior Hayat, berkata bahwa yang terjadi di gereja itu adalah imbas dari serangan militer Israel terhadap infrastruktur Hamas di sekitar rumah ibadat tersebut.

 “Semuanya terjadi begitu cepat, kata Mona, warga Gaza yang meminta BBC melindungi identitasnya.   "Itu adalah serangan rudal tanpa peringatan. Setelah serangan itu, debu tebal menyebar sehingga semua orang tidak bisa melihat apapun," ujarnya.   Sejumlah foto yang beredar di media sosial belakangan ini menunjukkan prosesi baptis massal terhadap anak-anak. Para orang tua mencemaskan keselamatan anak-anak itu sehingga memilih segera membaptiskan mereka.     

Umat Kristen di Jalur Gaza tengah bersiap menghadapi skenario terburuk, kata Munther Isaac, seorang umat Kristen di Tepi Barat.

Umat Kristen Berlindung di Gereja

Sekitar 900 umat Kristiani di Gaza mencari perlindungan di dua gereja, yaitu Gereja Katolik Keluarga Kudus dan Gereja Santo Porphyrius. Gereja yang disebut terakhir berafiliasi dengan komunitas Ortodoks Yunani.

Di Gaza, terdapat sekitar 1.100 orang yang tergabung dalam komunitas Ortodoks Yunani dan komunitas Katolik. Jumlah ini kurang dari 0,05% populasi Jalur Gaza. Mayoritas umat Kristiani ini adalah anggota Ortodoks Yunani.

Menurut seorang umat Gereja Ortodoks Yunani, yang tidak mau disebutkan namanya, sebagian dari umat Kristiani tiba di Gaza setelah peristiwa Nakba pada tahun 1948. Nakba adalah terminologi dalam bahasa Arab yang berarti bencana.

Peristiwa "Nakba" memaksa setidaknya 700 ribu warga Palestina mengungsi dari rumah mereka selama perang Arab-Israel.

Selain Nakba, ada pula yang menelusuri akarnya komunitas Kristiani di Gaza hingga ribuan tahun lalu. "Ada komunitas umat Kristiani yang telah tinggal di tanah ini sejak tahun 402, setelah mereka berpindah agama dari paganisme ke Kristen, ujarnya.

Elias Jarada, anggota Dewan Gereja Ortodoks Arab, berkata bahwa keberadaan umat Kristiani di Gaza dapat ditelusuri sebelum tahun 400. Sebagian besar dari mereka, kata dia, adalah keturunan dari komunitas mula-mula tersebut.

Blokade

Israel dan Mesir memblokade penyeberangan dari dan menuju Gaza selama lebih dari 15 tahun terakhir. Penduduk Gaza hanya diperbolehkan keluar jika mengantongi izin resmi.

Reem Jarada, ibu tiga anak yang tinggal di Gaza bersama keluarganya, terakhir kali bertemu saudara perempuannya, yang tinggal di Tepi Barat, lima tahun lalu.

Saudaranya itu pindah ke Tepi Barat lebih dari 25 tahun yang lalu.

Reem berkata, Israel hanya menerbitkan izin perjalanan kepada sebagian anggota keluarganya atau kerap kali hanya kepada anak-anak.

"Suami saya tidak pernah mendapat izin perjalanan satu kali pun," tuturnya.

Anak perempuan saudara perempuan saya sudah menikah dan putranya telah lulus universitas, tapi keluarga kami tidak dapat berbagi kegembiraan dengan mereka, kata Reem.

Kami mencoba berkomunikasi melalui internet, tapi jaringan internet tidak selalu tersedia, tuturnya.

'Perayaan kami sederhana'

"Kami menjalankan semua ritual keagamaan, tapi hal ini berbeda bagi umat Kristiani di Tepi Barat dan Betlehem. Perayaan kami sederhana karena situasi di teritori kecil ini."

Pernyataan itu diutarakan seorang umat Gereja Ortodoks Yunani. Dia meminta BBC merahasiakan identitasnya.

Menurut Elias Jarada, anggota Dewan Gereja Ortodoks Arab, komunitas Kristiani di Gaza yang kecil mempengaruhi segala macam relasi mereka.

Jumlah kami hanya sedikit. Kami ingin anak-anak kami terbuka terhadap komunitas Kristen dan mengenal keluarga mereka serta menjalani kehidupan normal, katanya.

Batasan kehidupan di sini sangat ketat, kata Elias. Dia lantas merujuk serangan militer 26 Oktober lalu, yang menurutnya menghilangkan hampir 2% komunitas Kristiani di Gaza, termasuk satu keluarga.

"Ini mengerikan, ucapnya.

'Tidak ada pilihan untuk hidup di Gaza, hanya takdir menuju kematian'

Menurut Pastor Joseph Assad, Wakil Presiden Patriarkat Latin pada komunitas Katolik di Gaza, ada sekitar 550 pengungsi di gerejanya. Dari jumlah itu, terdapat 60 orang berkebutuhan khusus dan anak-anak berusia di bawah lima tahun.

Kami berada di gedung sekolah Patriarkat Latin, yang tidak memiliki kamar tidur, kamar mandi, atau penutup, kata Pastor Joseph.

Ketika gereja Santo Porphyrius dibom, situasinya semakin rumit karena sekitar 100 orang kehilangan tempat berlindung, menurut seorang anggota Gereja Ortodoks Yunani.

Israel membuat klaim bahwa serangan militer mereka merupakan respons terhadap serangan Hamas yang dimulai pada tanggal 7 Oktober. Israel menyebut serangan Hamas menewaskan lebih dari 1.400 warganya. Hamas, dalam tuduhan Israel, juga menyandera 239 orang.

Namun di sisi lain, serangan Israel hingga 30 Oktober lalu, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, menewaskan 8.306 orang. Dari jumlah itu 3.457 antaranya adalah anak-anak.

Elias Jildeh, umat yang tinggal di paroki Latin, merangkum luapan emosi warga Gaza. "Kami merasakan kemarahan dan ketidakadilan, dan tidak ada perlindungan, seolah-olah kami berada di hutan," ujarnya.

"Mereka (Israel) tidak memberikan pilihan pada masyarakat untuk hidup, hanya pilihan yang mengarah pada kematian," kata Elias.

Adapun, Reem bertanya-tanya, "Apa yang akan terjadi di Gaza? Apakah kami akan mengungsi?"

Saya memikirkan anak-anak saya. Saya berharap mereka bisa meninggalkan Gaza dan bekerja di luar negeri. Kami sudah terbiasa dengan kehidupan ini, tapi mengapa mereka harus menderita bersama kami?

Disunting oleh Andrew Webb, BBC World Service

Sumber: BBC News Indonesia