• Hari ini: February 24, 2026
Nasional

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

BILANG SESAMAMU YANG SEDANG SUSAH APA SAJA: TERIAK NAMA YESUS LEBIH KERAS  UNTUK MENOLONGMU. SI BUTA TUA RENTA SAJA BISA, APALAGI KAMU?

(RP. Frans Funan, SVD)


"Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin ia kuat berseru. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." (Luk 18:39).

    Sebagai manusia pantas dan layak kita mengakui bahwa kesusahan yang tidak pernah diprogram dalam hidup pasti saja sesekali hadir menimpa kita. Entah kesusahan karena bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, taufan, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, bukit tanah bergeser, bukit batu terbelah dan meluncur dari ketinggian menuju laut (kejadian bukit Wateba- Atadei Lembata - NTT), dll.

    Kesusahan karena bencana alam pasti saja makan korban. Kesusahan lain dalam kaitan dengan kesehatan fisik entah sakit permanen atau cacat tetap dll. Dalam kondisi perih karena keterbasan fisik, teriaklah  sekuat kamu bisa, minta tolong. Mungkin Tuhan sedang dekat, sedang lewat dan ada orang beritahu anda untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Atau teriakan, seruan sekuat tenaga dengan iman kepada Tuhan, akan menggugah hati kudus-Nya untuk menolongmu. Karena imanmulah yang menolong, membantu dan menyelamatkanmu sendiri.

    Mari sesuaikan dirimu dengan pengenalan privat Bartimeus si buta tua renta dengan Yesus. Saat dia dengar langkah kaki dan suara-orang banyak lewat ia bertanya, "Ada apa itu?" Orang beri tahu dia, "Yesus orang Nazaret, sedang lewat." Ketika dengar nama Yesus si buta itu pun berubah sikap. Dari seorang pengemis buta tua yang malu-malu, berkata saja suara hampir tak kedengaran, malu bertanya hanya pasrah pada apa yang terjadi dan berlalu tanpa ia hiraukan asalkan sepeser belas kasihan orang dia dapat untuk bisa mengisi perutnya hari itu, sudah cukup baginya, selebihnya sesuai situasi fisiknya yang buta dia tidak peduli.

    Tapi kini ketika ia dengar nama Yesus ia berubah total dari sikap malu-malu jadi pemberani meneriaki Nama Sang Mesias berbelas kasih yang sedang lewat dan akan berlalu tanpa akan kembali lagi. Seruan keras spontan keluar dari mulutnya, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Orang melarang dia diam. Ia seakan tak gubris momen keselamatan ini akan sirna tanpa makna bagi orang banyak itu dan terutama bagi dirinya sendiri. 

    Maka  imannya akan Yesus semakin gila dan memaksa seluruh energi dirinya berteriak  menembus massa hingga telinga Yesus. Ia sadar dan mau memaknai saat penuh rahmat ini dengan massa yang ada bahwa Yesus Mesias dapat melakukan hal ajaib apa saja yang dibutuhkan agar menolong manusia berdosa selamat.

    Kata kuncinya iman. "Imanmu telah menyelamatkan dikau." Apakah massa yang ikut Yesus itu punya iman kepada-Nya? Atau hanya ikut ramai-ramai saja, ragu-ragu, dan tak punya pilihan iman apa pun? Kita butuh orang lain untuk membantu bertumbuh dan berkembang dalam iman kepada Yesus. Selain itu berjuang datang pada Yesus pun tidak gampang, banyak halangan, tantangan dan cobaan. Tantangan dari luar mungkin orang melarang Anda. Dari dalam: tugas banyak, pekerjaan, hiburan, kepentingan keluarga besar, main hp, dll.

    Kita butuh bantuan orang lain untuk beri tahu kita tentang kehebatan belas kasih Tuhan memelekan mata iman kita yang buta terhadap dosa dan banyak membawa beban kesusahan tak terpikulkan dalam ziarah hidup ini. Ingat bahwa kerinduanmu karena iman punya kontak batin otomatis dengan Yesus yang juga sedang rindu bertemu dengan dirimu. Yesus mau menyelamatkan dirimu dari dosa buta iman akan Dia, dan Yesus juga mau supaya Anda sehat iman saat ini dan menjadi murid-Nya keren dan wow di masa depan. Tuhan Yesus memang hebat tapi Tuhan Yesus juga rindu dan mau Anda juga hebat di masa depan.

    Karena itu misimu kini, katakan kepada sesamamu yang sedang susah dan duduk tertunduk sendiri di sana sambil mengorek tanah,  bahwa Yesus ada rindu agar kamu baik, sehat dan bahagia kini dan kelak. Sebarkan misi belas kasih ini di antara kamu seiman, biarlah iman akan Anak Daud Sang Mesias menguasai kita dan semakin banyak orang mengalami kasih Tuhan dalam hidup secara prinadi dan bersama-sama.

    Maka percaya bahwa nama Tuhan semakin luas dimuliakan dan rahmat sukacita meliputi banyak insan beriman. Hidup pribadi, hidup bersama jadi terberkati. Ok.

    Selamat beraktifitas hari dengan seruan: Hei teman  Yesus mau tolong kamu, kenapa susah? Tuhan berkatimu semua. (Arso Kota, Senin, 181124).

Opini

SEBUAH JEJAK MENJADI SEJARAH

SEBUAH JEJAK MENJADI SEJARAH


Dalam sejarah Gereja Katolik, Santo Dominikus (1170–1221) tidak sekadar dikenang sebagai pendiri Ordo Praedicatorum (Ordo Pewarta/Dominikan) tetapi sebagai arsitek spiritualitas intelektual Gereja yang menyatukan doa, studi dan misi dalam satu tarikan napas. Ia lahir di Caleruega, Spanyol, dalam dunia yang dilanda krisis teologis dan sosial. Abad ke-12 dan ke-13 ditandai oleh munculnya gerakan-gerakan dualistik seperti Albigensianisme yang menantang ajaran Gereja tentang inkarnasi dan kebaikan ciptaan. Dalam konteks inilah Dominikus tampil bukan sebagai polemis agresif, melainkan sebagai pewarta yang bersenjata doa, argumentasi teologis dan kesaksian hidup sederhana (Brooke, 1967; Drane, 1891).

