BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?
(RP. Frans Funan, SVD)
"Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin ia kuat berseru. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." (Luk 18:39).
Sebagai manusia pantas dan layak kita mengakui bahwa kesusahan yang tidak pernah diprogram dalam hidup pasti saja sesekali hadir menimpa kita. Entah kesusahan karena bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, taufan, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, bukit tanah bergeser, bukit batu terbelah dan meluncur dari ketinggian menuju laut (kejadian bukit Wateba- Atadei Lembata - NTT), dll.
Kesusahan karena bencana alam pasti saja makan korban. Kesusahan lain dalam kaitan dengan kesehatan fisik entah sakit permanen atau cacat tetap dll. Dalam kondisi perih karena keterbasan fisik, teriaklah sekuat kamu bisa, minta tolong. Mungkin Tuhan sedang dekat, sedang lewat dan ada orang beritahu anda untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Atau teriakan, seruan sekuat tenaga dengan iman kepada Tuhan, akan menggugah hati kudus-Nya untuk menolongmu. Karena imanmulah yang menolong, membantu dan menyelamatkanmu sendiri.
Mari sesuaikan dirimu dengan pengenalan privat Bartimeus si buta tua renta dengan Yesus. Saat dia dengar langkah kaki dan suara-orang banyak lewat ia bertanya, "Ada apa itu?" Orang beri tahu dia, "Yesus orang Nazaret, sedang lewat." Ketika dengar nama Yesus si buta itu pun berubah sikap. Dari seorang pengemis buta tua yang malu-malu, berkata saja suara hampir tak kedengaran, malu bertanya hanya pasrah pada apa yang terjadi dan berlalu tanpa ia hiraukan asalkan sepeser belas kasihan orang dia dapat untuk bisa mengisi perutnya hari itu, sudah cukup baginya, selebihnya sesuai situasi fisiknya yang buta dia tidak peduli.
Tapi kini ketika ia dengar nama Yesus ia berubah total dari sikap malu-malu jadi pemberani meneriaki Nama Sang Mesias berbelas kasih yang sedang lewat dan akan berlalu tanpa akan kembali lagi. Seruan keras spontan keluar dari mulutnya, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Orang melarang dia diam. Ia seakan tak gubris momen keselamatan ini akan sirna tanpa makna bagi orang banyak itu dan terutama bagi dirinya sendiri.
Maka imannya akan Yesus semakin gila dan memaksa seluruh energi dirinya berteriak menembus massa hingga telinga Yesus. Ia sadar dan mau memaknai saat penuh rahmat ini dengan massa yang ada bahwa Yesus Mesias dapat melakukan hal ajaib apa saja yang dibutuhkan agar menolong manusia berdosa selamat.
Kata kuncinya iman. "Imanmu telah menyelamatkan dikau." Apakah massa yang ikut Yesus itu punya iman kepada-Nya? Atau hanya ikut ramai-ramai saja, ragu-ragu, dan tak punya pilihan iman apa pun? Kita butuh orang lain untuk membantu bertumbuh dan berkembang dalam iman kepada Yesus. Selain itu berjuang datang pada Yesus pun tidak gampang, banyak halangan, tantangan dan cobaan. Tantangan dari luar mungkin orang melarang Anda. Dari dalam: tugas banyak, pekerjaan, hiburan, kepentingan keluarga besar, main hp, dll.
Kita butuh bantuan orang lain untuk beri tahu kita tentang kehebatan belas kasih Tuhan memelekan mata iman kita yang buta terhadap dosa dan banyak membawa beban kesusahan tak terpikulkan dalam ziarah hidup ini. Ingat bahwa kerinduanmu karena iman punya kontak batin otomatis dengan Yesus yang juga sedang rindu bertemu dengan dirimu. Yesus mau menyelamatkan dirimu dari dosa buta iman akan Dia, dan Yesus juga mau supaya Anda sehat iman saat ini dan menjadi murid-Nya keren dan wow di masa depan. Tuhan Yesus memang hebat tapi Tuhan Yesus juga rindu dan mau Anda juga hebat di masa depan.
