
“Tiba-tiba, dalam hitungan detik, saya menjadi seperti bulu yang terbang di udara,” kata Suheil Saba, warga Gaza yang selamat dari serangan udara setelah bersembunyi di Gereja Santo Porphyrius, 26 Oktober lalu. “Saya terlempar dari satu tempat ke tempat lain. Beton jatuh ke tanah, orang-orang tersandung di atas saya. Saya bisa mendengar jeritan anak-anak dan perempuan,” tuturnya.
Serangan
rudal
Pada 19 Oktober lalu, sebuah rudal menghantam sebuah bangunan di
dalam kompleks Gereja Santo Porphyrius.
Menurut umat dan sejumlah saksi mata, kejadian itu menewaskan 17
orang dan melukai puluhan orang. Anak-anak termasuk korban dalam pengeboman
tersebut.
Israel membantah menjadikan gereja itu sebagai target serangan
militer mereka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Lior Hayat, berkata
bahwa yang terjadi di gereja itu adalah imbas dari serangan militer Israel
terhadap infrastruktur Hamas di sekitar rumah ibadat tersebut.
Di Gaza, terdapat sekitar 1.100 orang yang tergabung dalam
komunitas Ortodoks Yunani dan komunitas Katolik. Jumlah ini kurang dari 0,05%
populasi Jalur Gaza. Mayoritas umat Kristiani ini adalah anggota Ortodoks
Yunani.
Peristiwa "Nakba" memaksa setidaknya 700 ribu warga
Palestina mengungsi dari rumah mereka selama perang Arab-Israel.
Selain Nakba, ada pula yang menelusuri akarnya komunitas
Kristiani di Gaza hingga ribuan tahun lalu. "Ada komunitas umat Kristiani
yang telah tinggal di tanah ini sejak tahun 402, setelah mereka berpindah agama
dari paganisme ke Kristen,” ujarnya.
Elias Jarada, anggota Dewan Gereja Ortodoks Arab, berkata bahwa
keberadaan umat Kristiani di Gaza dapat ditelusuri sebelum tahun 400. Sebagian
besar dari mereka, kata dia, adalah keturunan dari komunitas mula-mula
tersebut.
Blokade
Israel
dan Mesir memblokade penyeberangan dari dan menuju Gaza selama lebih dari 15
tahun terakhir. Penduduk Gaza hanya diperbolehkan keluar jika mengantongi izin
resmi.
Reem Jarada, ibu tiga anak yang tinggal di Gaza bersama
keluarganya, terakhir kali bertemu saudara perempuannya, yang tinggal di Tepi
Barat, lima tahun lalu.
Reem berkata, Israel hanya menerbitkan izin perjalanan kepada
sebagian anggota keluarganya atau kerap kali hanya kepada anak-anak.
"Suami saya tidak pernah mendapat izin perjalanan satu kali
pun," tuturnya.
“Anak perempuan saudara perempuan
saya sudah menikah dan putranya telah lulus universitas, tapi keluarga kami
tidak dapat berbagi kegembiraan dengan mereka,” kata Reem.
“Kami mencoba berkomunikasi
melalui internet, tapi jaringan internet tidak selalu tersedia,” tuturnya.
'Perayaan kami sederhana'
"Kami menjalankan semua ritual keagamaan, tapi hal ini
berbeda bagi umat Kristiani di Tepi Barat dan Betlehem. Perayaan kami sederhana
karena situasi di teritori kecil ini."
Pernyataan itu diutarakan seorang umat Gereja Ortodoks Yunani.
Dia meminta BBC merahasiakan identitasnya.
“Jumlah kami hanya sedikit. Kami
ingin anak-anak kami terbuka terhadap komunitas Kristen dan mengenal keluarga
mereka serta menjalani kehidupan normal,” katanya.
“Batasan kehidupan di sini sangat
ketat,” kata Elias. Dia lantas merujuk
serangan militer 26 Oktober lalu, yang menurutnya menghilangkan hampir 2%
komunitas Kristiani di Gaza, termasuk satu keluarga.
"Ini mengerikan,” ucapnya.
'Tidak ada pilihan untuk hidup di
Gaza, hanya takdir menuju kematian'
Menurut Pastor Joseph Assad, Wakil Presiden Patriarkat Latin
pada komunitas Katolik di Gaza, ada sekitar 550 pengungsi di gerejanya. Dari
jumlah itu, terdapat 60 orang berkebutuhan khusus dan anak-anak berusia di
bawah lima tahun.
“Kami
berada di gedung sekolah Patriarkat Latin, yang tidak memiliki kamar tidur,
kamar mandi, atau penutup,” kata Pastor Joseph.
Ketika
gereja Santo Porphyrius dibom, situasinya semakin rumit karena sekitar 100
orang kehilangan tempat berlindung, menurut seorang anggota Gereja Ortodoks
Yunani.
Israel membuat klaim bahwa serangan militer mereka merupakan
respons terhadap serangan Hamas yang dimulai pada tanggal 7 Oktober. Israel
menyebut serangan Hamas menewaskan lebih dari 1.400 warganya. Hamas, dalam
tuduhan Israel, juga menyandera 239 orang.
Namun di sisi lain, serangan Israel hingga 30 Oktober lalu,
menurut Kementerian Kesehatan Palestina, menewaskan 8.306 orang. Dari jumlah
itu 3.457 antaranya adalah anak-anak.
Elias Jildeh, umat yang tinggal di paroki Latin, merangkum
luapan emosi warga Gaza. "Kami merasakan kemarahan dan ketidakadilan, dan
tidak ada perlindungan, seolah-olah kami berada di hutan," ujarnya.
"Mereka (Israel) tidak memberikan pilihan pada masyarakat
untuk hidup, hanya pilihan yang mengarah pada kematian," kata Elias.
Adapun, Reem bertanya-tanya, "Apa yang akan terjadi di
Gaza? Apakah kami akan mengungsi?"
“Saya memikirkan anak-anak saya.
Saya berharap mereka bisa meninggalkan Gaza dan bekerja di luar negeri. Kami
sudah terbiasa dengan kehidupan ini, tapi mengapa mereka harus menderita
bersama kami?
Disunting oleh Andrew Webb, BBC World Service
Sumber: BBC News Indonesia
Tag
Berita Terkait

Tag
Arsip
Kue Pelangi Menakjubkan Terbaik
Final Piala Dunia 2022
Berita Populer & Terbaru





Jajak Pendapat Online