    Sebagaimana ditegaskan Bedouelle (1987), kekuatan Dominikus terletak pada integrasi antara kontemplasi dan misi. Ia memahami bahwa pewartaan yang otentik lahir dari kedalaman doa. Karena itu, ungkapan yang secara tradisional dikaitkan dengannya, "Arm yourself wit prayer rather than a sword," artinya persenjatai dirimu dengan doa, bukan dengan pedang. Kata-kata ini, bukan sekadar nasihat asketis, melainkan pernyataan teologis bahwa kebenaran tidak dipaksakan melalui kekuasaan tetapi diwartakan melalui kesaksian hidup.

    Demikian pula ungkapan, "Speak only of God or with God," artinya berbicaralah hanya tentang Allah atau bersama Allah, menunjukkan spiritualitas yang menyatukan hidup aktif dan kontemplatif. Tradisi Dominikan merumuskannya dalam adagium klasik, "Contemplari et contemplata aliis tradere," artinya merenungkan dan membagikan buah permenungan (Ashley, 2029).

    Kata kunci dari seluruh spiritualitas ini adalah Veritas. Namun Veritas dalam pemahaman Dominikan bukan sekadar konsep intelektual melainkan kebenaran yang menyelamatkan, yang ditemukan melalui studi, diuji dalam doa dan dibagikan dalam khotbah (Bedouelle, 2014).

Kasih Universal dan Keberanian Iman    

    Dua ungkapan lain yang secara tradisional dilekatkan pada Santo Dominikus memperlihatkan kedalaman dimensi pastoral dan eksistensial spiritualitasnya, "Have charity for all, hatred for none," artinya kasihilah semua orang, jangan membenci siapa pun.Kalimat ini bukan sentimentalitas rohani melainkan prinsip teologis yang radikal. Dalam konteks abad pertengahan yang sarat konflik doktrinal, Dominikus memilih jalan dialog, kehadiran dan kesaksian hidup miskin. Ia menolak membenci mereka yang berbeda pandangan. Dalam terang Injil, ia melihat bahwa kebenaran tanpa kasih berubah menjadi kekerasan dan kasih tanpa kebenaran berubah menjadi kompromi kosong.

    Bagi umat di Timor, yang hidup dalam masyarakat plural, dengan sejarah sosial dan politik yang kompleks, seruan ini menjadi sangat relevan. “Kasihilah semua orang” berarti membangun persaudaraan lintas suku, bahasa dan latar belakang. “Jangan membenci siapa pun” berarti menolak dendam sejarah dan membuka ruang rekonsiliasi. Di sinilah Veritas menemukan wajahnya yang paling manusiawi yakni kasih yang mempersatukan.

    Ungkapan berikutnya menyentuh dimensi kepercayaan total kepada Allah, "Do not be afraid. God will provide," artinya jangan takut. Tuhan akan menyediakan. Secara historis, Ordo Dominikan lahir sebagai ordo pengemis (mendicant order) yang menggantungkan hidup pada penyelenggaraan ilahi. Seruan ini bukan retorika melainkan pengalaman nyata. Dalam ketidakpastian ekonomi dan sosial, para pewarta tetap melangkah karena percaya bahwa misi adalah milik Allah.

    Bagi Gereja di Timor, yang sering bergulat dengan keterbatasan ekonomi dan tantangan geografis, kata-kata ini menjadi sumber penghiburan dan keberanian. “Jangan takut” bukan berarti menutup mata terhadap realitas tetapi menghadapi realitas dengan iman. “Tuhan akan menyediakan” bukan alasan untuk pasif, melainkan dasar untuk bekerja dengan harapan. 

Inkarnasi Karisma Dominikan di Timor

    Spiritualitas ini tidak berhenti di Eropa. Kajian sejarah misi Katolik di Asia Tenggara menunjukkan bahwa para misionaris Dominikan Portugis merupakan kelompok religius Katolik pertama yang hadir secara sistematis di wilayah Solor dan Timor pada abad ke-16 (F. J., 2020). Mereka datang bukan sekadar sebagai bagian dari arus ekspansi maritim Portugis, tetapi sebagai pewarta yang membaptis, membangun komunitas dan mengembangkan pendidikan iman.

    Di wilayah ini, Veritas berjumpa dengan budaya lokal. Gereja menjadi ruang pembentukan identitas sosial dan religius. Dalam periode konflik politik dan integrasi Indonesia–Timor Timur (Sekarang, Timor Leste), Gereja sering berfungsi sebagai pelindung martabat manusia (Smythe, 2004). Di tengah ketegangan sejarah, prinsip, “Have charity for all, hatred for none” (Kasihilah semua orang, jangan membenci siapa pun) menemukan maknanya yang konkret, Gereja berdiri bukan untuk membenci melainkan untuk merangkul.

    Doa rosario, ketekunan dalam pendidikan iman dan ketahanan komunitas Katolik di Timor mencerminkan spiritualitas yang menggabungkan doa, studi dan kasih universal. Dengan demikian, karisma Santo Dominikus benar-benar berinkarnasi di tanah yang jauh dari Caleruega.

Buah Sejarah yang Bertumbuh

    Keuskupan Atambua merupakan buah dari proses panjang inkulturasi iman di Timor Barat. Ia lahir dari sejarah misi, pendidikan dan pembinaan umat yang berkelanjutan. Seperti ditegaskan Ashley (2009), dinamika pewartaan Dominikan selalu mengarah pada pembentukan Gereja lokal yang matang, reflektif dan bertanggung jawab atas perutusannya sendiri.

    Dari rahim sejarah ini lahir para imam dan pemimpin Gereja, termasuk Mgr. Dominikus Saku, Pr. Nama “Dominikus” yang beliau sandang bukan sekadar identitas personal melainkan simbol kesinambungan spiritual: dari semangat Veritas abad ke-13 menuju pelayanan pastoral yang kontekstual di abad ke-21. Dalam dirinya, warisan doa, studi dan pewartaan menemukan aktualisasi konkret di tengah umat perbatasan.

    Visi yang disepakati dalam Musyawarah Pastoral (Muspas) IX, “Umat Allah Keuskupan Atambua yang cerdas dan sejahtera dalam semangat sinodalitas,” merupakan kristalisasi arah pastoral yang visioner sekaligus realistis.

    Cerdas menunjuk pada umat yang beriman secara reflektif, memahami ajaran Gereja, mampu membedakan yang benar dan yang keliru serta mengintegrasikan iman dengan kehidupan sosial. Ini selaras dengan spiritualitas Dominikan yang menempatkan studi dan pembinaan intelektual sebagai bagian dari kedewasaan iman. 