Karena itu misimu kini, katakan kepada sesamamu yang sedang susah dan duduk tertunduk sendiri di sana sambil mengorek tanah, bahwa Yesus ada rindu agar kamu baik, sehat dan bahagia kini dan kelak. Sebarkan misi belas kasih ini di antara kamu seiman, biarlah iman akan Anak Daud Sang Mesias menguasai kita dan semakin banyak orang mengalami kasih Tuhan dalam hidup secara prinadi dan bersama-sama.
Maka percaya bahwa nama Tuhan semakin luas dimuliakan dan rahmat sukacita meliputi banyak insan beriman. Hidup pribadi, hidup bersama jadi terberkati. Ok.
Selamat beraktifitas hari dengan seruan: Hei teman Yesus mau tolong kamu, kenapa susah? Tuhan berkatimu semua. (Arso Kota, Senin, 181124).
JALAN HENING MENUJU KRISTUS
(Sebuah catatan Kecil dari Pinggir Kota)
Di tengah kesederhanaan hidup umat, di rumah-rumah umat Katolik, di kapela lingkungan atau di bawah teduhnya gua Maria, pada bulan Mei ini, nama Bunda Maria disebut dengan hormat. Namun pertanyaannya jelas, apakah ini hanya kebiasaan atau sungguh jalan iman?
Gereja Katolik tidak pernah menempatkan Maria sebagai tujuan akhir. Dalam dokumen Gereja Lumen Gentium no. 60–62, ditegaskan bahwa Maria dihormati karena perannya dalam misteri Kristus, bukan menggantikan Dia. Kristus tetap satu-satunya Pengantara. Maka devosi kepada Maria harus Kristosentris (berpusat pada Kristus) dan mengantar umat kepada Yesus, bukan berhenti pada Maria.
Kitab Suci memberi dasar yang kuat. Maria disebut “penuh rahmat” (Luk 1:28), “diberkati di antara wanita” (Luk 1:42), dan “segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Luk 1:48). Ini bukan sekadar pujian tetapi nubuat iman. Menghormati Maria berarti mengakui karya Allah dalam dirinya.
Tradisi Gereja menegaskan hal yang sama. Dalam Konsili Efesus, Maria diakui sebagai Bunda Allah (Theotokos). Gelar ini menegaskan bahwa Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Jadi setiap devosi kepada Maria pada akhirnya adalah pengakuan iman akan Kristus. Bulan Mei didedikasikan bagi Maria sebagai simbol kehidupan baru. Tradisi ini berkembang dalam sejarah Gereja dan didukung oleh para Paus. Maknanya sederhananya, seperti alam yang berbunga, iman umat pun dipanggil untuk bertumbuh.
Namun Gereja memberi arah yang jelas. Dalam Marialis Cultus no. 25–28, Paul VI menegaskan bahwa devosi Maria harus bersumber dari Kitab Suci, selaras dengan liturgi dan mengarah kepada Kristus. Jadi Rosario, Litani dan ziarah bukan praktik kosong, tetapi latihan iman. Dalam kehidupan umat, hal ini tampak nyata. Selama Bulan Maria, umat berkumpul dari rumah ke rumah dalam KUB atau lingkungan. Setiap keluarga menjadi tuan rumah doa. Anak-anak hadir dengan kesederhanaan, orang muda dengan semangat, orang dewasa dengan ketekunan. Mereka berdoa Rosario, bernyanyi dan saling menguatkan.