    Sejahtera tidak hanya berarti kecukupan material, tetapi kesejahteraan integral: spiritual, moral, sosial dan ekonomi. Gereja dipanggil tidak hanya membaptis tetapi juga memberdayakan.

    Dalam semangat sinodalitas berarti berjalan bersama: uskup, imam, religius dan awam, dalam partisipasi dan tanggung jawab bersama. Sinodalitas bukan sekadar metode organisasi melainkan cara menjadi Gereja: saling mendengarkan, saling menopang dan bersama-sama membedakan kehendak Allah.

    Ketika pelayanan gembala menjangkau hingga Kapela kecil Santo Dominikus di Oelnitep, simbolisme sejarah menjadi nyata. Di kapela sederhana itu, visi besar diterjemahkan dalam tindakan kecil: pendidikan iman, solidaritas sosial dan pendampingan umat. Di sana, umat belajar mengasihi tanpa kebencian, tidak takut menghadapi keterbatasan dan percaya bahwa Tuhan selalu menyediakan jalan.

    Dengan demikian, Keuskupan Atambua bukan sekadar entitas administratif melainkan komunitas iman yang terus bertumbuh, cerdas dalam iman, sejahtera dalam kehidupan dan sinodal dalam persekutuan. 

Veritas Menjelma di Pah Meto

    Timor sering digambarkan sebagai tanah yang keras dan kering. Namun justru dalam tanah seperti itulah iman berakar kuat. Sejarah Dominikan menunjukkan bahwa kebenaran tidak tumbuh melalui dominasi melainkan melalui pendidikan dan kesabaran (Drane, 1891).

    Tradisi intelektual Dominikan, yang melahirkan tokoh seperti Thomas Aquinas, membuktikan bahwa iman dan akal tidak bertentangan (Ashley, 2009). Di Timor, Gereja menjadi pusat pembentukan moral dan sosial. Di ruang-ruang sederhana, umat diajar untuk berpikir, berdoa dan mengasihi.

    Ketika seorang uskup bernama Dominikus melayani hingga ke Oelnitep, kita menyaksikan lingkaran sejarah yang indah: seorang santo yang mengajarkan kebenaran melalui doa dan studi, sebuah ordo yang membawa Injil melintasi samudra, sebuah Gereja lokal yang melahirkan pemimpin dari rahimnya sendiri.

    Di sana, Veritas bukan lagi sekadar semboyan Latin tetapi realitas hidup: membimbing keluarga, menguatkan yang lemah, menanamkan harapan.

Kebenaran yang Dihidupi

    Warisan Santo Dominikus bagi Gereja di Timor bukan terutama tentang kejayaan masa lalu melainkan tentang spiritualitas yang terus hidup. Jika ia berkata, "Arm yourself wit prayer rather than a sword," (persenjatai dirimu dengan doa, bukan dengan pedang), maka umat di Timor dipanggil untuk memilih doa daripada kekerasan. Jika ia berkata, “Have charity for all, hatred for none” (Kasihilah semua orang, jangan membenci siapa pun), maka umat dipanggil untuk membangun persaudaraan tanpa kebencian. Jika ia berkata, "Do not be afraid. God will provide," (Jangan takut. Tuhan akan menyediakan), maka umat dipanggil untuk melangkah dengan iman di tengah keterbatasan. 

    Dari Caleruega ke Oelnitep, dari abad pertengahan ke zaman modern, benang merahnya tetap sama yakni iman yang dipikirkan dengan akal, dihidupi dalam doa dan dibagikan dalam kasih. Dan di situlah makna terdalam warisan Dominikus bagi Gereja di Timor: kebenaran bukan diteriakkan untuk menang melainkan dihidupi untuk menyelamatkan. (Sebuah catatan kecil dari batas kota, KU, 24/02/2026).

Cerpen

AGUSTUS MENGAWALI, NOVEMBER MENGAKHIRI


    Di sudut kamar gelap di sebuah bangunan tua bercat merah maron di pelosok hutan, aku terduduk lemas. Dengan tubuh yang letih, aku membungkukkan badan, menatap sebuah buku bersampul merah tua yang terletak di atas map biru, bersandar pada dinding berwarna kuning pucat itu.

    Perlahan, jari-jariku yang bergetar membuka halaman pertama. Air mataku menetes ketika melihat tulisan berukir indah: “There are beautiful stories with you.” Kusandarkan kepala pada tembok batako yang dingin. Ada cerita indah di balik semua ini, kisah yang pernah memiliki pemeran utama… yang kini entah di mana.

    Hari-hari yang telah berlalu selalu menyisakan cerita, menjadi kenangan yang menua bersama waktu. Ada banyak rasa ketika mencoba berdamai dengan masa lalu: marah, sedih, kecewa, menyesal. Semuanya hadir kembali setiap kali mengingatnya.

    Aku membuka halaman berikutnya. 19 Agustus 2024. Tanggal manis itu kembali mengingatkanku padanya. Saat pertama kali menjumpainya, dengan kemeja berkerah bergaris putih, jeans hitam, tubuh tinggi kurus, rambut keriting hitam tebal, dan mata yang sama-sama indah, pandangan itu membuatku ingin terus memilikinya.

    Tanpa sadar, kami menjadi dua sejoli yang dekat: sahabat, teman curhat, dua orang yang saling menyukai dan saling membutuhkan. Kami menjalani suka duka bersama, berbagai cobaan kami lewati dengan kasih hingga tumbuh cinta yang begitu dalam.

    Enam bulan kami menghidupi kebersamaan itu. Hingga suatu hari, jarak memisahkan kami. Penantian akan sebuah kepastian terasa terlalu panjang. Perasaannya perlahan redup, kesalahan terjadi, dan cobaan itu menghancurkan segalanya.

    Pengkhianatan, kekecewaan, kesedihan, dan air mata bercampur menjadi satu. Aku terisak mengingat hari ketika aku dikhianati. Bagaimana mungkin? Tujuan, harapan, kebahagiaan yang kami bangun runtuh seketika. Sosok yang selalu kubanggakan itu hilang ditelan bumi, tanpa kabar. Semua terjadi karena kami mempertahankan ego, siapa benar, siapa salah.

    Aku berusaha kuat. Mencoba melupakan kenangan pahit itu dan berdiri sendiri tanpa terburu-buru membuka lembaran baru. Akan kunikmati setiap perih hingga habis, akan kujaga hati yang retak ini agar tak terluka lagi.

    Aku tidak membencinya. Aku mencoba berdamai dengan kenangannya. Hari kemarin adalah pelajaran, bukan penghalang.

    Rumah kecil tua itu pernah menjadikan kami satu, seperti magnet, begitu katanya saat awal mengenalku. Aku bagai magnet yang menarik dari berbagai arah, dan aku pun ingin terus bersamanya. Tetapi apa dayaku? Rumah kecil itu pula yang membawa kami menjauh dari kenyataan. Ia pernah hilang, namun kembali. Itu nyata.

    Janji, niat, tekad, harapan, air mata, dan kenangan tersimpan rapi di dalamnya. Lalu bagaimana denganku bila kelak ia bersama orang lain? Rasanya mustahil. Namun bila takdir berkata lain, aku memasrahkan segalanya demi kebahagiaan masing-masing. Kami pernah berdamai dengan keadaan, berusaha berjalan bersama, saling merangkul untuk satu tujuan.

    Niatku sederhana: tetap bersamanya. Laki-laki baik, titipan Tuhan itu, pernah kembali padaku. Aku berjanji menjaga dan menemaninya dalam hari-hari penuh suka dan duka.

    Kini ia kembali dengan perasaan yang sama, membawa sejuta janji untuk sebuah status yang resmi. Ia datang tanpa paksaan, melepaskan ego demi kebahagiaan bersama, ingin melihat cinta yang sesungguhnya.

    16 Februari 2025, pukul 13.12. Hubungan itu resmi, dengan kesepakatan untuk saling menopang dalam masa tersulit sekalipun. Jika kelak apa pun terjadi, inilah kisah kami. Semoga semuanya baik.

    19 Agustus kembali mengingatkan pada sebuah hubungan rumit yang perlahan membaik. Aku tak mengharapkan banyak, yang penting saling memahami dan mau berjuang bersama.

Namun kisah itu kembali melukaiku. Aku tak sanggup menahan perlakuannya. Keegoisan dan kesombongannya membuatku berhenti di sini. Rindu akan pecah, air mata tumpah, rasaku hilang entah ke mana.

    Jujur, aku mencintainya. Tapi aku sadar, aku bukan tujuan hidupnya. Bila Tuhan berkenan, biarlah ia berbahagia sekali lagi.

    Pesan terakhirku untuknya, semoga bumi dan alam selalu melihat bahwa di satu sudut sunyi, ada aku yang diam-diam ingin melihatmu menang atas hidupmu sendiri.

    Entah itu impian yang belum tercapai, cita-cita yang kau kejar meski dunia tak ramah, atau harapan kecil yang kau bisikkan sebelum tidur, semoga semuanya berpihak padamu dengan lembut.

    Aku tak lagi ikut dalam langkahmu, prosesmu, keputusanmu. Namun aku tetap menitipkan doa di setiap malam yang sunyi, di setiap keluh yang terhembus angin. Semoga kau diberi cukup tenaga untuk bertahan, cukup sabar untuk menunggu, dan cukup bahagia untuk merasa layak dicintai kehidupan.

    Dan bila suatu hari kau benar-benar menang, semoga ada suara hangat yang berbisik pelan di hatimu bahwa pernah ada seseorang, jauh di sini, yang sepenuhnya percaya padamu, pada prosesmu, pada keputusanmu.

    Aku… sosok perempuan kecil yang kau temui di sudut gedung tua berwarna merah maron itu, tepat pada 19 Agustus 2024. Kutitipkan rintihanku sebagai dukungan terakhir untuk perjalananmu. (Marcella Ceunfin,16)

Daerah

Legio Maria Paroki Naesleu Rayakan NATARU di Kapela Oelnitep

Kefamenanu-Oelnitep, Kapela St. Dominikus Oelnitep menjadi tempat berlangsungnya Perayaan Ekaristi Natal dan Tahun Baru bersama para Legioner Kuria Legio Maria Paroki St. Yohanes Pemandi Naesleu, Jumat (16/01/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 40 legioner yang tergabung dalam tujuh presidium, sekaligus menjadi momentum penting untuk menyusun Program Kerja Kuria selama satu tahun ke depan.

    Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, para legioner terlebih dahulu mengikuti doa bersama dengan mendaraskan lima peristiwa Rosario. Doa dipimpin secara bergantian oleh lima anggota presidium, masing-masing dengan ungkapan doa yang khas dan reflektif sebagai bentuk persiapan batin sebelum perayaan liturgi.

    Perayaan Ekaristi dimulai pukul 09.30 WITA dan dipimpin oleh Paul Wain, SVD. Dalam kata pembuka, Pater Paul menyampaikan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada seluruh legioner, seraya mendoakan agar kasih Tuhan senantiasa menyertai mereka dalam doa dan karya pelayanan.

    Lebih lanjut dalam homilinya, Pater Paul menegaskan bahwa menjadi anggota Legio Maria berarti dipanggil untuk meneladani sikap Bunda Maria: seorang perempuan sederhana yang dengan penuh iman dan ketaatan menyerahkan diri pada kehendak Allah. Ia mengutip jawaban Maria dalam peristiwa Kabar Sukacita, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu,” sebagai teladan utama spiritualitas legioner dalam hidup dan pelayanan.


    Perayaan Ekaristi berlangsung dengan khidmat hingga berkat penutup. Sebelum berkat akhir, para legioner bersama-sama mendaraskan Doa Katena dalam bentuk nyanyian yang dipimpin oleh Ketua Kuria. Usai perayaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Pater Paul dan Ketua Kuria Paroki St. Yohanes Pemandi Naesleu, Elisabeth Bikolo.

    Dalam sambutannya, Ibu Elisabeth menekankan pentingnya perencanaan program kerja yang fokus dan realistis agar seluruh kegiatan dapat berjalan dengan baik. Ia juga mengajak para Pengurus Lingkungan dan KUB untuk mendukung karya Legio Maria dengan mendorong umat lainnya agar bergabung dalam kelompok ini. Menurutnya, kebersamaan dan kesetiaan dalam doa, seperti Doa Katena yang didoakan tanpa terputus, menjadi sumber kekuatan utama dalam pelayanan.

    Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Perancangan Program kerja Kuria Paroki Naesleu untuk tahun 2026, yang dipimpin langsung oleh Pater Paul. Beberapa program yang direncanakan antara lain rekoleksi tahunan (Natal dan Paskah), kunjungan silaturahmi antar presidium, tanggungan koor di Kapela Oelnitep dan Kapela Naen, misa syukur ulang tahun setiap presidium, pengukuhan anggota dua kali setahun (Juni dan November), masa percobaan tiga bulan bagi anggota baru, partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan paroki termasuk misa arwah serta ziarah umum pada bulan September yang dikaitkan dengan Bulan Kitab Suci Nasional melalui kegiatan sharing Kitab Suci.