Praktik ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah Gereja yang hidup. Di sinilah iman diwariskan secara konkret. Apa yang ditegaskan Gereja tentang “kesalehan umat” juga tampak dalam Directory on Popular Piety and the Liturgy (2001, no. 9, 183–186) bahwa devosi yang benar membantu umat masuk lebih dalam ke dalam misteri Kristus. Penelitian pastoral mendukung hal ini. Studi Lafdy dkk., “Pengaruh Katekese Bulan Maria terhadap Pendalaman Iman Umat” (2024), menunjukkan bahwa doa bersama memperkuat iman dan kebersamaan. Ahmad (2023), “Gua Maria sebagai Tempat Devosi”, juga menegaskan bahwa praktik devosi meningkatkan keterlibatan rohani umat.
Di sinilah kekuatan devosi Maria, sederhana dan membumi. Maria dekat dengan kehidupan umat. Maria memahami penderitaan dan harapan manusia. Namun ia tidak pernah menjadi pusat. Ia selalu menunjuk kepada Yesus, “Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya” (Yoh 2:5).
Maka Bulan Maria bukan sekadar rutinitas. Bulan Maria adalah sekolah iman. Rosario menjadi permenungan hidup Kristus. Litani menjadi pujian atas karya Allah. Doa bersama menjadi pengalaman Gereja sebagai keluarga. Akhirnya, devosi kepada Maria mengajarkan hal sederhana bahwa iman tumbuh dalam kesetiaan kecil. Maria tidak tampil besar di depan dunia. Ia setia dalam keheningan. Dari situlah keselamatan hadir.
Bagi umat sederhana, ini kabar baik. Beriman tidak harus rumit. Cukup berjalan bersama Maria, dari rumah ke rumah, dari doa ke doa. Dan bersama dia, kita akan sampai kepada Kristus. Sebab pada akhirnya, siapa yang sungguh berjalan bersama Maria, tidak akan berhenti pada Maria, ia pasti sampai kepada Kristus.
(Pagi di awal Bulan Maria, rumah di samping hutan, hening bermakna cipta, KU)
SEPI
BERSAMA
(Oktoviana Irianti Berek)
Awalnya, hubungan Ara dan Axel
terasa seperti sebuah candaan.
Mereka bertemu di waktu yang
sama-sama membosankan. Tidak ada niat serius, tidak ada perasaan yang
benar-benar tumbuh. Ara menerima Axel hanya karena ia tidak ingin merasa sepi.
Baginya, memiliki pacar hanyalah cara agar ada seseorang yang bisa diajak chatting
saat malam terasa kosong.
Semua bermula dari obrolan
ringan yang terasa biasa saja. Ara sempat membuka Instagram Axel dan mencoba
mengenalnya lebih jauh. Namun semakin ia melihat kehidupan Axel, semakin ia
merasa laki-laki itu bukan tipe yang ia inginkan. Axel dikenal liar, sering
mabuk, dan hidup tanpa arah yang jelas. Tetapi entah kenapa, hubungan itu tetap
berjalan.
Mungkin karena Axel terlalu
serius. Dan mungkin karena Ara terlalu egois untuk menghentikannya sejak awal.
Beberapa minggu mereka sempat
hilang kabar. Namun setelah itu, mereka kembali chatting seperti biasa. Axel
mulai menunjukkan keseriusannya. Ia benar-benar ingin menjadikan Ara sebagai
pacarnya, sedangkan Ara masih menganggap semua itu hanya hubungan untuk
mengusir bosan.
Cara Ara membalas pesan selalu
singkat dan dingin. Tidak ada perhatian berlebih, tidak ada effort seperti
pasangan pada umumnya. Hingga suatu hari Axel berkata pelan kepadanya, “Kamu
itu seperti tidak menganggap kalau kita pacaran.”
Ara hanya diam. Karena
sebenarnya Axel benar.
Ara memang tidak pernah
benar-benar membuka hati untuknya.
Hari demi hari berlalu. Axel
tetap bertahan meskipun Ara terus bersikap cuek. Sampai akhirnya, hari yang
mengubah semuanya datang.