Menutup seluruh rangkaian kegiatan, Ketua Kuria mengajak seluruh legioner untuk saling mendukung dan meneguhkan satu sama lain agar setiap program yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik, demi kemuliaan Allah dan pelayanan yang semakin berbuah bagi Gereja. (LEKO)

Internasional

Internasional

PAUS FRANSISKUS MEMPROMULGASIKAN ENSIKLIK BARU: "DILEXIT NOS", TENTANG HATI KUDUS YESUS

Dikutip dari Pena Katolik: Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik keempat kepausannya yang berjudul Dilexit Nos, pada hari Kamis 24 Oktober 2024, tentang cinta manusiawi dan ilahi dari hati Yesus Kristus.

Dilexit Nos, yang berarti ‘dia telah mengasihi kita’ dipromulgasikan pada tanggal 24 Oktober 2024.

Sebelumnya, Paus telah mengumumkan pada bulan Juni 2024, bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah dokumen tentang Hati Kudus Yesus. Ensiklik ini akan merenungkan cinta Tuhan yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya.

Paus Fransiskus kemudian menggambarkan Dilexit Nos tersebut sebagai sesuatu yang menyatukan refleksi berharga dari teks-teks magisterial sebelumnya dan sejarah panjang yang kembali ke Kitab Suci. Paus mengusulkan kembali kepada seluruh Gereja, devosi yang dipenuhi dengan keindahan spiritual ini.

“Saya yakin akan sangat bermanfaat bagi kita untuk merenungkan berbagai aspek kasih Tuhan, yang dapat menerangi jalan pembaruan gerejawi dan menyampaikan sesuatu yang berarti kepada dunia yang tampaknya telah kehilangan hatinya,” kata Fransiskus di akhir audiensi umumnya pada tanggal 5 Juni 2024.

Dilexit Nos tersebut diterbitkan di tengah perayaan ulang tahun ke-350 penampakan Hati Kudus Yesus kepada St. Margareta Maria Alacoque. Perayaan ini dimulai pada tanggal 27 Desember 2023 dan akan berakhir pada tanggal 27 Juni 2025.

Vatikan mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung pada hari Kamis, 24 Oktober, tentang ensiklik: Dilexit Nos. Konferensi pers ini akan dihadiri Mgr. Bruno Forte, seorang teolog Italia dan anggota Dikasteri Ajaran Iman. Ada juga Suster Antonella Fraaccaro, kepala ordo religius Italia Discepole del Vangelo.

Dilexit Nos menjadi ensiklik keempat Paus Fransiskus setelah Fratelli Tutti, yang diterbitkan pada tahun 2020, Laudato Si’ yang diterbitkan pada tahun 2015, dan Lumen Fidei, yang diterbitkan pada tahun 2013. (AES)


Sumber Berita: Paus Fransiskus akan Mempromulgasikan Ensiklik Baru: Dilexit Nos, tentang Hati Kudus Yesus - Pen@ Katolik

Puisi

HARI INI, BARU

Hari ini
Waktu pura-pura berhenti
Tahun lama pamit sopan
Tanpa drama
Tanpa tuntutan cicilan janji

Detik tetap rajin bekerja
Sementara makna datang santai
Menepuk bahu kita
Di ruang sunyi
Yang jarang dibuka

Luka tak lagi protes
Ia naik pangkat jadi guru
Mengajari hati
Cara bernapas
Tanpa berbohong
Syukur ikut duduk
Diam
Cukup tahu diri

Semua yang tercecer
Keringat tanpa tepuk tangan
Doa yang loading-nya lama
Kata yang tersangkut di tenggorokan
Kasih yang datang setelah sadar
Kini dirapikan
Dalam ingatan
Yang belajar memaafkan

Kita berdiri jujur
Pernah bingung
Pernah salah belok
Pernah mundur pelan-pelan
Dan hari ini kita sepakat
Rapuh itu manusiawi
Gagal cuma cara hidup mengajar

Satu halaman ditutup
Bukan dibuang
Makna baru dibuka
Kita belum jadi versi final
Masih proses pematangan

Malam menjaga sisa terang
Jiwa pulang sebentar
Cek ulang harap
Yang hampir lupa alamat

Pagi pun datang
Tahun baru mengetuk
Tanpa pidato panjang
Hanya senyum kecil dan pesan singkat
“Jalan saja lagi
Lebih tenang
Lebih jujur”

Kita pun melangkah
Membawa api kecil itu
Sempat redup
Sempat goyah
Tapi bandel
Tetap menyala
Buat menerangi
Awal yang baru


Coretan kecil awal tahun, dari pinggir Kota Kefa 01012026KU


Renungan

ANTARA TAMAN DAN PADANG

ANTARA TAMAN DAN PADANG

(KU)

    Hidup iman kita bergerak di antara dua lanskap atau situasi yakni taman dan padang. Di taman, ada tanaman. Ada yang ditanam dan yang bertumbuh. Ada akar yang mencengkeram tanah, ada buah yang menggantung ranum. Dalam Kitab Kejadian, Allah membentuk manusia dari debu dan menghembuskan napas kehidupan. Manusia tidak hanya dijadikan tetapi ia dipercayai. Ia ditempatkan di taman yakni ruang yang teratur, cukup, indah. Di sana ada relasi, ada batas, ada sabda yang menjaga.

    Namun di taman juga ada pilihan. Hawa mendengar bisikan yang menanamkan curiga. Adam ikut mengulurkan tangan. Di tengah kelimpahan, hati bisa merasa kurang. Di tengah keindahan, manusia bisa ingin lebih dari sekadar menjadi ciptaan. Dosa lahir bukan dari kekosongan melainkan dari keinginan mengambil alih.

Lalu situasi itu berubah.

    Jika di taman ada tanaman, di padang ada bentangan. Jika di taman ada buah, di padang ada batu. Jika di taman ada teduh, di padang ada terik. Padang tidak menawarkan apa-apa selain kejujuran. Padang tidak menumbuhkan daun untuk menutup rasa malu. Ia hanya menyisakan diri kita, apa adanya.

    Di padang gurun itulah Yesus berdiri. Lapar, sendiri, dicobai. Jika manusia pertama jatuh di taman yang subur, Yesus menang di padang yang gersang. Ia tidak mengubah batu menjadi roti. Ia tidak memamerkan kuasa. Ia tidak menukar kesetiaan dengan kemuliaan sesaat. Di tempat yang tidak menumbuhkan apa-apa, Ia menumbuhkan ketaatan.

    Padang ternyata bukan ruang kegagalan, melainkan ruang pemurnian. Di sana akar iman diuji: apakah kita percaya hanya ketika diberkati, atau juga ketika ditanggalkan? Apakah kita mencintai Allah karena taman-Nya, atau karena Dia sendiri?

    Rasul Paulus dari Tarsus dalam Surat kepada Jemaat di Roma menegaskan, melalui satu orang dosa masuk; melalui satu orang rahmat berlimpah. Adam membuka pintu keterpisahan. Kristus membuka pintu pemulihan. Sejarah keselamatan bergerak dari taman yang tercemar menuju padang yang ditebus.

    Kita mengenal keduanya. Ada musim taman, ketika doa terasa manis, hidup terasa rapi dan harapan bertunas. Tetapi ada juga musim padang, ketika doa terasa kering, usaha seperti menabrak batu dan langit seakan membisu.

    Ironisnya, kita sering lengah di taman dan justru matang di padang. Taman menguji rasa syukur, padang menguji kesetiaan. Taman menumbuhkan kenyamanan, padang menumbuhkan keteguhan.

    Prapaskah mengajak kita berani memasuki padang. Berpuasa agar tidak diperbudak keinginan. Berdoa agar sabda lebih kuat daripada bisikan. Berbagi agar hati tidak mengeras seperti batu.

    Antara taman dan padang, Allah tetap setia. Di taman Ia mencari manusia yang bersembunyi. Di padang Ia meneguhkan Putra yang taat. Di taman manusia berkata, “Aku takut.” Di padang Putra berkata, “Aku percaya.”

    Maka apa pun keadaan hidup kita, apakah sedang seperti taman yang hijau atau padang yang gersang, tetaplah percaya. Sebab bukan di taman kita belajar setia dan bukan di padang kita kehilangan Allah. Justru dalam kesetiaan, taman dan padang sama-sama menjadi jalan menuju-Nya. (Renungan Prapaskah I, Kapela Oelnitep)

Serba Serbi

Serba Serbi

KEJUJURAN MENGANTAR PERTUMBUHAN

Setiap tahun akademik menawarkan sebuah cermin. Namun, kali ini cermin itu bukan buatan dosen, bukan dari nilai angka, melainkan dari kejujuran mahasiswa sendiri di menjelang akhir Semester Ganjil. Ketika mereka berbicara tentang diri mereka, tentang rasa malas, gugup, takut tampil, distraksi gawai, kurang manajemen waktu, kehilangan fokus, tekanan keluarga, bahkan pergulatan batin yang paling sunyi, yang muncul bukanlah daftar kesalahan, tetapi peta batin yakni sebuah gambaran tentang siapa mereka sebenarnya dan ke mana mereka ingin melangkah.

Jika kita membaca data-data evaluasi diri secara jernih, kita melihat bahwa masalah mahasiswa bukanlah masalah akademik semata. Yang tampak justru lebih dalam yakni kegugupan yang tak terucapkan, kebiasaan menunda yang menahun, kehilangan arah karena distraksi digital, konflik emosional yang menahan pertumbuhan, keterbatasan sarana, harapan keluarga yang besar dan perjuangan untuk menemukan ritme belajar yang sehat.

Namun, di balik kelemahan-kelemahan itu, ada sesuatu yang sangat kuat yakni kesadaran diri. Kesadaran bahwa ada hal yang perlu diperbaiki adalah awal dari kedewasaan.

1. Pelajaran Besar dari Data

Seluruh refleksi mahasiswa memunculkan tiga pola mendasar. Pertama, masalah bukan pada kemampuan tetapi pada pengelolaan diri. Mayoritas menyatakan bisa, tetapi tidak siap. Bisa, tetapi tidak fokus. Bisa, tetapi tidak dilakukan. Ini menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya soal materi kuliah melainkan soal habit formation, membentuk kebiasaan belajar yang kecil, konsisten dan berulang.

Kedua, kecemasan tampil adalah luka belajar yang sering tak terlihat. Banyak yang gugup, tertawa karena tegang atau merasa “tidak pantas”. Ini bukan kekurangan mentalitas tetapi tanda bahwa mereka membutuhkan ruang aman untuk berlatih keberanian.

Ketiga, distraksi digital adalah musuh terbesar generasi ini. Beberapa mahasiswa sadar, beberapa menyangkal, tetapi pola datanya jelas yakni HP adalah guru tanpa suara yang diam-diam mencuri waktu belajar.

2. Apa Maknanya?

Melihat kejujuran mahasiswa, kita diingatkan pada sebuah prinsip penting dalam teori perkembangan diri. Psikolog humanistik Carl Rogers pernah berkata, “The curious paradox is that when I accept myself just as I am, then I can change” (Paradoks yang menarik, ketika seseorang menerima dirinya apa adanya, barulah ia bisa berubah).

Dalam konteks ini, evaluasi diri bukan sekadar tugas. Itu adalah momen penerimaan diri, langkah pertama yang membuka pintu perubahan.

Mahasiswa yang mampu mengatakan seperti ini: “Saya malas…, Saya banyak main HP…, Saya takut berbicara di depan umum…, Saya kehilangan fokus…, Saya ingin berubah…,”sesungguhnya sedang melangkah ke wilayah baru pembentukan karakter yakni wilayah di mana kejujuran membuka jalan bagi transformasi dan pengakuan membuka ruang untuk pertumbuhan.

3. Titik Balik

Melalui data ini kita belajar satu hal penting bahwa perubahan tidak datang dari program besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari. Seperti, 10 menit membaca not, 15 menit menulis buku harian, mengganti scrolling dengan latihan singkat, berani maju sekali saja meski gugup, mengatur ulang prioritas, menetapkan waktu doa dan diam di tengah hiruk-pikuk.

Ini bukan daftar tugas, ini adalah praktik hidup. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya mencetak kemampuan tetapi menumbuhkan manusia.

4. Puncak Refleksi

Di tengah kelemahan dan pergulatan yang tampak dalam data, kita diingatkan bahwa proses belajar sesungguhnya adalah perjalanan spiritual.

Perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, dan Tuhan sering bekerja melalui hal-hal kecil, melalui kejujuran, melalui kerinduan untuk menjadi lebih baik, melalui kesadaran bahwa “saya perlu ditolong”.