Hari Senin pagi setelah upacara
kampus selesai, Ara berjalan pulang ke asrama bersama temannya. Di tengah
perjalanan, mereka bertemu Axel. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tubuhnya
terlihat lemah. Ternyata semalaman Axel mabuk dan tidak tidur, tetapi tetap
memaksakan diri datang ke kampus.
Axel menghentikan langkah Ara di
jalan.
Ara hanya menatapnya sekilas,
menjawab seperlunya, lalu berjalan pergi meninggalkannya. Dalam hati, rasa
risih Ara semakin besar. Ia memang tidak suka laki-laki pemabuk.
Saat itu Ara sadar bahwa ia
tidak bisa terus menjalani hubungan yang sejak awal tidak pernah ia inginkan.
Pernah suatu kali Ara berkata
kepada Axel, “Aku tidak akan minta putus. Tapi aku akan buat kamu tidak betah
dengan sifatku.”
Dan ternyata, ucapan itu
benar-benar terjadi.
Pada hari Selasa, 26 Mei 2026,
hubungan mereka berakhir. Bukan Ara yang meminta putus, melainkan Axel sendiri.
Namun bahkan di akhir hubungan
itu, Axel masih meminta maaf. “Takutnya selama ini aku buat kamu malu,”
katanya.
Ara hanya tersenyum kecil dan
menjawab pelan, “Aman saja. Tidak apa-apa.”
Karena jauh di dalam hatinya,
Ara tahu bahwa selama ini ia juga tidak pernah benar-benar hadir dalam hubungan
itu.
Kadang seseorang datang bukan untuk menetap, melainkan untuk mengajarkan bahwa hubungan tanpa ketulusan hanya akan berubah menjadi luka. Dan dalam kisah Ara dan Axel, mereka sama-sama belajar bahwa rasa sepi bukan alasan untuk mempertahankan seseorang.
***Mahasiswi Semester II STP St. Petrus Keuskupan Atambua
KOLKITA-Kefamenanu, Organisasi pencak silat pendidikan Tunggal Hati Seminari–Tunggal Hati Maria (THS-THM) Unit Latihan Khusus (ULK) STP Santo Petrus Keuskupan Atambua menggelar ziarah Bulan Maria di Gua Maria Naijalu’u, Desa Upfaon, Lingkungan Santa Sisilia Aofmolo, Paroki Santo Petrus Manufui, Dekenat Mena, Sabtu–Minggu (23–24/5/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penutupan Novena Pentakosta dan menjadi momentum mempererat persaudaraan antara THS-THM ULK dan Ranting Manufui.
Kegiatan yang
berlangsung selama dua hari satu malam itu disambut baik oleh Koordinator
Ranting Manufui, Yulius Noenbasu. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa
bangga atas kunjungan tersebut.
“Saya mewakili
teman-teman Ranting Manufui mengucapkan selamat datang kepada teman-teman dari
ULK yang sudah ziarah dan berkunjung ke Ranting Manufui. Saya merasa senang dan
bangga sekali karena saudara dari ULK mau berkunjung ke paroki kami, khususnya
Gua Maria Naijalu’u,” ujarnya.
Sementara itu,
Koordinator Ranting ULK STP Santo Petrus Keuskupan Atambua, Anabela Lopes De
Castro, menyampaikan terima kasih atas sambutan yang diberikan pihak Ranting
Manufui.
“Saya juga
berterima kasih kepada kakak Koordinator Ranting Manufui dan teman-teman senior
yang sudah menerima kami dengan sangat baik di sini. Saya berharap kegiatan ini
dapat memberi kesan dan pelajaran bagi kita bersama ke depannya sehingga tali
persaudaraan terus terjalin dengan baik,” katanya.
Hari pertama ziarah
diisi dengan doa Rosario, penutupan Novena Pentakosta di Gua Maria Naijalu’u,
serta meditasi bersama. Seluruh anggota THS-THM dari ULK STP Santo Petrus
Keuskupan Atambua maupun Ranting Manufui terlibat dalam kegiatan tersebut.