Maka biarlah momen evaluasi ini menjadi undangan untuk mengenal diri, menerima diri dan mempersembahkan diri untuk diperbarui. Seperti tertulis, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah” (Roma 12:2).

Ayat ini bukan hanya ajakan moral tetapi peta jalan pembentukan diri, pembaharuan budi, pengelolaan diri dan komitmen untuk tumbuh menjadi pribadi yang memantulkan kasih dan kedewasaan.

Kita bertumbuh bukan ketika segalanya mudah tetapi ketika kita berani jujur pada diri sendiri. Pertumbuhan dimulai saat keberanian mengalahkan kenyamanan, dan kejujuran mengalahkan alasan. Karena manusia matang bukan karena sempurna, tetapi karena mau mengolah lukanya menjadi kebijaksanaan. Maka hati yang terbuka pada kebenaran akan menemukan jalan pemulihan yang tak pernah dibayangkan.

Teruslah belajar karena belajar sejati terjadi ketika kita berhenti membela diri dan mulai membentuk diri. Ingatlah bahwa kejujuran adalah pintu pertama menuju pertumbuhan. Terima kasih. Selamat dan teruslah berjuang. Sukses selalu.


**Catatan kecil dari area Air Menyamping, antara data-fakta-dan makna, akhir semester-tengah Desember 2025, KU.


Cerita Bersambung

Cerita Bersambung

MALAM JUMAT YANG PANJANG (Part. 5)

MALAM JUMAT YANG PANJANG

MUSIM SEMI DI TEPI SUNGAI GAVE DE PAU (Part 5)

Oleh: Lena Salu


    Terhitung sudah hampir tujuh bulan aku menjalani rutinitas perkuliahan dengan efektif sampai aku tak menyangka waktu terasa begitu singkat dan pendek. Kebiasaan nongkrong ngopi di pojok cafe dan pesta bareng teman-teman kampusku di klub-klub hampir tak pernah kudatangi. Mungkin aku takkan pernah merindukan momen-momen itu lagi, atau belum waktunya tuk kupikirkan sebagai salah satu SKS tambahan dalam roster harianku yang terus mengejarku untuk menyelesaikan tugasku yang hampir serumit rumus kalkulus. Yang ada sekarang di depanku hanyalah laptop ditemani tumpukan buku cetak beserta catatan-catatan yang tak pernah berkurang dari galeri kamarku.
    Kesibukanku semakin tampak gila membuatku bahkan tak sempat membaca balasan surat dari sahabatku...  yang sudah seminggu dihantar pak pos. Surat itu masih utuh tersegel rapi dalam keranjang surat di bilikku. Aku tak pernah melirik ke sana dan menyempatkan sedikit waktu tuk membacanya. Entah aku yang salah atau aku yang hampir lupa? Aku tak dapat menyalahkan pak pos. Entahlah, aku hanya bisa sedikit menyalahkan diriku yang sama sekali lupa akan hal ini.
    Kuraih amplop kecil itu dengan cepat dan lantas tak memperhatikan lagi perangko di depannya yang sebenarnya adalah hal pertama yang biasanya kulakukan sebelum membukanya setiap kali aku mendapatkan surat. Aku selalu mengoleksinya sebagai sesuatu yang paling berharga dan berarti bagiku. Kali ini aku melanggarnya dan cepat-cepat menggunting sudutnya. Kutarik surat kecil di dalamnya dan kaki ini ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Aku mendapati sebuah Rosario merah dan juga sebuah flashdisk Michy Mouse berbentuk lucu dengan gantungan hati.
    Waoooww kutarik napas dalam dan sedikit menahan diriku yang berguncang hebat. Apakah ini? Aku bertanya dalam hati dan menebak isi dari flashdisk tersebut. Mengapa baru hari ini aku termotivasi untuk membuka amplop ini? Sedangkan waktunya sudah hampir seminggu yang lalu. Ohhh aku membayangkan berapa lama ia menunggu balasanku dari jauh. Mungkinkah ia menyesalinya dan menganggapku manusia dan sahabat yang paling tidak beradab dalam pandangannya? Akankah ia menyeretku keluar dari daftar sahabatnya yang pernah ia jumpai di atas planet bumi ini dan membiarkanku mengembara tanpa tujuan yang pasti?
    Ohhh semoga tak seperti yang sedang berputar-putar  dalam fantasiku saat ini. Aku berharap ia masih menanti sebuah amplop kecil yang akan ku kirimkan beberapa hari kedepannya setelah aku menyelesaikannya. *****

 Teruntukmu Celine, di bilik penantian

Celine, semoga suratku menemuimu dalam keadaan yang sehat bugar dan menggemaskan. Aku memastikan kau tentunya selalu tersenyum lebar dan ringan langkah merayakan hari-hari perkuliahanmu setiap hari. Aku juga tak menolak bahwa ada terik matahari yang kadang menyengat di atas kepalamu kala banyak tugas dan agenda yang terus mengejarmu untuk lebih konsentrasi dan konsisten.

Celine, Ijinkan aku sedikit bercerita denganmu. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, namun tak terasa sudah hampir setengah dari semester ini aku tak pernah dibangunkan oleh suaramu dari ponselku. Aku berpikir mungkin kau sangat penting mengabariku agar tak kugelisahkan segalanya. Sesungguhnya sebulan yang lalu aku sedang berziarah ke Lourdes. Ada kesan yang sangat indah bagiku selama berada di sana. Ada doa yang penting dan sangat khusus kupersembahkan kepada Bunda Maria untukmu.

Aku tahu bahwa kau sangat mencintainya dengan selalu mendaraskan manik-manik Rosario yang indah dengan mengucapkan salam Maria. Aku selalu menghadirkanmu  disetiap langkahku dalam rombongan ziarah ke tempat-tempat suci yang kami kunjungi. Celine, Sebelum keberangkatanku ke Lourdes aku pernah menghubungi nomor ponselmu namun kau tak dapat dihubungi. Aku ingin mengambil cuti bersamamu ke Lourdes tetapi akhirnya aku hanya mengelus dada dengan sedikit berat hati tak dapat mengabulkan permintaanmu yang pernah kau minta pada hari ulang tahun pernikahan orangtuaku kali lalu. Aku tahu bahwa kau dan aku punya tabungan yang dapat kita pakai namun tak aku sangka bahwa kali ini aku gagal membawamu ke depan arcanya di Lourdes.

Celine, maafkan aku yang tak sempat mengabulkan permohonanmu, namun aku rasa bahwa kau akan terobati dan terhibur dengan sedikit cerita ziarahku yang kugoreskan dalam tulisan dan beberapa video klip sejak hari pertama hingga aku kembali. Aku berharap kau dapat sampai juga ke Lourdes setelah menikmati apa yang kau tonton dari apa yang kubagikan denganmu. Maafkan aku Celine, aku berharap kau tak membenciku tetapi membiarkan semuanya yang sempat tertunda ini menjadi doa yang indah dihadapan arcanya. Celine, kusudahi dulu suratku, aku berharap kau tak sungkan membalasnya agar dapat kupastikan dirimu baik-baik saja dan tak merasa kecil hati. Sekali lagi maafkan diriku. Yang terakhir ijinkan aku menyampaikan salam hormatku untukmu sekeluarga, semoga ayah, ibu dan adik-adikmu dalam keadaan yang tak menggelisahkanku. Aku selalu menantimu di setiap deretan hari dan tanggal yang menjanjikan balasan surat darimu.


NB; Kutulis suratku ini di tepi sungai Gave de Pau, tepat di bawah kaki gunung Pyrenees Perancis.

Aku yang mengasihimu dari jauh,

(.................)

********** 

Aku seakan tak punya gairah lagi tuk berdiri, sekalipun sapaan awal surat di atas tadi sedikit menghiburku.menghibur dan membuatku terkesima. Aku dikuatkan oleh percakapan yang secara tak langsung menjawabi teka-tekiku yang selama ini menjadi pertanyaanku tentang keberadaannya. Lebih buas lagi aku terperosok jauh dengan ungkapan aku tak dapat dihubungi. Entahlah aku tak mengerti kapan aku dihubunginya sebab akupun menantinya berkabar hampir sepanjang abad namun tak berdering sama sekali ponselku kalau aku dipanggilnya. Bingung tapi faktanya menyatakan kalau ada dis-komunikasi yang sempat terjadi.

Hampir tiga puluh menit aku hampir tiga puluh menit aku terjaga dalam diam dan membiarkan instrumen lagu Ave Maria Gratia Plena gubahan Schubert menemaniku menikmati foto dan video singkat yang dibuat dalam slideshow yang menarik dan mengagumkan. Aku seakan terhipnotis dan dibawa ke Lourdes menikmati keindahannya dengan beckroud langkah jutaan peziarah yang membludak. Ohhh, betapa aku sangat merindukan tempat suci itu.... Aku sangat merindukan akan kesejukan air suci yang mengalir di tempat Kudus itu. Aku ingin menaburkan mawar berwarna-warni yang kupetik dengan tanganku sendiri walaupun aku harus meminta ijin pada pemilik tamannya. Aku ingin menari dengan gaun panjang berlengan lebar di sepanjang pendakian dan bernyanyi merdu di alun-alun kota layaknya wanita Perancis berperawakan cantik dengan topi lebar dan kain penutup kepala yang halus.

Akkhh, aku benar-benar membungkus kerinduanku ini dalam diksi yang hanya dapat kunikmati dalam mimpiku yang panjang dan belum sempat jadi kenyataan, namun aku membiarkan cerita ini hidup dalam doa yang tiada henti. Aku telah berjanji di depannya untuk selalu mengirimkan mawar Rosario di setiap sembahyangku yang membawaku sampai ke Lourdes keseharianku.

Aku tentunya akan dibawa tuk membayangkan kembali peristiwa penampakan yang pernah terjadi di sana. Aku ingin membopong orang-orang sakit dan timpang tuk ditahirkan dari sakitnya dan membiarkan diriku yang sakit dijamahnya pula dengan sentuhan dan aliran air segar yang melewati darah dan nadiku dan menghembuskan nafas panjang dengan ucapan syukur yang tak terhingga.

*********

Aku tertidur di bawah lampu belajar yang belum sempat kumatikan dan mendapati diriku tersungkur di atas meja dengan tumpukan tugas yang masih harus kuselesaikan untuk di asistensi besok pagi. Terburu-buru diriku ke kamar kecil tuk menyeka wajahku dengan air kran dan berniat menyalakan lagi laptop. Kubiarkan volume musik dari tape recorder kesayanganku terus aktif walaupun kedengaran semakin berisik pertanda baterainya hampir habis, aku hanya memastikan penyiarnya belum kantuk dan menemaniku dengan suguhan lagu-lagu keroncong dan lagu-lagu lawas kesukaan ayah dan ibu pada jamannya kala itu.

Kesukaan mereka berdua pada lagu-lagu lawas dan keroncong pada akhirnya menular kepadaku juga, sampai-sampai aku mengoleksi lirik-lirik lagunya dari kertas yang terselip di setiap kaset pita di almari ruang tengah rumahku. Aku kembali menguras isi kepalaku menyelesaikan beberapa tugasku yang hampir rampung. Ku pikir aku tak sehebat Para filsuf tapi kali ini aku harus bisa berpikir sedemikian untuk menemukan jawaban dari setiap soal dosen matakuliahku.

Kubiarkan suratku tadi terbuka di bawah lilin yang bernyawa dengan sorotan lampu yang datar menerangi sudut doaku. Kubiarkan tatapan Sang Perawan mengawasi dan menemaniku hingga sini hari nanti. Tanganku tak hentinya mengutak-atik tuts-tuts keyboard laptopku yang sudah aus dan hampir copot, tapi aku tak menghiraukannya, aku menikmati semuanya apa adanya demi menjaga keseimbangannya agar tidak sampai stres.

************

Tuhan, ijinkan aku tidur sejenak saja dan bangunkan aku esok lagi dalam keadaan yang masih bernapas. Aku membiarkan diriku terlentang dengan posisi yang paling nyaman dan menikmati malam yang teduh tanpa mengotori pikiranku dengan segala kesibukan yang masih saja harus kukejar. Suara batuk ayah masih kudengar dari bilik sebelah. Aku tau ayahku seharian tak cukup istirahat karena harus bertahan dan berjuang keras untuk aku dan isi rumahku.

Aku menarik napas panjang menikmati suara ibu yang sesekali menenangkan suaminya dan adikku yang terjaga. Ohh, aku butuh sejam saja untuk bisa pulas dan dapat bangun lagi tuk menjalani apa yang menjadi kewajibanku. Aku tidur dengan menggenggam seutas Rosario pemberianmu dan membiarkan mataku terpejam dan lelap.

Video