Pada hari kedua,
peserta mengikuti misa Hari Raya Pentakosta di Gereja Paroki Santo Petrus
Manufui. Setelah itu, kegiatan ditutup dengan kerja bakti membersihkan area
sekitar gereja dan acara perpisahan bersama anggota THS-THM Ranting Manufui.
Di akhir kegiatan, Yulius Noenbasu kembali menyampaikan pesan persaudaraan kepada anggota THS-THM ULK.
“Pesan saya untuk saudara THS-THM ULK, tetap semangat membangun persaudaraan di ULK dan semangat mengejar cita-cita. Semoga kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan untuk merajut kebersamaan yang lebih erat dan saling belajar lebih dalam tentang iman akan Gereja Katolik. Kesan saya, kegiatan dua hari ini membawa pengalaman luar biasa akan persaudaraan. Kita berbeda bahasa dan suku, namun kita tetap satu, yakni Tunggal Hati Seminari–Tunggal Hati Maria,” ungkapnya. (BL/YN)
Dikutip dari Pena Katolik: Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik keempat kepausannya yang berjudul Dilexit Nos, pada hari Kamis 24 Oktober 2024, tentang cinta manusiawi dan ilahi dari hati Yesus Kristus.
Dilexit Nos, yang berarti ‘dia telah mengasihi kita’ dipromulgasikan pada tanggal 24 Oktober 2024.
Sebelumnya, Paus telah mengumumkan pada bulan Juni 2024, bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah dokumen tentang Hati Kudus Yesus. Ensiklik ini akan merenungkan cinta Tuhan yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya.
Paus Fransiskus kemudian menggambarkan Dilexit Nos tersebut sebagai sesuatu yang menyatukan refleksi berharga dari teks-teks magisterial sebelumnya dan sejarah panjang yang kembali ke Kitab Suci. Paus mengusulkan kembali kepada seluruh Gereja, devosi yang dipenuhi dengan keindahan spiritual ini.
“Saya yakin akan sangat bermanfaat bagi kita untuk merenungkan berbagai aspek kasih Tuhan, yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya,” kata Fransiskus di akhir audiensi umumnya pada tanggal 5 Juni 2024.
Dilexit Nos tersebut diterbitkan di tengah perayaan ulang tahun ke-350 penampakan Hati Kudus Yesus kepada St. Margareta Maria Alacoque. Perayaan ini dimulai pada tanggal 27 Desember 2023 dan akan berakhir pada tanggal 27 Juni 2025.
Vatikan mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung pada hari Kamis, 24 Oktober, tentang ensiklik: Dilexit Nos. Konferensi pers ini akan dihadiri Mgr. Bruno Forte, seorang teolog Italia dan anggota Dikasteri Ajaran Iman. Ada juga Suster Antonella Fraaccaro, kepala ordo religius Italia Discepole del Vangelo.
Dilexit Nos menjadi ensiklik keempat Paus Fransiskus setelah Fratelli Tutti, yang diterbitkan pada tahun 2020, Laudato Si’ yang diterbitkan pada tahun 2015, dan Lumen Fidei, yang diterbitkan pada tahun 2013. (AES)
Sumber Berita: Paus Fransiskus akan Mempromulgasikan Ensiklik Baru: Dilexit Nos, tentang Hati Kudus Yesus - Pen@ Katolik
Di pelataran kampus
Langit membentang tanpa suara
Menyimpan langkah-langkah muda
Yang tumbuh bersama senja dan doa
Pagi hadir bersama embun tipis
Membangunkan mimpi-mimpi kecil
Yang diam-diam ingin menjadi cahaya
Bagi dunia yang letih
Lorong-lorong kampus
Menjaga jejak tawa
Percakapan sederhana
Serta mata-mata lelah
Yang tetap belajar percaya
Kadang keraguan datang
Seperti hujan panjang
Di musim yang kehilangan matahari
Hati terasa rapuh
Arah terasa jauh
Namun akar-akar tua
Tetap memeluk tanah dengan setia
Tak berpaling dari badai
Tak meninggalkan sunyi
Kegagalan bukan runtuhnya perjalanan
Ia hanya pintu sunyi
Tempat manusia belajar
Memahami dirinya sendiri
Peluh di dahi
Air mata yang jatuh diam-diam
Semuanya menjelma saksi
Bahwa perjuangan tak pernah sia-sia
Jangan biarkan mimpi mengecil
Oleh takut dan kecewa
Sebab dalam dada manusia
Selalu ada api
Yang menolak padam
Suatu hari nanti
Waktu akan membawa semua langkah ini
Menuju kehidupan yang lebih luas
Dan nama-nama yang pernah berjuang di sini
Akan tinggal sebagai jejak
Bukan di lantai kampus
Melainkan di hati mereka
Yang pernah belajar bertahan
***Mahasiswa Semester II STP St. Petrus Keuskupan Atambua
(Kis 2:1-11; 1Kor 12:3b-7.12-13; Yoh 20:19-23)
Pada Hari Raya Pentakosta, Injil Yohanes menampilkan gambaran yang sangat manusiawi. Para murid berkumpul di balik pintu yang terkunci karena takut. Mereka masih percaya kepada Yesus, tetapi hati mereka terluka dan bingung setelah kematian-Nya. Ketakutan membuat mereka menutup diri. Namun Yesus datang menembus pintu yang terkunci itu. Di sinilah makna Pentakosta menjadi nyata. Roh Kudus hadir bukan untuk manusia yang sudah kuat, tetapi untuk manusia yang rapuh. Roh Kudus tidak menunggu rasa takut hilang. Ia datang untuk mengubah hati dari dalam.
Setiap tahun akademik menawarkan sebuah
cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka,
melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil.
Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut
tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan
keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah
daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka
sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.
Jika kita membaca data-data evaluasi diri
secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik
semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan
menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik
emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang
besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.
Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu,
ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang
perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.
1.
Pelajaran Besar dari Data
Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga
pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan
diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa,
tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi
kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil,
konsisten dan berulang.
Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar
yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa
“tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka
membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.
Ketiga, distraksi digital adalah musuh
terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi
pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri
waktu belajar.
2.
Apa Maknanya?
Melihat kejujuran mahasiswa, kita
diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog
humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I
accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik,
ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).
Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan
sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka
pintu perubahan.
Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti
ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…,
Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah
ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka
jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.
3.
Titik Balik
Melalui data ini kita belajar satu hal
penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah
kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit
menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju
sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan
diam di tengah hiruk-pikuk.
Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik
hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi
menumbuhkan manusia.
4.
Puncak Refleksi
Di tengah kelemahan dan pergulatan yang
tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah
perjalanan spiritual.
Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam,
dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui
kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu
ditolong”.
Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi
undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk
diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah” (Roma 12:2).
Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi
peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen
untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.
Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah
tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat
keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia
matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi
kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan
pemulihan yang tak pernah dibayangkan.
Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.
**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.
MALAM JUMAT YANG PANJANG
MUSIM SEMI DI TEPI SUNGAI GAVE DE PAU (Part 5)
Oleh: Lena Salu
Teruntukmu Celine, di bilik penantian
Celine, semoga suratku menemuimu dalam keadaan yang sehat bugar dan menggemaskan. Aku memastikan kau tentunya selalu tersenyum lebar dan ringan langkah merayakan hari-hari perkuliahanmu setiap hari. Aku juga tak menolak bahwa ada terik matahari yang kadang menyengat di atas kepalamu kala banyak tugas dan agenda yang terus mengejarmu untuk lebih konsentrasi dan konsisten.
Celine, Ijinkan aku sedikit bercerita denganmu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, namun tak terasa sudah hampir setengah dari semester ini aku tak pernah dibangunkan oleh suaramu dari ponselku. Aku berpikir mungkin kau sangat penting mengabariku agar tak kugelisahkan segalanya. Sesungguhnya sebulan yang lalu aku sedang berziarah ke Lourdes. Ada kesan yang sangat indah bagiku selama berada di sana. Ada doa yang penting dan sangat khusus kupersembahkan kepada Bunda Maria untukmu.
Aku tahu bahwa kau sangat mencintainya dengan selalu mendaraskan manik-manik Rosario yang indah dengan mengucapkan salam Maria. Aku selalu menghadirkanmu disetiap langkahku dalam rombongan ziarah ke tempat-tempat suci yang kami kunjungi. Celine, Sebelum keberangkatanku ke Lourdes aku pernah menghubungi nomor ponselmu namun kau tak dapat dihubungi. Aku ingin mengambil cuti bersamamu ke Lourdes tetapi akhirnya aku hanya mengelus dada dengan sedikit berat hati tak dapat mengabulkan permintaanmu yang pernah kau minta pada hari ulang tahun pernikahan orangtuaku kali lalu. Aku tahu bahwa kau dan aku punya tabungan yang dapat kita pakai namun tak aku sangka bahwa kali ini aku gagal membawamu ke depan arcanya di Lourdes.
Celine, maafkan aku yang tak sempat mengabulkan permohonanmu, namun aku rasa bahwa kau akan terobati dan terhibur dengan sedikit cerita ziarahku yang kugoreskan dalam tulisan dan beberapa video klip sejak hari pertama hingga aku kembali. Aku berharap kau dapat sampai juga ke Lourdes setelah menikmati apa yang kau tonton dari apa yang kubagikan denganmu. Maafkan aku Celine, aku berharap kau tak membenciku tetapi membiarkan semuanya yang sempat tertunda ini menjadi doa yang indah dihadapan arcanya. Celine, kusudahi dulu suratku, aku berharap kau tak sungkan membalasnya agar dapat kupastikan dirimu baik-baik saja dan tak merasa kecil hati. Sekali lagi maafkan diriku. Yang terakhir ijinkan aku menyampaikan salam hormatku untukmu sekeluarga, semoga ayah, ibu dan adik-adikmu dalam keadaan yang tak menggelisahkanku. Aku selalu menantimu di setiap deretan hari dan tanggal yang menjanjikan balasan surat darimu.
NB; Kutulis suratku ini di tepi sungai Gave de Pau, tepat di bawah kaki gunung Pyrenees Perancis.
Aku yang mengasihimu dari jauh,
(.................)
**********
Aku seakan tak punya gairah lagi tuk berdiri, sekalipun sapaan awal surat di atas tadi sedikit menghiburku.menghibur dan membuatku terkesima. Aku dikuatkan oleh percakapan yang secara tak langsung menjawabi teka-tekiku yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang keberadaannya. Lebih buas lagi aku terperosok jauh dengan ungkapan aku tak dapat dihubungi. Entahlah aku tak mengerti kapan aku dihubunginya sebab akupun menantinya berkabar hampir sepanjang abad namun tak berdering sama sekali ponselku kalau aku dipanggilnya. Bingung tapi faktanya menyatakan kalau ada dis-komunikasi yang sempat terjadi.
Hampir tiga puluh menit aku hampir tiga puluh menit aku terjaga dalam diam dan membiarkan instrumen lagu Ave Maria Gratia Plena gubahan Schubert menemaniku menikmati foto dan video singkat yang dibuat dalam slideshow yang menarik dan mengagumkan. Aku seakan terhipnotis dan dibawa ke Lourdes menikmati keindahannya dengan beckroud langkah jutaan peziarah yang membludak. Ohhh, betapa aku sangat merindukan tempat suci itu.... Aku sangat merindukan akan kesejukan air suci yang mengalir di tempat Kudus itu. Aku ingin menaburkan mawar berwarna-warni yang kupetik dengan tanganku sendiri walaupun aku harus meminta ijin pada pemilik tamannya. Aku ingin menari dengan gaun panjang berlengan lebar di sepanjang pendakian dan bernyanyi merdu di alun-alun kota layaknya wanita Perancis berperawakan cantik dengan topi lebar dan kain penutup kepala yang halus.
Akkhh, aku benar-benar membungkus kerinduanku ini dalam diksi yang hanya dapat kunikmati dalam mimpiku yang panjang dan belum sempat jadi kenyataan, namun aku membiarkan cerita ini hidup dalam doa yang tiada henti. Aku telah berjanji di depannya untuk selalu mengirimkan mawar Rosario di setiap sembahyangku yang membawaku sampai ke Lourdes keseharianku.
Aku tentunya akan dibawa tuk membayangkan kembali peristiwa penampakan yang pernah terjadi di sana. Aku ingin membopong orang-orang sakit dan timpang tuk ditahirkan dari sakitnya dan membiarkan diriku yang sakit dijamahnya pula dengan sentuhan dan aliran air segar yang melewati darah dan nadiku dan menghembuskan nafas panjang dengan ucapan syukur yang tak terhingga.
*********
Aku tertidur di bawah lampu belajar yang belum sempat kumatikan dan mendapati diriku tersungkur di atas meja dengan tumpukan tugas yang masih harus kuselesaikan untuk di asistensi besok pagi. Terburu-buru diriku ke kamar kecil tuk menyeka wajahku dengan air kran dan berniat menyalakan lagi laptop. Kubiarkan volume musik dari tape recorder kesayanganku terus aktif walaupun kedengaran semakin berisik pertanda baterainya hampir habis, aku hanya memastikan penyiarnya belum kantuk dan menemaniku dengan suguhan lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu lawas kesukaan ayah dan ibu pada jamannya kala itu.
Kesukaan mereka berdua pada lagu-lagu lawas dan keroncong pada akhirnya menular kepadaku juga, sampai-sampai aku mengoleksi lirik-lirik lagunya dari kertas yang terselip di setiap kaset pita di almari ruang tengah rumahku. Aku kembali menguras isi kepalaku menyelesaikan beberapa tugasku yang hampir rampung. Ku pikir aku tak sehebat Para filsuf tapi kali ini aku harus bisa berpikir sedemikian untuk menemukan jawaban dari setiap soal dosen matakuliahku.
Kubiarkan suratku tadi terbuka di bawah lilin yang bernyawa dengan sorotan lampu yang datar menerangi sudut doaku. Kubiarkan tatapan Sang Perawan mengawasi dan menemaniku hingga sini hari nanti. Tanganku tak hentinya mengutak-atik tuts-tuts keyboard laptopku yang sudah aus dan hampir copot, tapi aku tak menghiraukannya, aku menikmati semuanya apa adanya demi menjaga keseimbangannya agar tidak sampai stres.
************
Tuhan, ijinkan aku tidur sejenak saja dan bangunkan aku esok lagi dalam keadaan yang masih bernapas. Aku membiarkan diriku terlentang dengan posisi yang paling nyaman dan menikmati malam yang teduh tanpa mengotori pikiranku dengan segala kesibukan yang masih saja harus kukejar. Suara batuk ayah masih kudengar dari bilik sebelah. Aku tau ayahku seharian tak cukup istirahat karena harus bertahan dan berjuang keras untuk aku dan isi rumahku.
Aku menarik napas panjang menikmati suara ibu yang sesekali menenangkan suaminya dan adikku yang terjaga. Ohh, aku butuh sejam saja untuk bisa pulas dan dapat bangun lagi tuk menjalani apa yang menjadi kewajibanku. Aku tidur dengan menggenggam seutas Rosario pemberianmu dan membiarkan mataku terpejam dan lelap.